Aku, sebut saja Narti, kerja sebagai baby sitter, sekali lagi baby SITTER, karena entah kenapa masih ada saja yang menyebutnya baby
'sister' di sebuah keluarga kaya dan terhormat di Jakarta, sebut saja
keluarga Pak Anton. Aku dilahirkan di sebuah kota di Jawa Timur.
Seperti
perempuan Jawa pada umumnya, aku berkulit sawo matang dan ada yang
manis di roman mukaku. Tinggi tubuhku sedang-sedang saja, 163 cm dan
berat tubuhku 54 kg, suatu proporsi yang cukup ideal, kata Mas Adi. Tapi
Aku bilang ideal kalau bobotku 52.
"Enggak,"
katanya lagi. Aku diminta mempertahankan bobotku segitu, karena :
"…yang 2 kilo itu ada di dadamu, dan aku menyukainya!" sergah Mas Adi.
"Jadi jangan diturunkan lagi bobotmu." Ia melanjutkan.
"Sialan..." protesku. Tapi dalam hati, aku menyukai pujian Mas Adi pada dadaku.
Aku
baru menyadari bahwa aku punya keistimewaan pada buah kembarku juga
dari Mas Adi, walaupun banyak temanku seasrama dulu yang sering bilang. Pantas
saja mata lelaki yang berpapasan denganku selalu tertuju ke sini
setelah sekejap memandang mukaku. Apalagi sewaktu aku berenang. Risih
juga dipelototin terus dadaku (sejujurnya, kadang juga ada rasa
bangga...) Oh iya, untuk menjaga bentuk tubuhku, Aku tiap hari Minggu
pagi berenang ke kolam renang di Hotel M, tempat terdekat dengan rumah
majikanku. Ditambah dengan push-up 3 kali seminggu di kamarku, tak
banyak hanya 10 -15 kali. Tapi asal dilakukan dengan rutin cukup
memperkuat otot-otot di dada. Itu semua aku lakukan untuk Mas Adi
tercinta.
Mas
Adi memang lelaki pertama yang mengisi hatiku, mudah-mudahan juga yang
terakhir. Bagi Mas Adi, aku adalah pacar yang ketiga. Perkenalanku dengan Mas Adi terjadi ketika aku masih bekerja di rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Setamat
sekolah keperawatan (setingkat SLA) di Jawa Timur, aku merantau ke
Jakarta cari kerja. Dia sedang menunggui sepupu perempuannya yang opname
di situ. Mas
Adi kerja di sebuah lembaga pendidikan komputer sebagai instruktur. Dia
juga kerja sambilan (part timer) sebagai programmer di beberapa
software house. Dia numpang tinggal di rumah pamannya, sedangkan aku
kost di rumah sederhana. Pada awalnya hanya teman biasa dan tak ada perasaan apapun terhadapnya. Dia
begitu penuh perhatian terhadapku dan amat menyayangiku. Tak ganteng
dan tak jelek amat, dia jujur dan terbuka, satu kata dan perbuatannya.
Inilah yang membuat aku jatuh cinta padanya.
Setelah pernyataan cinta kami ('jadian' kata ABG), cara pacaran kami sebatas ciuman dan raba-raba. Itu
kami lakukan hampir setiap minggu selama setengah tahun. Tempatnya bisa
di gedung bioskop, di kegelapan taman, atau di beranda kamar kost-ku.
Sesekali kalau situasi tempat kost memungkinkan, kami bermesraan di
kamarku, masih sebatas ciuman dan raba-raba dengan sedikit kemajuan. Aku
amat menikmati cara Mas Adi ’mengerjai’ kedua buah dadaku. Dengan penuh
perasaan, kasih sayang, dan hati-hati seolah daging kembarku itu mudah
pecah, tapi membuatku serasa melayang-layang. Mas Adi tak pernah minta
lebih dari itu, meskipun aku tahu dia juga sudah sedemikian 'tinggi'.
"Untuk nanti di malam pengantin kita," bisiknya. Aku terharu mendengarnya.
Paling
jauh, kalau dia sudah tak tahan lagi, aku diminta memainkan penisnya
dengan tanganku sampai ejakulasi. Bahkan pernah suatu malam Minggu kami
begitu intensif-nya bermesraan, Mas Adi telah menelanjangi dirinya
sampai bulat, Aku tinggal CD saja, Aku sudah demikian 'megap-megap', di
bawah sana sudah terasa lembab, sampai mataku berair. Aku mengharapkan
Mas Adi segera membuka CD-ku lalu penisnya yang tegak mengacung keras
itu segera mengisi kelembaban di selangkanganku, tapi dia tak melakukan
apa yang kuharapkan. Dia hanya menindihku, menggosok-gosokkan penisnya
di CD-ku sambil mengeksplorasi kedua buah dadaku. Mas Adi bisa sampai
'tuntas' dengan tumpah di perutku, tapi Aku? Gelisah! Sesuatu yang tak
sampai, menggantung. Sungguh tak enak.
Aku
terus menggerak-gerakkan tubuhku dengan gelisah, selangkanganku
kugosokkan ke tubuhnya. Kucengkeram pantat Mas Adi dan kugeser- geserkan
penisnya yang mulai menurun ke CD-ku. Tak menjadi lebih baik, tak
meredakan nafsuku yang telah memuncak, tak mengisi kekosonganku.
Penisnya tak menyentuh langsung ke selangkanganku, masih ada penghalang
yang harus dihilangkan. Kulepaskan tubuhku dari tindihan Mas Adi, lalu
dengan nekatnya, aku melepas CD-ku. Aku tak malu-malu lagi berbugil ria
di depan kekasihku ini.
Mas
Adi kaget luar biasa, sampai melongo, tapi matanya tak lepas dari
bagian tubuhku yang baru saja terbuka. Bagian tubuh yang baru kali ini
aku buka di depan matanya. Kutarik tubuh Mas Adi untuk kembali
menindihku, supaya dia tak melongo terus memandangi milikku. Tubuhnya
kembali bergoyang, penisnya kini menggeseki permukaan liang vaginaku
secara langsung, tak ada penghalang lagi. Tapi penis itu mulai menyurut.
Mas
Adi tahu kegelisahanku, lalu tindakan berikutnya ganti mengejutkanku.
Pahaku dibentangnya lebar-lebar kemudian kepalanya menunduk. Hah, apa
yang akan dilakukannya? Tanganku refleks bergerak menutupi milikku.
"Dik,
tak apa-apa, ini aman kok." katanya sambil menyingkirkan telapak
tanganku dari sana. Lalu detik-detik berikutnya kurasakan nikmatnya di
bawah sana. Lidah Mas Adi ternyata yang melakukannya. Lidah itu
menyapu-nyapu seluruh permukaan selangkanganku. Tak itu saja. Aku
dibuatnya terbang oleh Mas Adi dengan permainan lidah dan bibirnya di
clit-ku.
Kurang
lebih setahun kami melewatkan masa-masa bermesraan dengan cara seperti
itu. Cara yang dapat memuaskan kami berdua, tanpa aku harus kehilangan
keperawanan, tanpa penetrasi sama sekali.
***
Pembaca, perkenankan saya memutar waktu ke belakang sedikit.
Tertarik iklan kecil di harian ibukota Aku ingin mencoba mengadu nasib. Iklan itu berbunyi : "Dicari seorang baby sitter
wanita yang berpengalaman, mengerti tentang keperawatan, menyayangi
anak-anak, bersedia tinggal di rumah. Gaji dan fasilitas menarik."
Kutelepon
nomor yang tercantum di iklan itu, suara lembut wanita menyambutku dan
aku dijanjikan waktu, Sabtu pagi pukul 9 agar datang untuk wawancara.
Wah, pakai wawancara seperti melamar kerja kantoran saja.
Pada
hari yang dijanjikan, pukul 9 kurang, aku sudah tiba di depan rumah
besar dan mewah di kawasan Jakarta Pusat. "Selamat pagi," sambutku
ketika pintu dibuka seorang wanita cantik.
"Pagi, siapa ya?"
"Saya Narti, Bu, pelamar baby sitter."
"Oh iya, masuk. Silakan." dia menyambut uluran tanganku. "Siapa tadi... ehm, Narti ya? Saya Ny. Anton."
Nyonya
rumah ini cantik sekali. Berkulit putih mulus, tubuhnya tinggi ramping,
rambut lurus sebahu terurai, pendeknya mirip peragawati atau model yang
sering Aku lihat di TV. Kutaksir umurnya sekitar 26 - 28 tahun.
Wajahnya sekilas mirip mantan peragawati yang juga atlet berkuda, hidung
mancungnya yang mirip banget. Aku juga dikenalkan kepada Pak Anton
suaminya. Pria ini biasa saja, tak ganteng amat, kulit rada cerah,
rasanya tinggi badan Pak Anton sama dengan tinggi isterinya. Kedua orang
suami isteri ini mewawancaraiku.
Aku diminta bercerita tentang riwayat sekolah dan pekerjaanku, kenapa aku tertarik pekerjaan sebagai baby sitter
sedangkan pendidikanku adalah perawat, juga termasuk berapa gaji yang
aku minta. Aku kemukakan apa adanya dan sejujur mungkin. Ditanya gaji,
aku tak menyebutkan jumlahnya, hanya yang penting lebih tinggi dibanding
pekerjaanku sekarang di rumah sakit swasta. Juga aku minta satu hari
libur dalam seminggu. Hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan
pribadiku tak luput ditanya. Termasuk tentang famili dan kawan dekat.
Aku ceritakan punya kakak perempuanku yang tinggal sama suaminya di
Jakarta, juga tentang pacarku Mas Adi, dimana tinggal dan pekerjaannya.
Aku cerita juga kadang-kadang di hari libur Aku nginap di rumah kakak
perempuanku. Melalui wawancara ini pula, aku tahu pasangan ini punya 2
orang anak, yang sulung lelaki kelas 6 SD dan anak kedua perempuan 8
bulan yang kelak aku asuh seandainya diterima kerja. Kesanku mereka
keluarga ideal dan amat bahagia.
"Jadi gimana nanti saya menghubungi kamu?"
"Ke tempat kost saja, Bu, ada teleponnya, di rumah kakak belum ada."
"Di
tempat kost kamu berapa nomornya?" tanya Bu Anton. Aku sebutkan
nomornya. "Okay, minggu depan Ibu hubungi diterima atau tidaknya."
lanjutnya.
"Baik, Bu." aku pamit. "Kalau boleh tahu, sudah berapa orang yang melamar, Bu?" tanyaku.
"Ada beberapa, nggak banyak." jawabnya.
Minggu siang seminggu kemudian, aku ditelepon Bu Anton. "Kamu bisa datang lagi sore ini nggak?"
"Bisa, Bu. Gimana, apa saya diterima?"
"Kita
bicarakan dulu tentang tugas-tugasmu." dia tak tegas menjawab aku
diterima atau tidak, tapi rasanya iya. Mendadak hatiku senang. Ada
beberapa kelebihan kerja di Bu Anton. Selain gaji yang kuterima lebih
tinggi, juga aku tak perlu mikir bayar kost dan biaya makan sehari-hari.
Tentunya aku akan bisa menabung untuk persiapan hari depanku bersama
Mas Adi. Ketika hal ini kuceritakan kepada Mas Adi, dia mendukung.
"Asal
kamu menyukai pekerjaan ini, Mas dukung." Katanya. Aku gembira. "Jangan
senang dulu, Ti, kamu belum tentu diterima." tambahnya.
Bu Anton menjelaskan secara rinci tugas-tugasku dan cara merawat
Si Putri, begitu saja kusebut, anak perempuannya. Aku dikenalkan kepada
pembantu rt-nya, Ijah, perempuan usia sekitar 35an, dan juga Ricky,
anak lelakinya sekitar 12 tahunan. Aku dibawa keliling ruangan rumah
besar ini. Putri, walaupun masih terhitung bayi, sudah punya kamar
sendiri bersebelahan dengan kamar suami-isteri Anton. Dalam kamar Putri
yang lumayan besar hanya ada lemari dan rak pakaian serta sebuah box
bayi. Ada pintu penghubung ke kamar Pak dan Bu Anton. Di belakang kamar
Putri terhalang satu ruang terbuka, terletak kamarku. Keluarga ini
secara berkala berlibur ke luar kota. Kadang kalau dibutuhkan, aku harus
ikut atau tidak tergantung situasi, kata Bu Anton. Tentang hari libur
yang kuminta, Bu Anton mengabulkan tapi harinya tak harus Minggu, dan
kalau mereka membutuhkan, aku tetap mengasuh Putri dan dibayar sebagai
lembur. Tak masalah kukira.
"Kapan kamu mulai kerja?" tanya Bu Anton.
"Secepatnya setelah saya dapat surat pengunduran diri dari rumah sakit." jawabku.
***
Hari-hari pertama kerja sebagai baby sitter
memang melelahkan, sebab aku harus mengenali karakter Putri dan juga
situasi rumah tangga ini termasuk karakter seisi rumah. Aku harus
berbaik-baik sama Mbak Ijah supaya terjalin hubungan akrab dan agar dia
tak 'jealous', karena aku tak menyentuh pekerjaan rumah tangga dan
digaji lebih tinggi. Bu Anton memang telah membagi tugas sesuai
'profesi' masing-masing. Lama-lama aku menjadi biasa dan mulai bisa
menikmati pekerjaanku. Pada dasarnya aku memang menyayangi anak-anak.
Ada
satu yang ’hilang’ sehubungan pekerjaan baruku ini, yaitu masa
bermesraan dengan Mas Adi. Tak bisa lagi kami bermesraan 'berat' sampai
Mas Adi menggosok-gosokkan penisnya di 'pintu' vaginaku lalu tumpah di
perutku. Atau
mulut Mas Adi dengan 'rakus'nya mencium, menjilat, dan menggigit pelan
milikku di bawah sana. Cara pacaran kami berubah. Pergi berdua harus
menunggu hari liburku. Paling juga ciuman dan raba-raba di gedung
bioskop. Mas Adi pintar cari lokasi yang aman untuk bermesraan, pilih
film yang masa putarnya sudah beberapa hari sehingga sepi penonton, lalu
kami mojok di belakang.
Pada
hari libur kedua kami nonton lagi. Film baru beberapa menit diputar Mas
Adi minta aku membuka bra setelah kami berciuman 'panas'. Mukanya
terbenam di dadaku, Aku harus menahan untuk tak merintih keras-keras
ketika puting dadaku dijilati dan dikemotnya. Lalu dia minta aku membuka
rits celananya. Kurang ajar. Aku langsung 'menemukan' penisnya yang
keras tegak, Mas Adi tak pakai cd!
"Mas
nakal," bisikku ke kupingnya. Jawabannya berupa lumatan di bibirku,
lalu dituntunnya telapak tanganku untuk mengurut-urut batang penisnya.
Aku nurut, perlahan kelima jari-jariku menjamahi seluruh batang tegang
itu dari ujung sampai ke pangkal, bolak-balik. Sementara telapak
tangannya 'menampung' daging dadaku sambil ujung telunjuknya
bermain-main di putingku.
"Tambah
kecepatannya dikit, Ti." bisiknya sambil ngos-ngosan. Kupenuhi
permintaannya. Beberapa saat kemudian, "Tambah lagi..." nafasnya makin
memburu.
"Eh, nanti kalo itu gimana?"
"Engga apa-apa, terus aja sampai keluar."
"Gak mau," protesku dan langsung menghentikan gerak kocokan.
"Ti, tolong Mas dong, udah 2 minggu nggak keluar."
Dua
minggu? Oh iya memang, sejak aku pindah kerja kami tak melakukan
petting sampai Mas Adi ’keluar’, seperti yang biasa kami lakukan tiap
minggu. Apa boleh buat, kupercepat gerak tanganku. Mas Adi makin
terengah, lalu megap-megap, tubuhnya rebah ke sandaran kursi dan
mengejang, kepalanya menengadah ke arah langit-langit gedung, gerak
tangannya yang meremasi susuku berhenti, tanganku yang menggenggam
penisnya terasa kedut-kedut beraturan. Mas Adi sedang menikmati
orgasmenya. Airnya entah terpancar kemana saja, mungkin ke sandaran kursi depan.
***
Rumah semegah ini hanya dihuni oleh 6 orang, suami isteri Anton, kedua anaknya, seorang pembantu, dan Aku. Bang
Hasan si sopir selesai mengantarkan Pak Anton malam hari, dia pulang ke
rumahnya, tak menginap. Jam 7 pagi dia sudah sampai ke sini lagi.
Pak
Anton orang yang amat sibuk, jam 8 pagi dia sudah berangkat dan
pulangnya malam. Dia punya banyak perusahaan, kata Bi Ijah. Perusahaan
apa dan sebesar apa, aku tahu dan tak ingin tahu. Kalau lihat rumah yang
besar dan megah, isinya yang mewah, tiga buah mobil yang semuanya jenis
mewah, pantaslah dia punya banyak perusahaan, suatu keluarga kaya-raya.
Sedangkan
Si Jelita nyonya Anton meskipun tidak tiap hari keluar rumah, tapi
tampaknya orang sibuk juga. Urusannya banyak, kalau sedang di rumah
teleponnya sering berdering, bicara serius sepertinya urusan bisnis
juga, lalu kadang keluar rumah menyetir sendiri BMW-nya. Kadang sekalian
menjemput Ricky dari sekolah. Ricky walaupun sudah kelas 1 SMP masih
juga diantar- jemput. Orang kaya cenderung memanjakan anaknya. Anak-anak
di sekitar tempat Aku kost dulu walaupun masih SD berangkat dan pulang
sekolah sendiri. Kalau ibunya tak menjemput, Ricky pulang sama Bang
Hasan.
Tak
hanya kaya raya, keluarga ini juga keluarga harmonis tampaknya. Kalau
mereka bertiga sedang di ruang tengah nonton TV, banyak celetukan canda
diantara mereka. Bu Anton sering menggelendot manja ke tubuh suaminya
sewaktu duduk di sofa sambil nonton TV, atau tangan Pak Anton merangkul
bahu isterinya, diselingi saling kecup di pipi. Suami-isteri itu tak
risih saling kecup meskipun aku ada di situ menggendong Putri. Memang
sudah kebiasaannya sehari-hari. Ricky juga sering bermanja-manja kepada
ayah atau ibunya. Kalau aku sedang bergabung di situ sambil menunggu
Putri, kadang Ricky juga bermanja kepadaku. Menyandar ke tubuhku atau
minta pangku. Pendeknya benar-benar keluarga bahagia. Bahkan aku tahu,
betapa mesranya mereka di tempat tidur...
Malam
belum larut, baru sekitar setengah sembilan. Setelah aku menidurkan
Putri di box-nya, kulihat Pak dan Bu Anton berangkulan mesra sambil
nonton TV. Aku lalu makan malam dan menyiapkan susu dan popok Putri.
Ketika aku hendak ke kamar Putri melewati ruang tengah, suami isteri itu
sudah tak ada. Cepat sekali malam ini mereka tidur, pikirku. Khawatir
mengganggu tidur majikanku, aku dengan hati-hati dan pelan masuk ke
kamar Putri untuk menaruh pakaiannya dan sekaligus ngecheck tidurnya.
Tapi... samar-samar ada suara-suara aneh dari kamar utama itu.
Entah kenapa, diluar kebiasaanku, aku jadi ingin tahu. Nyaris
tanpa suara, aku melangkah mendekati pintu penghubung itu. Oh, suara
rintihan Bu Anton! Aku segera maklum sedang apa suami-isteri itu.
Apalagi rintihan Bu Anton diselingi dengan ucapan: "Ooh... Sedap,
yang... Uuuh... Oooh..."
Aku mendadak merinding, jantungku berdebar kencang. Aku
cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku, tak tahan aku berlama-lama di
situ. Beberapa menit berlalu, suara-suara aneh itu masih saja terdengar,
bahkan ditambah suara Hah-huh-nya Pak Anton dan berisiknya
kresek-kresek dan hentakan-hentakan tubuh di atas kasur.
Aku
keluar menuju kamarku dan langsung rebahan. Segera saja bayangan tubuh
pualam Bu Anton yang telanjang bulat, terlentang, dan pahanya membuka
lebar sedang ditindih oleh tubuh coklat kekar Pak Anton yang pantatnya
naik-turun menusuki selangkangan isterinya, muncul di anganku. Bayangan
kedua tubuh suami isteri tiba-tiba berganti dengan bayangan tubuhku yang
ditindih oleh tubuh Mas Adi. Aah... gimana rasanya ya kalau penis Mas
Adi menusuk habis liang senggamaku? Mungkin sedap banget. Bu Anton yang santun itu saja sampai merintih-rintih keenakan. Jelas nikmat sekali.
Selama
ini penis Mas Adi yang hanya menyapu-nyapu 'pintuku' saja nikmat
rasanya, apalagi... Mas Adi memang tak pernah minta lebih dari
menyapu-nyapu, dan sepertinya memang tak punya niat untuk masuk. Di
kamar kostku dulu kesempatan untuk bermesraan sampai masuk terbuka
lebar, tapi Mas Adi tetap menjagaku, dan mampu menahan diri. Seandainya
waktu itu Mas Adi minta, mungkin aku akan ikhlas memberikannya. Apalagi
seandainya malam ini ada Mas Adi, aku mungkin yang ambil inisiatif untuk
'maju terus'.
Aku
kini begitu gelisah, begitu terangsang oleh suara rintihan dan bayangan
ciptaanku sendiri tentang suami-isteri majikanku itu. Tapi Mas Adi
memang beda. Aku begitu mempercayai kekasihku ini, lelaki yang
bertanggungjawab. Kalaupun ada faktor aku tetap masih perawan mungkin
karena aku takut sakit. Konon berhubungan seks yang pertama kali bagi
wanita adalah hanya rasa sakit yang didapat. Aku memang takut sakit, bahkan dengan jarum suntikpun aku takut.
Malam
berikutnya pada waktu yang sama, aku ke kamar Putri lagi, berharap
kalau-kalau mendengar erangan Bu Anton yang lebih seru, ternyata tidak.
Mereka berdua masih di ruang tengah. Pengetahuanku tentang pasangan ini
bertambah, ternyata mereka tak punya jadwal tetap untuk berhubungan
seks, alias bisa terjadi kapan saja. Pernah sekitar jam 4 pagi aku
terbangun mendengar Putri menangis. Ketika aku sedang mencari-cari baju
ganti Putri, Bu Antonpun mendatangi anaknya, dengan pakaian kimono yang
belum sempat ditutup, buah dadanya yang amat putih, mulus, kecil agak
membulat terbuka, bentuk dada khas peragawati.
"Eh,
kamu Ti..." katanya ketika menyadari ada aku di situ, lalu cepat-cepat
Bu Anton merapikan kimononya. Aku sempat melihat dada Bu Anton
mengkilat, berkeringat, wajahnya juga dihiasi butiran keringat. Dan
kimono tipis itu sempat 'mencetak' tonjolan putingnya. Masa pagi yang
dingin ini keringatan di dalam kamar ber-AC? Dugaanku benar, ketika aku
selesai mengurus Putri, erangan khas Bu Anton kembali kudengar. Rupanya
tangisan Putri menghentikan kegiatan seks dini hari mereka. Setelah
Putri ada yang mengurus, kegiatan itu berlanjut.
***
Hari
Minggu berikutnya, Pak dan Bu Anton liburan keluarga bersama
kawan-kawan bisnisnya ke Pulau Bidadari. Seharusnya ini hari liburku,
tapi karena Putri ditinggal di rumah, aku harus menjaganya dan dibayar
sebagai lembur. Rencanaku nonton sama Mas Adi batal, dan kuminta saja
dia datang menemaniku di rumah. Kami hanya ngobrol saja di ruang tengah
sambil mengasuh Putri. Mauku sih sambil bermesraan tapi tak enaklah
sebab ada Bi Ijah sedang memasak di dapur. Setelah Si Putri tertidur,
kesempatan untuk bermesraan dengan Mas Adi datang juga, sebab Bi Ijah
bilang mau keluar rumah setelah pekerjaannya beres. Aku tak tahu apa
yang ada di kepala Bi Ijah, apakah dia memang benar-benar ada keperluan
keluar rumah atau hanya ingin memberiku kesempatan berdua saja dengan
kekasihku.
Aku
langsung duduk manja di pangkuan Mas Adi begitu Bi Ijah keluar. Kami
berciuman dan seterusnya buka-bukaan. Dalam waktu singkat seperti biasa
Mas Adi sudah bugil dengan penis mengacung. Gaun putih seragamku telah
tersingkir dan kini aku telanjang dada. Seperti biasanya pula, Mas Adi
mengerjai bukit kembarku. Mataku terpejam menikmatinya. Tapi ada yang
tak biasa. Kurasakan 'pekerjaan' Mas Adi di dadaku kurang intens seperti
yang sudah-sudah. Aku merasa pikiran Mas Adi tak sepenuhnya berada di
buah dadaku.
"Ada apa sih, Mas?" tanyaku menyelidik.
"Kenapa, Ti?" Mas Adi menghentikan kemotan di putingku.
"Rasanya hari ini Mas lain, deh."
"Lain gimana?"
"Pokoknya Mas nggak seperti biasa."
"Hmm..."
"Ada apa, Mas?" tanyaku lembut sambil membelai-belai penisnya. Benda itupun tak sekeras biasanya.
"Sorry, Ti. Ada yang ingin Mas sampaikan,"
"Ngomong aja, Mas." Mendadak aku berdebar. Mas Adi diam saja. Aku makin gelisah.
"Udah bosan ama Narti?" serangku tiba-tiba.
"Nggak, sama sekali nggak," lalu aku dipeluknya erat-erat. Lama.
"Lalu apa?"
"Mulai Juli, Mas dipindah ke Semarang." Juli? berarti tak sampai dua bulan lagi.
"Kenapa, Mas berbuat salah apa?"
"Sama sekali tidak. Justru Mas dapat promosi."
"Bagus, kan?"
"Iya, tapi kita jadi jauh."
Jauh. Oh ... rasanya aku tak sanggup berpisah dengan kekasihku ini. Jangan- jangan nanti...
"Mas bingung. Aku ingin pendapatmu, Ti." lanjutnya. Aku pun bingung.
"Gini aja, Mas, kalo menurut mas pindah ke Semarang bagus buat karir mas, lakukan saja."
"Kelihatannya begitu, Ti. Aku dipercaya sebagai supervisor, cuman kita jadi jauh."
"Pas libur mas bisa ke sini, kan?"
"Bisa."
"Ya udah, lakukan saja."
Tiba-tiba aku dipeluknya erat-erat. "Makasih, Ti."
Pelukan berlanjut jadi ciuman, terus ke dadaku. Kurasakan miliknya di bawah sana mengeras lagi. Lalu
mulut Mas Adi turun ke perutku, aku kegelian ketika lidahnya
menari-nari di pusarku. Dengan cepat Cd-ku dipelorotkannya dan lidah
nakal itu telah berpindah ke selangkanganku yang telah membasah lembab.
Aku meninggi. Kuraih batang kerasnya dan kusapu-sapukan di seputaran
pintuku. Aku makin tinggi. Hanya menyapu-nyapu, seperti biasa. Dan lalu
tumpah di perutku, seperti biasa.
***
Tumpah
di perutku lagi, hari Minggu pagi ini. Bukan di ruang tengah rumah
keluarga Anton, tapi di ruang tengah rumah paman Mas Adi. Aku masih
rebah telanjang dengan posisi terlentang, bahkan kakikupun masih
terkangkang. Aku kelelahan setelah tadi dilumat habis-habisan oleh Mas
Adi. Diapun kelihatannya letih, tubuhnya rebah terlentang pula di
sampingku. Masih ada sisa terengah setelah dia 'kerja' habis-habisan
melumatku. Airnya yang tercecer di perutku demikian banyaknya setelah
'ditabung' selama seminggu. Kami bisa bebas bercumbu di rumah paman Mas
Adi karena rumahnya kosong. Paman Mas Adi dan keluarganya pergi ke
Bandung.
Kemarin
Mas Adi meneleponku memintaku datang. Hari ini aku libur dan dapat izin
keluar sampai jam 6 sore. Tapi aku 'menawar' minta ke Bu Anton sampai
besok pagi, dengan alasan diminta nginap di rumah kakak perempuanku,
karena ada acara keluarga. Bu Anton memenuhi permintaanku. Minggu pagi
sekitar pukul 7, aku sudah meninggalkan rumah keluarga Anton menuju
rumah Paman Mas Adi.
Baru
saja aku masuk pintu, Mas Adi langsung menyerbuku. Jelas saja aku
berontak khawatir ketahuan paman atau keluarga yang lain. Tapi Mas Adi
malah mencopoti pakaiannya sampai bugil sambil bilang bahwa hanya kami
berdua saja yang ada di rumah ini.
Kulirik
wajah Mas Adi. Matanya terpejam tenang menandakan kepuasannya. Ada
perasaan puas tersendiri bagiku karena mampu memuaskan Mas Adi, walau
tanpa penetrasi. Tapi apakah wajah teduh ini memang benar-benar
menandakan kepuasan? Hanya dia yang tahu. Cara kami bercinta menuju
puncak tanpa aku kehilangan virginitas mungkin memang belum benar-benar
memuaskannya, seperti yang aku rasakan sekarang. Ada rasa kurang
'terpenuhi' ketika denyutan-denyutan di dalam sana tetap dibiarkan tak
tersentuh, walaupun mulut Mas Adi telah begitu intensif mencumbui
clit-ku. Mungkin Mas Adi juga begitu, walaupun fellatio yang kulakukan
sempat membuat Mas Adi mencabutnya takut 'tumpah' di dalam mulutku.
Aku
sebenarnya telah pasrah, menerima apapun yang akan dilakukan oleh calon
suamiku ini. Dulu sewaktu kami bermesraan di kamar kost-ku, aku
menginginkan Mas Adi melakukan hubungan seks 'paripurna' saat itu juga,
tapi dia tak melakukannya. Memang keinginan tak kutunjukkan secara
lisan, tapi dengan gerakan tubuhku, aku yakin Mas Adi mengerti
keinginanku. Aku ingat saat dia memegang penis tegangnya dan siap-siap
mau menyapu- nyapukannya di clit-ku seperti biasanya, aku membuka pahaku
lebih lebar dari biasanya dan sedikit mengangkat pinggulku agar
'sasaran'nya bukan di clit tapi di liang senggamaku. Tapi Mas Adi dengan
halus menghindar. Tadi juga begitu. Cumbuan intens ke seluruh permukaan
tubuhku membuatku naik tinggi. Lalu pada saatnya dia akan mulai
'menyapu-nyapu', aku sudah ambil posisi terlentang pasrah. Inilah
saatnya aku menyerahkan segalanya kepada lelakiku tercinta.
"Masuklah
Mas, Aku ikhlas mempersembahkan keperawananku kepadamu." begitu kataku,
tapi dalam hati. Tapi lagi-lagi Mas Adi tak melakukannya. Bahkan suatu
saat kepala penisnya sudah tepat menyentuh liangku, tanganku lalu
menekan pantatnya. Lagi-lagi Mas Adi dengan pandai menghindar. Ketika
moment itu kembali datang, aku menekan pantatnya lebih kuat. Detik
berikutnya kurasakan 'pintu'ku terpenuhi oleh benda hangat . Ahh,
nikmat. Rasanya
awal penetrasi dimulai. Tapi... Mas Adi menariknya. Pinggulnya diangkat
dan tubuhnya rebah menindihku dan erat memeluk tubuhku. Kurasakan tubuh
Mas Adi bergetar. Beberapa saat berikutnya kurasakan cairan hangat di
perutku.
"Mikir apa, Ti?"
Aku menoleh. "Eh, kirain tidur. Nggak mikir apa-apa, cuman lemes aja." jawabku.
"Sama dong," tubuhnya menggeliat lalu bangkit. Diciumnya
putingku sekilas, lalu dia duduk. Matanya ke dadaku, lalu turun ke
perutku. Diambilnya tissu dan dibersihkannya perutku dari ceceran
maninya.
"Mas keluarnya banyak banget," kataku.
"Iya nih, maklumlah udah seminggu gak keluar."
Aku bangkit. Tubuhku serasa lengket-lengket karena keringatku yang bercampur dengan keringat Mas Adi. "Aku mau mandi, Mas."
"Oh
ya, sebentar." Mas Adi mengambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya.
Di rumah paman Mas Adi ini hanya kami berdua, jadi aku tenang saja
bertelanjang melangkah ke kamar mandi.
"Kamu
benar-benar seksi, Ti." Secara refleks Aku menutupi dadaku dengan
handuk yang terlipat rapi dan menutup selangkanganku dengan telapak
tangan.
"Hahaha... kenapa musti ditutupi, toh aku udah lihat seluruhnya."
Aku
hanya senyum, masuk kamar mandi dan menutup pintu. Mas Adi menahan
pintu. "Entar dong, kita mandi bareng yuk. Belum pernah kan?"
Dengan sabun cair Mas Adi membalur tubuhku. Di
bagian dada dia lebih tepat dibilang mengusap-usap dibanding menyabuni.
Juga di selangkangan. Dia minta aku membuka pahaku dan dengan hati-hati
telapak tangannya yang bersabun mengusapi kewanitaanku. Aku bergidik.
"Gantian, Ti."
Kubalur tubuhnya. Mulai dari leher, turun ke dada, perut dan... eh, benda itu mulai menegang. Aku hanya selintasan saja membalur miliknya itu lalu ke pahanya.
"Eh, yang itu dong, Ti. Biar bersih."
"Huu,
maunya." tapi aku nurut. Kubalur mulai dari 'telor'-nya dan ketika
sampai ke batangnya, benda itu benar-benar telah tegang mengacung.
"Ih, nakal nih. Berdiri mulu." kataku gemas.
Lalu
Mas Adi memelukku, tangannya membuka kran shower. Kami berpelukan erat
di bawah guyuran air. Kemudian tubuh Mas Adi perlahan bergeser
mendorongku. Pantatku dinaikkan ke meja keramik di samping wastafel dan
pahaku dibukanya. Diarahkannya penis tegang itu menuju selangkanganku
dan benda itu mulai menggosok-gosok kewanitaanku. Mukanya disusupkan di
belahan dadaku. Nggak tahu kenapa aku tak begitu menikmati gosokan penis
Mas Adi. Mungkin posisiku yang kurasakan kurang pas. Sebaliknya Mas Adi
kurasakan sudah 'tinggi', nafasnya begitu memburu.
Tak
apalah, kali ini aku akan memberi Mas Adi kepuasan tanpa menuntut
kepuasan untukku. "Gantian, mas yang duduk." Perintahku. Mas Adi nurut
saja.
Penisnya yang menantang langit itu kubelai-belai. Tangan
sebelah lagi kugunakan untuk meraba-raba biji pelirnya. Sisa-sisa sabun
yang masih nempel di tubuhnya memungkinkan telapak tanganku mengocok
batang keras itu. Mulut
Mas Adi mendesis-desis. Beberapa menit telah berlalu. Aku heran, Mas
Adi belum juga 'sampai'. Berdasarkan 'pengalaman'ku selama ini
menstimulir penis Mas Adi, seharusnya dia telah orgasme. Aku lalu ambil
inisiatif, kubersihkan busa yang menempel di batang itu dengan air
sampai bersih, lalu dengan lidah kutelusuri batangnya mulai dari pangkal
sampai ke kepalanya.
"Ohhh... Tiii..." desisan Mas Adi tambah seru.
Ketika
batang penis itu dengan perlahan dan bertahap kumasukkan dalam mulutku,
mulut Mas Adi makin tak karuan mengoceh. Dengan gerakan berirama kedua
belah bibirku seperti mengurut penisnya. Mulai dari pangkal sampai
kepala dan balik lagi ke pangkal. Aku tak mempedulikan reaksi mulut Mas
Adi yang menceracau. Kuberi dia berbagai variasi gerakan 'mengurut'.
Sampai
suatu saat Mas Adi merangkul kepalaku, tubuhnya mengejang, mulutnya
meneriakkan namaku. Dan... kurasakan cairan hangat itu menyemprot di
dalam mulutku. Seketika mulutku mual dan rasa tak nyaman. Segera kulepas
penis Mas Adi dari mulutku, khawatir aku akan tersedak atau bahkan
muntah. Kusaksikan penis Mas Adi berkedut-kedut mengeluarkan cairan
putih.
"Sorry, Ti. Mustinya tadi kucabut."
"Nggak apa-apa, Mas." aku tadi memang berniat membiarkan Mas Adi ejakulasi di mulutku dan akan kumuntahkan lagi, tidak kutelan. Tapi baru satu semprotan, aku tak sanggup menampungnya.
Benar-benar!
Sejak pagi tadi yang kami lakukan berdua hanya makan, nonton TV, dan
seks (atau entah apa namanya, hubungan seks jelas bukan, pokoknya
bermesraan sampai puas tanpa penetrasi, mungkin 'petting' istilah yang
mendekati). Berdua kami bagai kuda yang selama ini terkekang dan kini
lepas kendali. Kesempatan tiba dengan 'pas'. Sudah lama kami tak ketemu,
lalu ada rumah kosong yang bisa kami tempati. Sampai sore ini entah
berapa kali kami bermesraan, yang jelas dua kali Mas Adi ejakulasi.
Pertama, kami lakukan begitu tiba di rumah pamannya ini. Kedua, sehabis
mandi aku meng-oralnya. Kami sempat ketiduran setelahnya.
Ketika
aku terbangun, kulihat di luar telah gelap. Arlojiku menunjukkan pukul
6.40 sore. Mas Adi masih nyenyak tidurnya, bahkan ngorok. Aku tak tega
membangunkannya. Kelihatannya dia benar-benar lelah setelah
'kerja-berat'. Tapi perutku lapar. Aku bangkit dan melangkah ke dapur.
Tak ada makanan. Terpaksalah aku membangunkan Mas Adi.
"Mas, bangun, Mas. Udah malam."
Mas Adi menggeliat. "Hah, udah gelap."
"Emang, yuk kita keluar cari makanan. Narti laper nih."
"Oh iya, kita nggak punya makanan ya?"
Aku lalu mandi dulu, baru Mas Adi. Oh,
alangkah indahnya. Jalan-jalan berdua bergandengan tangan kadang
berpelukan di malam hari yang cerah langit penuh bintang. Sebelum masuk
ke rumah makan, Mas Adi sempat mengecup pipiku dan berbisik, "Mas sayang
banget sama Narti."
"Narti juga, Mas." kubalas kecupannya. Oh, alangkah indahnya.
Sepulang
dari makan malam, Mas Adi mulai mencumbuku lagi ketika aku sedang duduk
di sofa nonton TV. Blousku berantakan diacaknya, dadaku digigitinya.
Lalu dia bangkit dari sofa dan... seperti yang sering dia lakukan,
menelanjangi dirinya sampai bugil. Penisnya sudah tegang lagi. Entah
berapa kali benda itu tegang sejak pagi. Lalu dia berlutut di karpet
tepat di depan aku duduk. Diusapnya dengkulku dan lalu tangannya
menyelusup di balik rok-ku membelai-belai pahaku. Aku mulai terangsang.
Disingkapnya
rok-ku tinggi-tingi, lalu Cd-ku ditariknya kebawah, perlahan-lahan
sampai lepas dari kakiku. Dengan gemetaran aku menunggu apa yang akan
dilakukan Mas Adi. Pahaku dibukanya lebar-lebar, dipandanginya
kewanitaanku. Pandangannya yang sayu beralih menatapku.
"Yayang
nikmati aja ya..." katanya sambil mendorong kedua bahuku hingga rebah
di sandaran sofa. Lalu kepala Mas Adi tenggelam di antara pahaku.
Kepalaku mendongak ke arah langit-langit menikmati permainan lidah dan
bibir Mas Adi di kewanitaanku. Aku benar-benar serasa melayang. Apalagi
kedua telapak tangan Mas Adi menyusup di bawah pantatku yang telanjang,
meremas-remas sambil setengah diangkat. Terbangku makin tinggi.
Lalu
Mas Adi bangkit. Dilepasnya blouse dan braku, lalu rok-ku. Dengan masih
berlutut, kelaminnya diarahkan ke kelaminku. Seperti biasanya, dia akan
'menyapu-nyapu' Dengan bertelanjang bulat kami berjalan berpelukan
menuju kamar. Mas Adi mengarah ke kamar tidur pamannya.
"Jangan di situ ah, Mas, nggak enak." Masa bermesraan di tempat tidur pamannya. Lalu kami ke kamar depan, kamar Mas Adi dulu ketika masih kerja di Jakarta.
Aku
rebah terlentang membuka paha, Mas Adi kembali menyusupkan kepalanya di
antara pahaku, meneruskan permainan lidah dan bibirnya. Tubuhku mulai
terangkat lagi. Mas Adi begitu intensifnya menstimulir clit dan liang
senggamaku sampai aku benar-benar pada puncak rangsangan.
"Ayolah,
Mas." kudorong kepala Mas Adi hingga lepas dari selangkanganku.
Kugenggam batang penisnya dan kusapu-sapukannya pada liangku. Lalu
ketika ujung penis Mas Adi tepat di mulut kewanitaanku, kulepas
genggamanku pada penisnya dan kutekan pantat Mas Adi ke bawah. Ya, aku
telah memutuskan sekaranglah saatnya untuk benar-benar bersetubuh dengan
kekasihku tercinta ini. Aku telah mengambil keputusan untuk melepas
keperawananku bersama Mas Adi malam ini. Dasar keputusanku bukan saja
karena aku telah terangsang tinggi, tapi memang niatku untuk
menyerahkannya malam ini begitu kami punya kesempatan bebas di rumah
ini.
"Ti...!" Mas Adi kaget dan menarik pinggulnya hingga penisnya terangkat lepas.
"Ayo, Mas, kita lakukan sekarang..."
"Kamu sadar apa yang kamu omongkan?"
"Iya. Sadar banget."
"Nggak, Ti. Jangan sekarang."
"Narti pengen banget, Mas. Mas nggak pengen?"
"Dari dulu, Ti, Mas pengeen banget, tapi bukan sekarang..."
Aku
heran dengan kekasihku ini. Yang biasanya terjadi adalah lelaki yang
minta duluan. Ini justru aku yang minta, eh malah lakinya yang nolak.
Aku sepertinya sudah sampai pada 'point of no return', sudah begitu
lembab dan berdenyut-denyut di dalam sana. Saat
itu aku lupa pada rasa sakit yang mungkin akan aku rasakan pada
hubungan seks yang pertama kali, yang selama ini menakutkanku. Yang aku
rasakan hanyalah keinginan untuk 'diisi dan dikocok'.
Akhirnya Mas Adi kembali menempelkan ujung penisnya ke 'pintu'ku untuk, seperti biasa, digesek-gesek. Aku
menyambutnya dengan amat antusias. Gerakan pinggulku begitu aktif
merespons gesekan Mas Adi. Gerakan Mas Adi begitu galak, dan dari
wajahnya yang merah padam menandakan dia juga sudah sangat tinggi.
Aku
ambil inisiatif. Kupeluk tubuhnya erat-erat lalu kugulingkan. Aku di
atas tubuhnya sekarang. Pahaku mengangkangi pinggul Mas Adi lalu
penisnya yang sudah teramat tegang dan 'membara' kuarahkan ke
selangkanganku, lalu aku menggerakkan pinggulku maju-mundur di atas
pinggulnya. Mata
Mas Adi terpejam, kepalanya menghadap langit dan mulutnya
berdesis-desis. Ketika kurasakan kepala penisnya tepat pada liang
senggamaku, Aku menekan. Ahh... nikmatnya ketika kepala itu memenuhi
liangku. Lalu aku menekan lagi lebih keras, ahh... sakit kurasakan
memenuhi liangku. Aku mengurangi tekananku dan kembali bergoyang. Kuulangi gerakan tadi, ahh... sakit lagi. Benar-benar sakit selangkanganku!
Tiba-tiba
kedua lengan Mas Adi mencengkeram tubuhku lalu tubuhnya miring. Kami
bergulingan dan ujung penisnya terlepas dari selangkanganku. Mas Adi
kini menindih tubuhku. Kurasakan 'kepala hangat' itu menempel liangku
lagi dan berikutnya tubuh Mas Adi kurasakan menekan. Aku terpejam
menunggu. Tekanan itu semakin kuat. Bukan sakit lagi yang kurasakan tapi
ngilu yang tak tertahankan. Sehingga tanpa sadar mulutku berucap:
"Aduuh...!"
Mas Adi langsung mengendorkan tekanan, "Oh... sorry, yang."
"Nggak apa-apa, mas. Terus aja..." kataku terengah.
"Kamu yakin nggak apa-apa?"
Aku menggeleng.
"Yayang yakin... kita lakukan sekarang?"
Aku mengangguk-angguk
Lalu
pinggul Mas Adi membuat gerakan memompa. Rasa ngilu lenyap, hanya rasa
nikmat di bawah sana. Kulihat ke bawah, Aku sempat melihat kepala penis
Mas Adi timbul tenggelam seirama gerakan pompaannya. Pompaan kecil,
hanya ujungnya saja yang keluar-masuk.
"Sakit, Yang?" dia bertanya.
Aku menggeleng. Lalu kurasakan Mas Adi menambah tekanannya. Kembali kurasakan ngilu di selangkanganku. "Aauuff...!" seruku.
"Sakit, Yang?" Mas Adi bertanya.
Aku mengangguk. "Tapi nggak apa-apa, Mas. Terus
saja." Kulihat lagi ke bawah. Separuh batang penisnya telah tenggelam
di selangkanganku. Mas Adi benar-benar telah memasuki tubuhku. Kami
benar-benar telah melakukannya!
Mas
Adi memompa lagi, kini pompaan yang rada panjang. Rasa nikmat kembali
datang. Tapi ketika dia menekan lebih kuat lagi, rasa sakit yang
kudapat. Begitulah, rasa nikmat silih berganti dengan rasa ngilu. Sampai
suatu saat seluruh bagian tubuh Mas Adi telah menindih ketat ke
tubuhku.
"Yang, kita telah melakukannya. Kita benar-benar berhubungan seks."
bisiknya
pada saat berhenti memompa, kulihat bulu-bulu kelamin kami memang telah
saling menempel ketat. Penis itu telah seluruhnya tenggelam ke dalam
tubuhku!
"Berarti Narti sudah bukan perawan lagi." kataku. Mas Adi mengangguk.
Entah kenapa tiba-tiba Aku jadi sedih, dan terus menangis...
"Yang..."
Mas Adi memeluk tubuhku lebih erat. "...jangan nangis dong." dia
menciumi wajahku bertubi-tubi. Aku masih sesenggukan. Ada rasa menyesal,
sekaligus juga rasa bahagia.
"Yayang nyesel?" tanyanya.
Aku
tak menjawab. Kupeluk tubuh Mas Adi erat-erat. Apa yang harus
disesalkan? Semuanya telah terjadi dan aku memang menginginkannya. Lalu
kami saling berpelukan. Lalu kami mulai bergoyang. Mas Adi memompa
lagi. Pompaan sempurna. Layaknya pompaan hubungan suami isteri...!
***
Tubuhnya
masih menindihku. Baru saja Mas Adi ejakulasi setelah pompaan hebat
yang menghanyutkanku. Tak seperti biasanya tumpah di perutku, entah
mengapa kali ini dia tumpahkan ke sprei di antara bentangan pahaku.
Setelah beberapa saat kami rebahan lemas, Mas Adi bangkit.
"Bangun, Yang." kata Mas Adi. Dengan malas aku bangkit. Mata Mas Adi terus tertuju pada bentangan pahaku.
"Lihat apa sih, Mas?" aku bertanya.
"Yayang
geser dulu." katanya. Aku menggeser pantatku, penasaran ingin tahu.
Ternyata... Bercak-bercak merah telah 'menghiasi' sprei. Bercak-bercak
dari tubuhku. Darah dari selaput daraku yang robek. Bercampur dengan
mani kekasihku.
Mas Adi memelukku. Mungkin dikiranya aku akan menangis lagi. Kenyataannya, aku memang menangis lagi.
"Mas mau berjanji?" tanyaku sambil sesenggukan.
"Janji apa, Yang?"
"Janji untuk tidak meninggalkan Narti."
"Tentu saja, Yang. Kita sudah jadi suami-isteri."
"Benar, Mas?"
"Benar, Ti. Kita sudah suami-isteri. Cuma perlu surat nikah saja."
"Benar Mas akan menikahiku?"
"Pasti, Ti."
"Tak akan meninggalkanku?"
"Tidak." katanya mantap.
"Narti sudah bukan perawan lagi..."
"Aku juga sudah tidak perjaka lagi, Yang."
Mas
Adi lalu membereskan sprei bernoda itu. Dengan hati-hati sprei itu
dilipatnya baik-baik. "Akan mas simpan untuk kenangan kita," katanya.
Lalu
kami berdua ke kamar mandi. Kurasakan perih di selangkanganku ketika
aku membasuhnya. Seperti perihnya luka terkena air. Ini telah
menyadarkanku bahwa Narti yang tadi pagi memasuki rumah ini telah
berbeda dengan Narti sekarang. Aku sekarang bukan gadis lagi. Aku
berusaha tak menangis lagi, tapi gagal.
"Sudahlah, Yang..." Mas Adi memelukku. Aku menangis di dadanya yang bidang. Sudah sering dia memelukku seperti ini. Tapi baru kali inilah aku merasakan rasa aman dalam pelukan Mas Adi.
Tengah
malam menjelang tidur, kami melakukannya lagi. Aku yang memintanya.
Kali ini aku benar-benar bisa merasakan nikmatnya berhubungan seks,
dengan sebenar-benarnya. Benar-benar memabukkan! Makanya,
dengan senang hati aku memenuhi permintaan Mas Adi ketika bangun pagi
Mas Adi minta lagi, meskipun aku setengah mengantuk. Benar-benar nikmat.
Nikmat yang susah digambarkan!
Dan
anehnya, ketika aku telah berada di rumah keluarga Anton dan Mas Adi
telah berangkat kembali ke Semarang, serasa penis Mas Adi masih
'tersimpan' di dalam tubuhku bagian bawah sana...!
***
Baru
seminggu Mas Adi pindah ke Semarang, aku sudah merasakan kerinduan yang
menyiksa. Libur pertama dia tak bisa ke Jakarta mengunjungiku, sebab
dia harus memanfaatkan waktu liburnya untuk mencari-cari tempat kost.
Untuk sementara dia numpang tinggal di rumah temannya. Sebenarnya,
temannya itu tak berkeberatan bila Mas Adi tinggal lebih lama sementara
dia mencari kost, tapi Mas Adi merasa tak enak hati saja. Dia harus
cepat-cepat mendapatkan tempat tinggal. Aku bisa mengerti bila Mas Adi
week-end kali ini belum bisa menemuiku.
Yang
tak bisa ’mengerti’ adalah bagian tubuhku yang di bawah sana. Di dalam
sana acap kali berdenyut-denyut merindukan 'belaian', suhu tubuhku naik
seiring dengan naiknya keinginan 'diisi'. Kalau sudah begini buah dadaku
serasa 'bengkak' dan putingnya keras menegang. Aku sungguh merindukan
remasan tangannya dan ciuman mengambangnya di dadaku, serta kuluman pada
putingku seperti setiap minggu dia lakukan. Aku juga merindukan
pompaannya yang penuh variasi, kadang tusukan mengambang dan setengah
batang, kadang hunjaman 'full body'. Oh Mas Adi... aku merindukan
belaian mesramu yang penuh nafsu.
Perasaan
haus belaian Mas Adi begini biasa datang waktu menjelang tidur atau
saat sepi siang hari dimana penghuni sedang tak ada. Hanya ada aku dan
Putri, sementara Bi Ijah sepanjang hari hampir selalu ada di belakang.
Seperti tadi malam, aku begitu merindukan belaian Mas Adi sampai tubuhku
panas dan bergetar. Aku membayangkan Mas Adi sedang menindihku dan
mengemoti putingku. Tapi sebenarnya yang terjadi adalah aku tanpa sadar
meremasi dadaku sendiri dan jari-jariku memelintir puting-puting susuku.
Kurasakan tubuhku di bawah sana telah kuyup.
Suatu
malam saat aku sedang 'kasmaran' dan meremas-remas dadaku, kudengar
suara tangisan Putri. Aku segera bangkit menghampirinya dengan nafas
yang masih tersengal. Biasa, Putri terbangun karena pampers-nya basah.
Setelah kuganti tangisannya tak juga berhenti, ini artinya dia lapar.
Kugendong dia supaya tangisannya tak mengganggu papa mamanya yang
mungkin lagi 'main' sementara aku membuatkan susunya. Tiba-tiba aku
merasakan nikmat yang aneh di dadaku dan tangis Putri berhenti.
Oh!
Kulihat mulut Putri sedang asyik menyedoti puting dadaku! Dia begitu
tenang menikmati 'susu'ku. Dadaku yang tanpa bra belum sempat kututup
lagi sewaktu mendatangi Putri tadi. Memang sudah biasa ketika kugendong
kepala Putri menyusup di dadaku. Dengan dada yang terbuka dan puting
yang masih tegang karena kugosok-gosok sambil membayangkan Mas Adi tadi,
Putri dengan mudah 'menemukan'nya. Kalau dadaku dalam keadaan 'normal'
tentu sulit bagi Putri untuk mengemotnya. Tapi kejadian ini membuatku
pada pengalaman nikmat baru.
***
Pagi
tadi aku sungguh nervous. Betapa tidak. Sebelum Pak Anton berangkat ke
kantor, dia ingin menggendong Putri dan mengambilnya dari gendonganku.
Entah sengaja atau tidak, lengan Pak Anton sempat menekan dadaku sewaktu
dia meraih Putri dari gendonganku. Tekanan lengannya pas pula di
putingku.
Aku
sungguh berharap semoga saja Pak Anton tadi sama sekali tak sengaja
berbuat begitu. Aku tak ingin ada masalah dengan keluarga Anton. Masalah
yang sering aku dengar antara baby sitterdengan
majikannya. Aku menyukai pekerjaan ini dan betah tinggal di sini. Aku
tak mau kehilangan pekerjaan ini. Aku pantas cemas bila memikirkan
jangan-jangan Pak Anton sengaja berbuat begitu dalam rangka coba-coba
menggodaku.
Menggodaku?
Memangnya kamu siapa. Cukup ’berharga’kah kamu di mata Pak Anton? Lihat
isterinya. Cantik, putih, tinggi, langsing bak peragawati. Aku jadi
senyum sendiri. Suatu
kekhawatiran yang berlebihan kurasa. Ini karena aku menikmati
pekerjaanku. Dengan gaji yang lumayan dan pengeluaran hampir tak ada,
aku bisa menabung untuk persiapan masa depanku bersama Mas Adi. Wajarlah
aku begitu khawatir kalau kehilangan pekerjaan. Tapi dengan
membandingkan Bu Anton, aku merasa lebih tenang. Peristiwa tadi pagi
pasti adalah senggolan tak disengaja.
Rupanya
perasaan tenang yang kualami tak lama bertahan. Tadi pagi lagi-lagi Pak
Anton mengambil Putri dari gendonganku sambil punggung tangannya
mengusap dadaku. Padahal aku sudah bersiap dengan menjauhkan jarak Putri
dari dadaku, tapi tangan Pak Anton begitu jelasnya sengaja menjangkau
dadaku. Dengan muka marah kupelototi mata Pak Anton. Ingin aku memakinya
saat itu juga, tapi mulutku terkunci. Dia menghindar, tak berani
menatap mataku. Ini jelas-jelas bukan tak sengaja. Aku menangis. Begitu
sedih dan jengkel mendapati kenyataan bahwa Pak Anton memang sengaja
meraba dadaku. Ingin rasanya aku menelepon Mas Adi dan mengadukan
perbuatan Pak Anton ini. Tapi aku begitu khawatir kehilangan pekerjaan.
Kalau nanti Mas Adi melapor ke Bu Anton atas perbuatan suaminya itu,
pasti Bu Anton menyalahkanku dan lalu memecatku. Orang kecil memang
selalu jadi korban. Mana ada Bu Anton menyalahkan suaminya, tak akan
terjadi.
Kejadian
itu berulang lagi dengan cara yang berbeda. Ketika aku sedang membalur
tubuh Putri yang kubaringkan di boks-nya dengan minyak telon, Pak Anton
berdiri di belakangku menggoda Putri. Kurasakan
pahanya menempel di pantatku. Posisi tubuhku yang setengah membungkuk
tak bisa lagi maju karena tertahan boks bayi, paling hanya menggeser ke
kiri. Tapi dia ikut pula menggeser bahkan sambil menekan. Oh...
kurasakan sesuatu yang keras menekan pantatku. Jelas,
benda keras itu adalah penis Pak Anton. Aku tak bisa lagi menghindar
dengan menggeser lagi karena kena tiang boks. Aku terpojok tak berkutik.
Yang bisa kulakukan hanya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku untuk
segera kabur dari situ. Kurang ajar! Pak Anton membuat gerakan-gerakan
menggoda anaknya sehingga penis tegangnya menggeser-geser pantatku. Aku
hanya bisa menahan diri untuk tak meledak marah. Lagi-lagi aku hanya
bisa menangis.
Setelah agak tenang, aku coba mengingat-ingat kembali perilakuku sejak pertama bekerja sebagai baby sitterdi
keluarga Anton sampai hari ini. Aku mencoba introspeksi apakah ada
kelakuanku yang membuat Pak Anton jadi kurang ajar. Tidak ada.
Perilakuku biasa saja. Caraku berpakaian juga sopan, aku selalu memakai
seragam putih yang tertutup. Aku coba meyakinkan dengan bercermin.
Tertutup. Tak ada bagian tubuhku yang terbuka. Seragam itu ujungnya
sampai di bawah lutut dan bagian dada tertutup. Kalaupun ada yang
dibilang rada 'mengundang' cuma ini, di bagian dada rada ketat sehingga
kesan menonjol. Tapi itu bukan salahku, memang keadaan dadaku begitu.
Aku
bisa menarik suatu pelajaran, bahwa seorang pria yang punya segalanya,
isteri cantik, keluarga harmonis dan bahagia, bukan berarti dia
berperilaku baik pada wanita di sekelilingnya, bukan pula jaminan dia
tak akan mengganggu wanita lain. Apa yang musti kulakukan sekarang agar
nanti tak jadi runyam? Minta berhenti? Tidak. Itu hanya menandakan bahwa
aku seorang wanita lemah yang gampang ditindas. Aku bukan tipe wanita seperti itu. Menerima keadaan menahan diri walaupun dilecehkan? Tidak. Lalu? Pertama, sedapat mungkin aku akan menghindar bertemu dengan Pak Anton. Kedua,
kalaupun harus ketemu kuusahakan agar ada orang lain yang hadir. Hanya
itu yang bisa kulakukan untuk mencegah hal-hal yang tak kuinginkan.
***
"Mbak, Ti, Mbak lagi di mana?" suara teriakan Ricky.
"Di
sini, Mas." aku ikut-ikut memanggil Mas pada Ricky, seperti yang
dilakukan papa-mamanya, juga ’membahasakan’ Putri. Aku sedang menjaga
Putri yang sedang belajar telungkup di karpet ruang tengah.
"Tolongin
dong Mbak, banyak pe-er nih." katanya sambil langsung saja duduk
dipangkuanku dan tubuhnya menyandar di badanku. Manja benar anak ini.
"Heh, apa nih?" katanya setengah kaget. Tapi sebenarnya aku yang kaget.
Ketika dia menyandar ke badanku terasa ada yang mengganjal di
punggungnya. Tiba-tiba tangan Ricky meraba benda yang mengganjal tadi
yang tak lain adalah buah dadaku. Segera saja aku menepis tangannya.
"Heh, nggak boleh begitu ya, nakal tuh namanya." seruku.
"Ehm... sory deh, mbak. Ricky nggak tahu. Di dada mbak kok ada yang gede gitu?" katanya polos.
"Semua wanita dewasa memang begitu, masa mas gak tahu?" jelasku.
"Punya Mama kok gak ada?"
"Ada dong, kalo nggak ada, di mana Putri mau menyusu?"
"Tapi gak gede kaya punya mbak."
Aku
tak tahu mengapa anak sebesar ini belum mengerti perbedaan tubuh antara
pria wanita. Kalau melihat cara bicaranya yang ceplas-ceplos spontan
begitu, Ricky memang tidak sedang berpura-pura.
"Tiap orang kan beda-beda, Mas. Ada yang besar, sedang, ada yang kecil." terangku. Sekalian memberi pelajaran pada anak ini.
"Jadi punya Mama kecil ya, mbak?"
"Mungkin,
mbak kan belum pernah lihat. Udah ah, mana pe-er nya?" potongku untuk
mengalihkan perhatian. Risih juga aku, anak ini menatapi bagian dadaku
terus. Ricky memang mengalihkan pandangannya, tapi tak mau turun dari
pangkuanku dan punggungnya masih menyandar ke dadaku.
Anak
ini semakin bermanja kepadaku dan tingkahnya cenderung semakin ’nakal’.
Kalau dia duduk di pangkuanku kadang kepalanya sengaja menekan- nekan
dadaku. Kadang sambil dia tiduran di pahaku, mencuri-curi pandang ke
arah selangkanganku.
"Mbak
pake celana putih ya?" ujarnya spontan. Kadang dia masuk ke kamarku
selagi aku berganti baju. Sebenarnya aku makin khawatir pada tingkah
lakunya ini, tapi toh dia masih kekanakan begitu. Aku tak menganggapnya
masalah serius, seperti kenakalan Bapaknya.
***
Akhir-akhir
ini aku punya kebiasaan baru yang menyenangkan. Sewaktu aku merasa
kesepian merindukan kehadiran Mas Adi lalu jadi ’panas’, kugendong Putri
dan membiarkan anak itu 'menyusu'. Putri dengan nyamannya mengemoti
puting susuku yang memberiku kenikmatan baru. Begitulah, kebiasaan yang
nakal sebenarnya, tapi lumayan bisa menghiburku. Tentu saja perbuatan
ini aku lakukan bila aku hanya berdua saja dengan Putri.
Bagaimanapun
kebiasaan yang nakal ini akan ada akibatnya. Aku kena batunya. Waktu
itu nafsuku sedang naik. Duduk di tepian tempat tidurku, aku sedang
asyik 'menyusukan' Putri sambil memejamkan mata menikmati kemotannya,
tiba-tiba tanpa kusadari Pak Anton sudah berdiri di depanku! Mati Aku.
Habislah Aku!
"Ti, ngapain kamu?!" bentak Pak Anton.
Aku
begitu gugup sehingga kemotan Putri terlepas, lalu dia menangis. Wajah
Pak Anton begitu marahnya. Pandangannya tidak ke mataku tapi tertuju
menatapi sebelah dadaku yang terbuka seluruhnya. Begitu takutnya sampai
Aku 'lupa' menutup kancing bajuku. Cepat-cepat aku menutup dada.
"Coba ulangi, apa yang kamu lakukan tadi." katanya. Aku gemetar dan diam terpaku. Takut setengah mati. Tamatlah Aku.
"Ulangi!" bentaknya. Aku masih diam.
"Aku
bilang ulangi apa yang kamu lakukan pada Putri." bentaknya lagi sambil
mendekat. Perlahan aku membuka lagi kancing bajuku, mengeluarkan dadaku
dan menyusukan Putri. Anak itu tangisnya langsung berhenti.
Pak Anton makin mendekat dan jongkok di depanku. Matanya tajam menatap dadaku.
"Ampun, Pak. Dari tadi Putri nangis terus." akhirnya aku mampu membuka mulut.
"Kalo
Mamanya tahu, kamu bisa dipecat," katanya lagi setelah agak lama sunyi.
Bicara begitu tapi matanya tak lepas dari dadaku. "Sayang, enak ya?"
katanya kepada Putri sambil mengusap-usap pipinya. Aku diam ketakutan.
Begitu pula ketika Pak Anton mulai menyentuh buah dadaku. Aku masih diam
ketakutan ketika tangan Pak Anton mulai mengelus buah dadaku. Mendadak aku sadar, lalu bergerak mundur menghindar. Mulut Putri terlepas dari dadaku.
"Kamu
diam!" bentaknya. Tangan pak Anton makin leluasa mengelusi dadaku,
bahkan meremasnya. Saking takutnya, aku hanya diam membiarkan tangannya
terus meremas-remas. Matanya kini tajam menatapku.
"Pantesan
Putri diam..." katanya pelan. Aku masih mematung. "Dada kamu bagus."
lanjutnya dengan suara serak. Aku mulai berontak menepis tangan nakal
Pak Anton.
"Diam kataku!" bentaknya. Aku kalah kuat, tangannya masih saja 'bekerja'. Putri menangis keras.
"Putri... Pak," kataku beralasan. Pak Anton bangkit melepaskan dadaku menuju kamar Putri. Aku segera hendak merapikan bajuku.
"Kamu
diam aja di situ." bentaknya lagi. Aku menurut. Pak Anton membuatkan
susu untuk Putri. Baru kali ini aku melihat dia membuatkan susu anaknya.
Lalu dia menidurkan Putri di kasurku dan diberinya susu. Putri langsung
diam. Pak Anton kembali ke arahku duduk, jongkok di depanku. Lalu
tangannya membuka kancing bajuku dan lalu merabai dadaku. Aku memang tak
memakai bra ketika sedang ’bermain’ dengan Putri.
"Pak, jangan..." aku menghiba.
"Kamu
sebaiknya diam aja, daripada kulaporkan ke Mamanya Putri!" bentaknya,
masih galak. Otakku buntu, tak mampu berpikir lagi cara untuk menghindar
dari kenakalan majikanku ini. Mungkin juga karena rasa bersalah yang
besar. Aku masih mematung ketika mulutnya mulai menciumi dadaku dan lalu
mengemoti putingku. Sementara tangan kirinya menyusup dan meremasi buah
dada kananku. Lalu didorongnya tubuhku hingga rebah ke kasur dan
ditindihnya tubuhku. Aku benar-benar bagai boneka yang diam saja padahal
bahaya mengancamku. Hanya ada satu rasa, ketakutan yang amat sangat.
Sampai gaunku dilepasnya dan hanya tinggal CDku saja, aku masih tak
mampu bereaksi. Bahkan tanpa kusadari tubuh bagian bawah Pak Anton telah
telanjang. Entah kapan dia melepas celana panjang dan CDnya. Pria ini
benar-benar telah kerasukan. Dengan tubuh yang setengah telanjang dia
menindihku sementara bayinya berbaring persis di sebelahnya.
Ketika
dia mulai memelorotkan CD-ku dan bersiap menghujamkan penis tegangnya
ke selangkanganku, mendadak kesadaranku pulih. Aku berontak keras,
sekuat tenaga melepaskan dari tindihannya.
"Diam, Ti. Layani aku baik-baik, aku tak akan lapor..."
Aku tetap berontak.
"Kalau nggak mau diam, aku lapor."
"Biar saja. Nanti saya juga lapor ke Ibu!" kataku berani.
"Kamu nanti dipecat."
"Biar saja!" kataku tegas. Mendadak aku punya kekuatan. "Saya akan bilangin ke Ibu." tambahku.
Mendadak pelukannya mengendor. Kugunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Pak Anton tidak mencoba menahanku. Aku menang!
"Tubuhmu bagus..." bisiknya.
Aku
cepat-cepat memunguti pakaianku dan mengenakannya, di bawah sorot mata
Pak Anton. Kini Pak Anton yang mematung. Penisnya masih tegang
mengacung. Hmm... lumayan besar, tapi tak sepanjang punya Mas Adi. Huh!
dalam kondisi seperti ini masih saja aku sempat membanding-bandingkan.
"Baiklah, kamu nggak benar-benar mau lapor ke Ibu kan?" katanya kemudian sambil memakai CD-nya. Aku diam.
"Kamu masih mau kerja di sini, kan?" dia bertanya.
"Sebenarnya saya betah kerja di sini, pak, asalkan bapak nggak mengganggu saya lagi."
"Saya
nggak mengganggu kamu, Ti. Saya sebenarnya tertarik sama kamu dari
dulu." jawabnya. Aku lebih baik diam. "Saya inginkan kamu secara
baik-baik." tambahnya.
"Bapak nggak boleh begitu dong."
"Benar, Ti, tapi aku menginginkan kamu. Tolong ya, Ti. Saya akan penuhi permintaan kamu. Apa saja! Kamu udah lama nggak ketemu sama pacarmu, kan?" lanjutnya. Aku masih diam.
Pak Anton mendekat. "Aku ingin kita sama-sama menikmati," makin dekat.
Huh,
enak saja. "Okay, saya tunggu sampai kamu bersedia." sambil bangkit dia
tiba-tiba memegang kedua bahuku dan lalu mencium bibirku.
Aku kaget mendapat serangan tak terduga ini, lalu berontak. Pak
Anton malah memelukku kencang. Makin aku bergerak dia semakin
mempererat pelukannya. Aku menyerah, toh dia hanya menciumku. Dilumatnya
bibirku dengan ketat, aku diam membiarkan, tak bereaksi. Aneh rasanya.
Pak Anton, orang terhormat, kaya raya, punya isteri cantik ini mencium
bibir pengasuh bayinya, aku, wanita 'biasa'. Bibirnya melumat habis
bibirku, aku masih mematung, tak membalas lumatannya juga tak berusaha
menolak. Lalu lidahnya mulai menyapu-nyapu bibirku dan diselipkan ke
mulutku. Aku merinding.
Entah kenapa lidahku menyambut sapuan lidahnya. Dari rasa merinding, aku merasakan aliran hangat di kepalaku. Dan
hei, bibirku mulai bereaksi membalas lumatan bibirnya! Aliran hangat
terasa makin meluas ke sekujur tubuhku. Tangan kanannya membukai kancing
bajuku dan lalu telapak itu merabai bulatan dadaku. Cara dia merabai
dadaku yang setengah mengambang mirip yang selalu dilakukan oleh Mas
Adi. Tubuhku bergetar dan rasanya aku mulai terangsang. Dadaku serasa
membengkak dan putingnya menegang. Perubahan ini dimanfaatkan oleh Pak
Anton. Tadinya putingku hanya dirabai oleh ujung jarinya, setelah puting
itu tegang menonjol lalu dipelintirnya. Selangkanganku mulai membasah.
Dengan
cepatnya gaun seragamku dilepasnya dan tubuhku didorong hingga rebah ke
kasur. Entah kenapa aku nurut saja. Demikian pula ketika Pak Anton
menindih tubuhku dan lidahnya menjilati buah dadaku. Mungkin karena aku
mulai terangsang. Apalagi ketika jari-jarinya menyusup ke CD-ku dan
menggosok-gosok selangkanganku. Aku mulai melayang. Entah kapan Pak
Anton memelorotkan CD-ku, yang jelas aku telah bugil. Entah kapan dia
mencopoti pakaiannya, yang jelas penisnya tampak mendongak ketika dia
membentangkan pahaku lebar-lebar.
Detik
berikutnya penis hangat itu telah menggosoki vaginaku. Saat berikutnya
lagi, benda hangat itu terasa tepat menekan pintuku. Lalu kurasakan
tekanan.
Tiba-tiba wajah Mas Adi melintas di bayanganku. Aku
membuka mata. Oh, bukan wajah Mas Adi yang kulihat, tapi kepala Pak
Anton yang menunduk, memegangi penisnya diselangkanganku dan berusaha
masuk. Aku tersentak. Secara refleks pahaku menutup, tapi pria bugil ini
membukanya lagi dan mencoba menusuk lagi. Oh, ini tak boleh terjadi!
Aku mengatupkan pahaku lagi. Tapi, seberapalah kekuatanku melawan pria
yang telah terbanjur nafsu ini? Kedua belah tangan kuatnya menahan
katupan pahaku dan menekan lagi. Tangannya boleh menahan pahaku, tapi
aku masih punya ruang untuk menggerakkan pinggulku dan membawa hasil,
penisnya terpeleset!
Pak
Anton jadi lebih ’buas’, dengan kuatnya dibukanya pahaku lagi lalu
mengarahkan batang tegangnya langsung ke liangku, dan dengan kuat pula
ditekannya, dan ohh... kurasakan benda hangat itu mulai menusuk. Rasanya
’kepala’nya telah masuk. Pegangan tangannya pada pahaku kurasakan
mengendor, kugunakan kesempatan ini untuk menutupkan pahaku kembali.
Tapi tekanan tusukannya tak berkurang, justru bertambah, sehingga
penisnya tak lepas, malahan seolah aku menjepit ’kepala’ yang telah
masuk itu. Dan edannya, aku mulai merasakan nikmat di bawah sana.
Rasanya
aku mulai menyerah, tak ada gunanya melawan pria yang kesetanan ini.
Disaksikan oleh anak bayinya, pria ini mencoba menyetubuhi pengasuhnya.
Sialnya -atau untungnya?- Tubuhku di bawah sana mulai menikmatinya
setelah seminggu lebih tak tersentuh. Oh, betapa lemahnya aku. Betapa
mudahnya aku menyerah. Maafkan aku Mas Adi, aku tak kuasa menolaknya.
Air mataku meleleh, aku menangis.
Tapi,
terjadilah sesuatu yang tak disangka. Pak Anton tiba-tiba dengan cepat
menarik penisnya lalu tubuhnya rebah di atas tubuhku. Detik berikutnya
kurasakan cairan hangat membasahi perutku. Betapa leganya aku. Pak Anton
telah ’selesai’ walaupun belum penetrasi. Belum? Tepatnya belum
sempurna. Aku yakin baru kepala penisnya saja yang masuk. Dengan begitu
aku coba meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi memang 'belum terjadi
sesuatu'. Pak Anton gagal memaksakan kehendaknya. Diam-diam aku
bersyukur. Hanya sebentar dia menindih tubuhku, Pak Anton lalu bangkit
membenahi pakaiannya. Kupandangi dia satu-persatu mengenakan pakaiannya.
Matanya menunduk terus, tak berani menatap mataku. Tanpa berkata
sepatahpun dia lalu keluar kamar. Mungkin dia malu. Rasain!
Sejak
peristiwa percobaan perkosaan Pak Anton terhadapku, hidupku jadi tak
tenang. Kerja diliputi perasaan was-was, jangan-jangan pas Bu Anton
keluar rumah, Pak Anton datang siang hari seperti kemarin untuk
mengulangi usahanya menyetubuhiku. Jelas aku tak berani lagi
bermain-main dengan Putri untuk mengemoti putingku. Aku juga tak berani
dekat-dekat dengan Pak Anton. Kalau dia ingin ngemong Putri, lebih baik
aku menyingkir jauh-jauh. Untunglah Pak Anton memang jarang pulang
siang.
Teringat
kejadian kemarin itu sungguh membuatku ketakutan. Betapa tidak, aku
nyaris saja diperkosa oleh majikanku. Untunglah dia keburu keluar, kalau
tidak pasti hal itu akan terjadi sebab aku sendiri sudah tak berdaya
menolaknya. Aku sempat menyerah karena bukan saja Pak Anton terlalu kuat
memaksaku, tapi juga karena aku mulai ’merasakan enaknya’. Inilah yang
aku sesali terus-menerus. Aku juga menyalahkan Mas Adi, kenapa dia lama
tak mendatangiku. Sejak aku merasakan nikmatnya orgasme bersama Mas Adi,
milikku yang di bawah sana itu terus-terusan minta diisi. Mauku setiap
hari Mas Adi menyetubuhiku. Tapi sekarang dia jauh dan belum tentu
setiap minggu bisa ke Jakarta. Wajar 'kan bila aku juga menyalahkan Mas
Adi?
Sebenarnya
sih aku juga salah, kenapa aku dulu minta Mas Adi untuk terus masuk
sehingga aku kehilangan kegadisanku, lalu jadi ketagihan. Sudahlah. Aku
tak menyesal mempersembahkan keperawananku kepada pria yang kucintai
itu. Hanya kenapa dia tidak selalu ada bila selangkanganku
berdenyut-denyut.
Sekarang, ada masalah baru. Pak Anton orang
yang terhormat itu menginginkanku. Dan orang itu sehari-hari berada di
sekelilingku. Tentu dia akan terus mencoba. Jelas aku akan berusaha
sekuat tenaga untuk menolaknya, tapi sampai kapan aku mampu terus
menghindar? Mungkin satu-satunya jalan untuk mencegah terjadinya
pemaksaan hanyalah bila aku berhenti kerja. Ini yang tak kuinginkan.
Mungkin aku harus mulai mencari-cari pekerjaan baru. Sungguh suatu hal
yang tak mudah mendapatkan pekerjaan di masa multikrisis begini.
Nantilah aku akan minta tolong Mas Adi mencarikan lowongan di Semarang
saja. Kalau Mas Adi tanya, aku punya alasan yang kuat, agar bisa selalu
bersamanya.
Perkiraanku
benar, Pak Anton tak berhenti mencoba, malah dia semakin kurang ajar.
Kalau ada kesempatan dia berada dekat denganku sementara Bu Anton ada di
lantai atas, pinggulku diremasnya. "Pantatmu bagus" katanya pelan. Aku hanya bisa menepis tangannya, tak berteriak khawatir kedengaran isterinya.
Di
lain kesempatan dia dengan diam-diam mendekatiku dari belakang lalu
merapatkan tubuhnya. Aku hampir saja teriak. "Sstt, Ti." dia berbisik.
Aku berusaha melepaskan dekapannya tapi dia makin ketat memelukku.
Kurasakan miliknya yang tegang menekan-nekan pantatku.
"Cuman
gini aja kok, bentar aja." bisiknya. Ketika aku berhasil lolos dari
dekapannya, kulihat Pak Anton sengaja mengeluarkan penisnya sebelum
mendekapku. Orang ini sudah tak waras, pikirku. Oh Mas Adi, tolonglah aku, cepat datanglah. Aku tak tahan lagi!
***
Penantianku
berujung juga, akhirnya. Mas Adi nelepon liburan besok mau ke Jakarta.
Wah, betapa gembiranya aku, sampai-sampai mataku basah. Minggu pagi aku
mau dijemput. Tiba saatnya pagi-pagi aku membereskan Putri dulu sebelum
'kuserahkan' pada ibunya. Lalu aku mandi sambil bernyanyi-nyanyi
gembira. Rasanya ini mandi yang paling lama.
Sekitar
pukul 8 pagi, Mas Adi udah nongol. Ingin rasanya aku memeluknya
erat-erat, tapi mana bisa dilakukan disini. Kami duduk di ruang yang
terletak belakang garasi, aku memang biasa menemuinya di situ.
"Ti, rasanya aku pengin nubruk kamu." katanya pelan.
"Tubruk aja, mas, Aku udah siap kok." tantangku.
Dicubitnya pipiku, lalu…
"Selamat pagi, Bu." Eh, Bu Anton nongol, jelas dia sempat melihat Mas Adi mencubit pipiku. Aku jadi malu.
"Pagi, Di. Kapan datang?" untung Bu Anton pura-pura tak tahu.
"Tadi pagi jam setengah lima."
"Naik apa?"
"Bus malam, Bu."
"Ya udah, silakan aja. Ti, bikin minuman, dong."
"Oh iya, ... sampai lupa." Kubuatkan Mas Adi teh panas manis, kesukaannya.
"Jam lima udah nyampe?" tanyaku.
"Ya."
"Langsung ke rumah Oom?"
"Nggak."
"Lalu?"
"Udahlah. Sekarang aja yuk kita pergi?"
"Yuk. Habisin dulu tehnya."
Aku pamit ke Bu Anton. Lalu
sambil menggandeng tangan Mas Adi, aku keluar, rasanya bahagia benar
aku pagi ini. Di teras ada Pak Anton lagi baca koran. Dia sempat melihat
aku melepaskan tangan Mas Adi. Aku juga pamitan. Pak Anton bukannya
langsung bilang 'Ya' tapi melongo melihatku. Matanya meneliti dari ujung
rambut ke ujung jariku.
"Saya pergi, Pak." kuulangi pamitanku.
"Eh, ya-ya," sahutnya.
Ketika telah keluar pagar, Mas Adi menggamitku. "Kenapa sih Pak Anton?" tanyanya.
"Dia emang biasa acuh," jawabku.
"Justru nggak. Jangan-jangan naksir kamu."
OH!
sekejap aku tercekat. Lalu ingat bagaimana Pak Anton sempat
menelanjangiku dan bahkan sempat menyusupkan kepala penisnya. "Mas!"
kataku sambil mencubit lengannya.
"Auw! Cuma bercanda gitu aja kok marah..." untunglah Mas Adi hanya bergurau. Gurauan yang tepat sasaran!
Kami mencegat taksi dan Mas Adi menyebutkan tujuannya. Kalau
tak salah itu nama hotel kecil. Kutatap mata Mas Adi. "Aku tadi
langsung ke hotel, habis masih gelap." bisiknya. Diam-diam aku senang.
Berarti nanti aku bisa langsung meluapkan rasa rindu. "Sempet tidur dulu
tadi sejam," lanjutnya.
Sampai
di hotel, kami langsung menuju kamar. Petugas front office melihat kami
cuma sekilas, lalu nunduk lagi. Begitu Mas Adi selesai mengunci kamar,
aku dipeluknya kencang sekali sampai sesak.
"Oh, Ti, kangen banget!"
"Narti juga, mas."
Lalu
bibirku dilumatnya habis-habisan, lidahnya menerobos masuk mulutku.
Kami berciuman sambil saling memainkan lidah. Kurasakan milik Mas Adi
mengeras. Mas Adi melepaskan pelukan dan langsung melepas kancing-
kancing gaunku. Aku menunggu sambil dadaku naik-turun seirama alunan
nafasku yang mulai memburu. Gaunku jatuh ke lantai. Mas Adi dengan cepat
menelanjangi diri sampai bugil. Penisnya sudah tegang mengacung. Lalu
perlahan dia mendorong tubuhku hingga rebah ke kasur, dan menindih
tubuhku.
Tekanan
tubuh telanjang Mas Adi di atas tubuhku makin kuat. Kedua belah
tanganku dibentangnya untuk ditindih oleh kedua belah tangannya pula.
Kesepuluh jari-jari tangan Mas Adi meremasi sepuluh jari-jari tanganku.
Lalu sebelah tangannya menyusup dibalik punggungku. Aku tahu apa yang
akan dilakukannya, melepas kaitan bra-ku. Mas Andi memang punya cara
sendiri dalam proses persetubuhan. Sebelum menindih tubuhku dia lebih
dulu bertelanjang bulat, sementara aku masih mengenakan bra dan CD-ku.
Aku
menyukai cara dia 'memperlakukan' buah dadaku, aku sampai hafal
tahapannya. Kali inipun prosesnya sepertinya akan berjalan sama.
Perlahan dia membuka bra-ku, lalu sejenak dipandanginya kedua buah
dadaku bergantian kanan-kiri. Dia memang selalu mengagumi bentuk dadaku.
"Bulatan
yang sempurna" katanya suatu ketika. Kemudian telapak tangannya
mengelusi bulatan bukit-bukit dadaku. Cara mengelusi permukaan bukitku
yang 'mengambang', antara terasa dan tidak justru membuatku bergidik.
Kemudian dilanjutkan dengan sentuhan-sentuhan lembut di kedua putingku
yang semakin membuatku 'naik'. Aku memang paling tak tahan kalau dadaku
disentuh. Bagiku daerah itu memang sensitif, selain daerah paha bagian
dalam dan, tentu saja seluruh wilayah vaginaku. Lalu tahap-tahap
perlakuan kepada buah dadaku diulangnya tapi proses yang kedua ini
dilakukan dengan mulut dan lidahnya yang berujung kemotan nikmat di
puting dadaku.
Lalu ketika ciuman Mas Adi bergeser makin ke
bawah, dia langsung menyerbu selangkanganku yang masih tertutup CD.
Digigitinya daerahku di situ dan tubuhku berkelojotan. Nafsuku makin
naik. Tubuh Mas Adi lalu bangkit, perlahan dipelorotkannya CDku dan
pahaku dibentangnya. Biasanya tahap berikut adalah Mas Adi membenamkan
mukanya ke situ. Tapi aku sudah demikian 'matang' lembab. Kutahan
kepalanya yang mulai menunduk. Mas Adi mengerti, penisnya yang tegak
menegang gagah segera diarahkan ke kelaminku.
Inilah
saat-saat indah yang menegangkan, saat penantian dimana miliknya yang
berwarna kegelapan mulai memasuki tubuhku, saat memulai rasa nikmat.
Adalah merupakan 'kesepakatan' kami berdua bahwa penetrasi harus dia
lakukan dengan perlahan dan bertahap, tak boleh terburu-buru, apapun
alasannya. Demikian pula saat memompanya, masuk perlahan sampai seluruh
batang penisnya tenggelam, lalu menariknya secara perlahan pula. Sehingga
Aku bisa menikmati sensasi gesekan pada relung-relung liang senggamaku.
Paling tidak untuk belasan kali 'pompaan'dulu, selanjutnya terserah
Anda, eh... Mas Adi, untuk membuat variasi gerakan sampai akhirnya Mas
Adi membiarkan aku menikmati detik-detik orgasmeku lebih dulu dengan
melayang-layang ke awan kenikmatan. Setelah aku kembali 'mendarat' di
bumi, barulah Mas Adi melanjutkan pompaannya sampai dia mencabutnya dan
menumpahkan 'air kehidupan' di perutku.
Begitulah umumnya persetubuhan yang kami lakukan berjalan. Kami selalu mampu mencapai puncak kenikmatan dengan cara itu. Tentu
saja proses seperti itu tidak begitu saja kami temukan. Didahului
dengan kegagalan- kegagalanku mencapai 'the big O' pada awal-awal
persetubuhan kami, kami terus berusaha, berbicara terbuka tentang
perlakuan-perlakuan Mas Adi apa saja yang membuatku nikmat, demikian
pula sebaliknya. Aku bisa menemukan 3 daerah tubuhku yang sensitif ini
juga berkat diskusi yang terbuka (dan juga ’percobaan-percobaan’) yang
kami lakukan. Sementara bagi Mas Adi daerah sensitifnya terpusat pada
hanya yang satu itu. Entahlah, apa semua lelaki memang begitu? Aku tak
tahu. Oleh karena itulah, aku kini rela melakukan oral untuknya,
meskipun pada awalnya aku begitu jengah melakukannya.
Bukan faktor keterbukaan itu saja yang membuat hubungan seks kami menjadi begitu nikmat. Faktor
lainnya adalah -dan ini yang terpenting- kami saling mencintai. Kami
menjadi saling tergantung. Bagiku Mas Adi adalah segalanya, demikian
pula sebaliknya. Jadi, seandainya aku bilang -dengan gaya menggurui-
faktor penting yang membuat hubungan seks menjadi 'surga' adalah saling
mencintai dan keterbukaan, bukanlah omong kosong, karena aku
mengalaminya sendiri. (Bagaimana dengan anda?)
***
Liburan
akhir minggu ini, keluarga Anton akan berlibur ke Bandung. Rencana
berangkat Jumat pagi-pagi sekali karena Pak Anton ada urusan bisnis dulu
pada hari Jumat dan pulangnya Minggu sore. Bu Anton memintaku untuk
ikut pergi dan aku sudah menyatakan bersedia, sebab Mas Adi minggu ini
tak bisa ke Jakarta. Ada perasaan senang yang bercampur khawatir. Senang
karena selama berlibur toh tugasku sama saja kalau di rumah, mengasuh
Putri. Aku bisa menikmati menginap di hotel mewah dan makan enak.
Keluarga kaya ini selalu memilih hotel besar bila berlibur. Lagi pula
aku belum pernah lihat kota Bandung. Khawatir karena Pak Anton
memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba menyetubuhiku lagi. Aku
tak mau peristiwa itu terulang lagi. Cukuplah sekali saja penderitaan
itu. Amat susah menghilangkan rasa bersalahku kepada Mas Adi yang sampai
kini masih kurasakan.
Sekitar
setengah enam pagi kami meninggalkan Jakarta menuju Bandung dengan
mobil Pak Anton. Bang Hasan yang menyetir mobil mewah dan besar ini. Aku
duduk di depan sambil menggendong Putri yang masih tidur. Pak dan Bu
Anton di jok belakang bersama Si Ricky. Ketika baru masuk tol Jagorawi,
Putri bangun. Bagiku lebih merepotkan, karena dia meloncat-loncat di
pangkuanku dan terkadang merayap ke belakang minta ikut ibunya. Sampai
masuk Bandung sekitar pukul sepuluh, Putri tak tidur lagi. Kami langsung
menuju hotel H yang besar dan ramai di jalan yang kemudian aku tahu
namanya jalan Juanda. Tak jauh dari hotel ini ada Mall yang lumayan
besar. Keluarga Anton menempati dua kamar yang bersebelahan. Satu untuk
suami isteri kaya itu dan satu lagi untuk aku dan dua anaknya. Bang
Hasan rupanya tak ikut menginap di hotel, dia minta izin mengunjungi
familinya di Bandung dan hari Minggu akan bergabung kembali.
Tak
berapa lama masuk kamar, Putri ketiduran lagi. Kugunakan kesempatan ini
untuk berberes-beres peralatan Putri. Setelah itu aku berniat mau
mandi. Si Ricky tadi hanya menaruh tasnya terus langsung keluar lagi,
mau ke lobby katanya. Selesai aku mandi, Si Ricky sudah kembali, Putri
masih tidur. Ricky langsung masuk kamar mandi. Aku masih belum terbiasa
tinggal di hotel, jadi waktu masuk kamar mandi tadi, aku tak membawa
pakaian dalam, seperti kebiasaan di kamarku. Jadi aku keluar kamar mandi
hanya mengenakan daster saja tanpa daleman. Aku bermaksud mau
mengenakan bra dan CD khawatir nanti tiba-tiba Ricky keluar dari kamar
mandi. Aku duduk di ranjang dengan tangan menggenggam pakaian dalam
menunggu keluarnya Ricky.
Begitu
keluar dari kamar mandi, aku belum sempat bangkit, Ricky langsung duduk
di pangkuanku, menyandarkan punggungnya ke dadaku. "Entar dong, mas,
mbak mau mandi dulu." kataku.
"Lho, tadi mbak kan udah mandi?"
Aku salah omong, maksudnya mau ke kamar mandi. "Mau ke kamar mandi, ganti baju."
"Bentar aja, mbak, capek nih." tanpa kuduga, Ricky memutar punggungnya dan lalu tangannya mengusap buah dadaku.
"Mas, nggak boleh nakal gitu." aku kaget.
"Pantesan empuk. Mbak gak pakai beha, ya?"
"Ini mau dipakai. Makanya Mas bangun dong." kataku sambil menunjukkan isi genggaman tanganku.
"Pakai di sini aja, mbak."
"Nggak ah!"
Lagi-lagi Ricky membuat gerakan tak terduga, belahan dasterku dikuaknya.
"Lihat ya, mbak..." ia berkata.
Dengan
cepat aku mencegah tangannya dan lalu mendororng tubuhnya dari
pangkuanku. "Kalo mas nakal gitu, ntar gak boleh pangku lagi, lho." Aku
mengancam.
"Ya deh, mbak, sorry."
***
Selesai
sarapan, rencananya semua keluar pakai mobil, Pak Anton yang nyetir.
Pak Anton ke kantor sedangkan Bu Anton, Ricky, aku dan Putri nanti turun
di Mall untuk jalan-jalan. Tapi karena Si Putri masih pulas tidurnya,
aku tak jadi ikut, nungguin Putri. Tinggalah aku di kamar sendiri, Putri
begitu pulasnya. Aku rebahan di sebelahnya sambil baca majalah, tapi
tak bisa konsentrasi. Ingatanku ke Mas Adi melulu. Aku bayangkan bila
saja Mas Adi sekarang ada di sini... ooh, bisa dua atau tiga ronde kita
'selesaikan' sementara menunggu mereka pulang. Bisa dilakukan di kasur
ini, atau di atas karpet yang cukup tebal, atau di kamar mandi. Ya, di
kamar mandi aku duduk di tepian meja dekat wastafel dengan kaki membuka,
lalu Mas Adi masuk sambil berdiri. Membayangkan itu semua, aku jadi
basah.
Khalayanku
berlanjut. Kubayangkan Mas Adi telanjang bulat menindih tubuhku, lalu
membuka dasterku dan menciumi buah dadaku. Pada kenyataannya tangan
kiriku sendiri yang membuka kancing daster dan mengeluarkan buah dadaku
dari bra, lalu jempol dan telunjukku memelintir putingnya. Ciuman Mas
Adi bergeser ke bawah menciumi perutku. Pahaku kubentangkan lebar seolah
menampung kepala Mas Adi yang sedang menjilati clit-ku yang membasah
(kenyataannya : tangan kananku telah menyusup ke cd dan mulai
menggosok-gosok). Nafasku makin memburu. Gelisah. Tubuhku berkelejotan
dan serasa mulai melayang.
Tiba-tiba
kudengar pintu diketuk. Aku kembali mendarat ke bumi dan dengan gugup
merapikan bra dan dasterku. Sambil menyeka keringat di wajahku, aku
berjalan menuju pintu.
"Oh, Pak..." aku kaget bukan main, ternyata Pak Anton. Tanpa bersuara laki-laki itu langsung masuk dan menutup pintu kembali. Tiba-tiba aku sadar akan bahaya yang bakal mengancamku. Celaka!
"Bapak nggak ke kantor?" tanyaku untuk mengatasi rasa gugup.
"Sstt..."
jawabnya sambil memberi tanda menyilangkan jari di bibirnya dan
mendekatiku. Kedua tangannya ke bahu kanan kiriku. Lalu sebelah
tangannya membelai pipiku.
"Narti..." panggilnya dengan suara serak. Lidahku kelu. "Kuminta kamu rela..." jarinya merabai bibirku.
"Tidak,
Pak. Jangan..." bibirnya menutup bibirku dan lalu melumatnya. Kedua
belah tangannya merangkul tubuhku. Aku dipeluknya erat sekali. Kurasakan
benda keras itu menghunjam perutku. Uh... keras banget.
Aku melepas ciuman, tapi tak mampu melepaskan rangkulannya. "Kumohon, Pak. Jangan!" kataku menghiba.
Dadaku
diremasnya. Aku menepis. Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula.
Lagi-lagi aku menepis. Masih sambil memeluk tubuhku, di dorongnya
hingga aku rebah di ranjang Ricky. Disingkapnya rok dasterku dan
dipelorotkannya cd-ku. Gerakan yang tiba-tiba dan tak terduga ini gagal
kucegah. Lalu Pak Anton membenamkan wajahnya di selangkanganku. Kututup
pahaku hingga menjepit kepalanya. Pak Anton bangkit melepaskan jepitan
pahaku.
"Narti, tolonglah... sebentar saja."
"Jangan, Pak..." kataku setengah menangis.
"Sekali ini saja, udah itu saya tak akan ganggu lagi, Ti."
Tangan
kuat Pak Anton membuka pahaku. Percuma. Sia-sia saja melawan gerakan
Pak Anton yang kuat. Kubiarkan dia menjilati kewanitaanku. Aku malu, Pak
Anton tahu aku telah basah. Akhirnya aku pasrah. Semoga dia benar-benar menepati janjinya, hanya sekali ini saja. Toh seperti dulu, dia hanya sebentar saja.
Oh...
lidahnya sungguh amat berpengalaman, membuatku secara perlahan mulai
’naik’. Aku muak dengan kelakuan majikanku ini, tapi aku tak berdaya
melawannya. Aku benci! Aku membenci diriku sendiri yang tak berdaya
melawan, malah terrangsang. Dalam
keadaan frustasi begini apa yang bisa kulakukan selain menangis.
Apalagi kini Pak Anton telah telanjang bulat dengan penis keras
mendongak. Penis yang membuat Bu Anton merintih- rintih keenakan. Penis
yang pernah sebentar memasuki tubuhku dan kini akan memasukinya lagi.
Tangisanku
yang sesenggukan menghentikan gerak Pak Anton yang telah membentangkan
pahaku dan siap menusuk. Pak Anton merangkak mendekati mukaku. "Ti,
kumohon kamu rela. Sekali ini saja..." bisiknya.
Aku masih sesenggukan.
"Sekali ini saja... melayaniku, Ti." dia kembali berkata.
"Kenapa nggak sama Ibu saja, pak?"
Lalu mulailah Pak Anton ngoceh nerocos tentang perlunya variasi bagi pria yang sudah belasan tahun menikah. Tentang dia tak berani meniduri perempuan sembarangan bila butuh variasi. Dia
bisa saja 'membeli' perempuan yang paling mahal sekalipun, tapi dia tak
mau melakukan. Seks dengan membeli itu sama sekali tak nikmat dan penuh
resiko kena penyakit. Cerita berlanjut bagaimana dia telah mengamatiku
dari sejak aku mulai bekerja. Mengamati pergaulanku. Sehingga sampai
pada kesimpulan bahwa aku ’bersih’. Dan dia makin yakin setelah
menikmati 'aroma' kewanitaanku.
"Si
Adi sungguh beruntung." katanya lagi. "Punyamu sungguh berbeda."
sambungnya. "Enak banget, legit." katanya lagi makin ngaco merayuku.
"Itulah kenapa saya tak kuat lama..." akunya. "Okay, sekarang jangan
nangis lagi ya, saya minta kamu ikhlas memberikan..."
Pak Anton menggeser
tubuhnya ke atas lagi sampai penisnya mendekati mukaku. Kulihat penis
itu tak setegang tadi. Agak menurun. Lalu penis itu disentuhkan ke
mulutku. Tiba-tiba terlintas dalam benakku. Lebih baik aku oral saja dia
sampai keluar lalu kumuntahkan maninya, daripada dia menyetubuhiku.
Mendapatkan ide itu, aku tak menolak ketika penis itu mulai menerobos
mulutku. Pak Anton mendesah. Aku tinggal membayangkan sedang mengulum
penis Mas Adi. Benda itu dengan segera membengkak dan mengeras. Aku
makin intensif menguluminya. Tapi Pak Anton mencabutnya. Aku kira dia
akan muntah, tapi tidak.
Pak
Anton bangkit. Dibukanya pahaku lebar-lebar, lalu mengambil posisi siap
tusuk. Dia menekan dan 'kepala'nya masuk. Dipompanya sambil membentang
pahaku lebih lebar lagi. Perlahan penisnya marasuk lebih dalam. Pompa
lagi dan secara perlahan tapi pasti terus masuk. Sampai akhirnya seluruh
batang telah tenggelam. Tubuhnya rebah menindihku, kedua belah
tangannya menyusup ke punggungku dan memeluk kuat tubuhku. Perlahan
pinggulnya mulai memompa. Naik-turun dan kanan-kiri. Kadang diputar.
"Ooh,
kamu benar-benar sedap..." bisiknya dekat telingaku. Oh, dia
benar-benar telah menyetubuhiku. Pak Anton meniduri pengasuh anaknya
dengan ’disaksikan’ oleh anaknya sendiri. Pak Anton asyik berhubungan
seks dengan wanita bukan isterinya sementara anaknya tidur di ranjang
yang hanya semeter jaraknya!
Kuharapkan
setelah beberapa kali pompaan Pak Anton segera mencabut dan
menumpahkannya di perutku seperti waktu lalu. Harapanku meleset. Sudah
belasan pompaan tak ada tanda-tanda 'sampai'. Justru timbul
kekhawatiranku, aku mulai menikmati pompaannya! Sungguh lihai dia
membuat variasi gerak pompaan. Tusukan 'setengah' dikombinasi dengan
tusukan full. Tusukan 'arah' atas bervariasi dengan arah bawah. Hunjaman
dari kiri bergantian dengan dari kanan. Pak Anton yang sekarang sedang
memompaku berbeda dengan Pak Anton beberapa hari lalu. Entah kenapa dia
jadi kuat sekarang. Hampir menyamai Mas Adi. Terus terang, tubuhku mulai
terangkat dan melayang.
Suatu
saat di tengah pompaan Pak Anton tiba-tiba mencabut. (dan... ah,
sialan! Aku jadi merasa 'kehilangan'). Tiba saatnya juga akhirnya. Detik
berikutnya akan kurasakan tumpahan hangat di perutku. Oh... tapi tidak!
Penis itu masih mengacung gagah.
"Gantian, Ti, aku di bawah." pintanya.
Aku
mau saja bangkit dan memberi kesempatan Pak Anton rebah terlentang.
Lalu tanpa diminta, aku melangkah mengangkangi tubuhnya. Dengan Mas Adi,
aku memang biasa berganti posisi aku diatas. Jadi aku tahu maksud Pak
Anton. Aku jadi tak malu-malu lagi menuntun penis Pak Anton agar tepat
arahnya sebelum aku menduduki tubuhnya. Aku juga tak malu menggoyang
pinggulku di atas tubuh Pak Anton. Bahkan ikut 'membantu' kedua belah
telapak Pak Anton meremasi buah dadaku. Lalu dia mengangkat punggungnya
dan memeluk tubuhku.
"Ohh...
sedapnya kamu, Ti." pelukannya makin erat sehingga tak memungkinkan
kami bergoyang lagi. Tubuhnya diam memeluk. Celaka, jangan-jangan dia
keluar. Dalam posisi begini jadi susah mencabutnya. Ternyata tidak.
"Ganti
posisi lagi ya, sayang..." Uh, dia memanggilku dengan 'sayang'.
Kulepaskan penisnya lalu aku turun dari pangkuannya dan ambil posisi
terlentang. Kulihat penisnya masih perkasa begitu. Sungguh mengherankan,
berbeda jauh dibanding beberapa hari lalu.
"Telungkup,
Ti." perintahnya. Ohoi, aku nurut saja. Begitu juga ketika dia mengatur
posisiku seperti merangkak. Gaya apa pula ini? Mas Adi belum pernah
begini. Punggungku dimintanya lebih merendah lagi. Pinggul bertumpu pada
lutut. Dan... ahh... penis Pak Anton memasuki tubuhku dari arah
belakang (belakangan aku tahu ini adalah gaya 'doggie'). Persetubuhan
gaya anjing. Enak juga.
Gila
nih lelaki, masih belum nyampe juga. Padahal beberapa hari lalu dia
'peltu', menempel langsung 'metu' (keluar). Setelah banyak tusukan gaya
doggie, Pak Anton minta mengubah lagi dengan gaya 'biasa', aku di bawah.
Rasanya gaya ini yang paling mendatangkan kenikmatan. Kembali Pak Anton
mempraktekkan berbagai variasi tusukan. Dan...
Oh... Aku juga tak kalah seru merintih dan melenguh. Merambat naik
pelan dan pasti. Serasa tubuh mulai terangkat dan melayang-layang. Makin
tinggi dan tinggi... dan... tubuhku bergetar. Tepatnya 'kedutan' tubuh
yang teratur dan di luar kontrolku. Kesadaranku sejenak hilang. Hawa
nikmat yang terpusat di selangkanganku kini menyebar ke seluruh tubuh,
sampai ke ujung-ujung jari sekalipun. Sampai- sampai tubuh Pak Anton
ikut berkedut, karena selama proses ’The big-O’-ku ini dia menghentikan
tusukannya dan mendekap tubuhku kuat-kuat.
Ketika
beberapa saat kemudian kedutan tubuhku makin melemah, Pak Anton melepas
dekapannya dan bangkit lalu mulai menusuki lagi. Ampuun... rasanya...
ngilu! Untunglah penderitaanku ini tak lama. Suatu saat dia mempercepat
pompaannya, lalu penisnya dicabut dan tumpah di perutku. Maninya
membasahi perutku yang telah basah oleh keringat. Keringat kami berdua.
"Uuhh...
uuhhh..." lenguhnya di sela-sela tarikan nafasnya yang memburu. Lalu
tubuh itu rebah di atas tubuhku. Kurasakan berat tubuhnya bertambah.
Mungkin karena dia lemas sehingga membebankan seluruh berat tubuhnya
pada tubuhku.
"Ooh, Ti... kamu sedap banget..." bisiknya di dekat telingaku sambil masih terengah. Aku diam. Pipiku diciumnya, lalu, "Punyamu itu... nikmat banget." Aku masih diam. "Sempit dan legit."
Tiba-tiba
aku tersadar. Aku yang sedang dalam proses mendarat kembali ke bumi
serasa dibangunkan dari mimpi. Ucapan Pak Anton yang terakhir itulah
yang menyadarkanku. Sadar betapa bodohnya aku. Bagi Pak Anton, aku
adalah bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seonggok daging yang dipilihnya
karena 'sempit dan legit'. Memang baru saja dia memberiku kepuasan sama
seperti yang dilakukan Mas Adi, tapi itu hanyalah 'efek samping' dalam
rangka usaha dia mencapai kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah tubuh alat
pemuas nafsu. Celakanya Aku membiarkan saja semuanya terjadi. Membiarkan
tubuhku ini sebagai alat dia mencari kenikmatan. Posisiku sebagai
pekerja tak mampu menolak umbaran nafsunya. Posisiku memang lemah.
Dalam
diriku tiba-tiba muncul rasa benci. Benci kepada diriku sendiri kenapa
jatuh pada posisi yang lemah begini. Juga benci kepada tubuh yang
menindihku, majikanku ini, yang telah memanfaatkan posisi di atas
anginnya untuk mendapatkan kenikmatan. Aku marah. Darahku mendidih. Aku
berontak. Dengan mudah aku lepas dari dekapan Pak Anton dan tubuh itu
terguling dari badanku, bahkan dia hampir terjerembab ke karpet.
"Ti..." teriaknya.
Aku
tak peduli. Aku bangkit dan masuk ke kamar mandi. Seharusnya aku tadi
mendorong tubuhnya biar sampai jatuh. Seharusnya aku tadi memakinya
ketika dia teriak. Tapi aku tak berbuat apa-apa. Rasa benci dan marah
hanya bisa membuatku menangis.
Pak Anton masuk. "Kenapa nangis, Ti?"
Kenapa kepalamu!
Bahuku disentuh. Langsung tangannya kutepiskan. "Bapak lebih baik keluar sekarang!" teriakku.
"Ya-ya... tapi kenapa?"
"Atau saya telepon Ibu?"
"Okay... okay..." dengan cepat dia keluar. Kukunci pintu kamar mandi. Kulanjutkan tangisku. Aku benar-benar membencinya.
Sejurus kemudian pintu kamar mandi diketuk. Pak Anton memanggil-manggil namaku. "Bapak belum juga keluar!" teriakku.
"Putri bangun, Ti."
"Pokoknya keluar dulu!"
Kubersihkan
tubuhku dari ceceran mani Si Maniak itu. Setelah aku yakin Pak Anton
telah keluar kamar, aku baru keluar kamar mandi. Kudapati Putri nangis
di pinggir ranjang, hampir jatuh, kubiarkan saja. Aku jadi malas
mengurusnya. Tapi lama-lama aku kasian juga, anak ini tak bersalah. Yang
jahat adalah bapaknya, kenapa dia yang jadi korban? Kuambil Putri dan
kupangku, langsung saja dia menyergap buah dadaku. Oh... Aku baru sadar
belum berpakaian. Ah biar saja, Putri begitu asyik mengemoti putingku.
Biar saja kalau tiba-tiba Bu Anton masuk melihat aku 'menyusui' anaknya.
Sekalian saja aku akan bilang tingkah suaminya yang telah meniduriku.
Biar mereka bertengkar. Biar. Begitu bencinya aku pada Pak Anton,
diam-diam tumbuh rasa dendam di hatiku. Ingin membalas kelakuannya. Tapi
bagaimana cara membalasnya? Sekarang memang belum terpikirkan. Pokoknya
nanti begitu ada kesempatan, aku akan melakukannya.
***
Aku
tak tahu apa yang harus kukerjakan siang ini. Bu Anton dan Ricky belum
pulang dari Mall, Si Putri sudah tertidur. Ah, lebih baik aku tidur
saja, lelah juga tubuhku dikerjain oleh Si Munafik itu. Dia
benar-benar munafik. Sering sekali dia menunjukkan keluarga yang
harmonis, sangat sayang kepada isterinya. Tapi dibelakang isterinya
diam-diam dia meniduri pengasuh anaknya, sambil menceritakan kekurangan
isterinya.
Kurapikan
tempat tidur kembali. Kutata sprei yang berantakan dan kubetulkan letak
bantal. Tiba-tiba mataku menangkap ada sampul tertutup di bawah bantal.
Sampul surat berlogo perusahaan Pak Anton dan tak ada tulisan tangan di
atasnya. Milik siapa ini? Karena rasa penasaranku, kubuka sampul itu.
Ternyata isinya setumpuk uang dan selembar kertas bertulisan tangan: "Narti, Bapak puas banget. Terima kasih ya. Besok Bapak hubungi lagi..."
Mandadak
darahku mendidih. Kurobek kertas itu dan kulempar amplopnya. Isinya
berantakan di lantai. Kurang ajar! Dianggapnya aku ini apa, perempuan
bayaran? Benar-benar suatu penghinaan dan pelecehan! Tak pernah
sedikitpun terlintas di kepalaku untuk menerima banyak uang tanpa
bekerja. Untuk apa aku bersusah payah kerja sebagai perawat di rumah
sakit? Untuk apa aku kerja sebagai baby sitter?
Niatku makin bulat untuk membalas dendam. Hati
boleh panas tapi kepala harus tetap dingin, begitulah ajaran ibuku.
Mana bisa menyusun rencana pembalasan dengan kepala panas? Aku coba
untuk mendinginkan diri. Kukumpulkan kembali uang yang berserakan itu,
aku masukkan ke dalam sampulnya bersama secarik kertas tulisannya.
Rencana uang itu akan kusimpan saja, tak akan kugunakan. Jumlahnya
hampir sama dengan dua bulan gajiku.
***
Ketika keluarga Anton makan malam bersama di restoran hotel, aku ikut untuk menyuapi Putri. Sesekali
ekor mataku menangkap mata Pak Anton mencuri-curi pandang ke arahku.
Suatu saat dengan memasang muka marah, kutatap mata Pak Anton, aha...
dia cepat menunduk dan jadi salah tingkah.
Selesai
makan, kami jalan-jalan menyusuri jalan depan hotel menikmati udara
malam Bandung yang sejuk, lalu masuk ke (lagi-lagi) Mall. Beginilah
model orang kaya berlibur. Kalau tidak ke luar negeri, ke Bali, atau
jalan-jalan ke Mall membeli apa saja. Suatu saat di sebuah butik di
lantai 1, Bu Anton sedang sibuk memilih-milih pakaian, Pak Anton
mendekatiku.
"Awas,
saya akan teriak." bisikku ketika tangannya mulai menjamah pipi Putri
yang kugendong. Aku mengantisipasi gerakan tangan dia selanjutnya. Pak
Anton langsung menjauh. Ciut juga nyalinya. Mungkin saja dia memang
hanya ingin menyentuh anaknya, bukan menjamahku, aku tak peduli.
Pulang
dari jalan-jalan, aku yang sudah demikian lelahnya ingin cepat-cepat
merebahkan tubuh. Untunglah Putri sudah lelap. Ricky menonton TV.
"Kecilin
suaranya ya, mas. Mbak mau tidur." pintaku. Ricky mematuhi. Lalu aku
terlelap. Aku memimpikan Mas Adi tiba-tiba menyusul ke Bandung dan
marah-marah kenapa aku mau saja ditiduri Pak Anton. Sambil menangis aku
menjelaskan situasinya yang menyudutkanku. Aku juga menyalahkannya. Lalu
tiba-tiba Mas Adi telah menindih tubuhku. Dibukanya kancing dasterku
dan kemudian bra-ku. Diusapnya bulatan buah dadaku, usapan seperti
biasa, mengambang antara sentuhan dan tidak. Lalu puting dadaku
dikemotnya.
Aku
terbangun dan kaget bukan main, begitu membuka mata, kurasakan sesosok
tubuh menindihku. Ah, ini mimpi. Ketika kesadaranku berangsur pulih,
hei! ini bukan mimpi. Samar-samar kulihat tubuh itu benar-benar ada.
Kepalanya menyusup di dadaku. Mulut itu benar-benar mengulumi.
Kemotannya terasa di
putingku. Aku berusaha bangkit, ah tubuhku lemah, kesadaranku belum
pulih benar. Tubuhku hanya sedikit terangkat. Kuluman itu terlepas. Ketika aku benar-benar telah sadar sepenuhnya, kuangkat kepala yang menindih dadaku. Ricky!
"Kurang
ajar!" tanganku melayang menampar pipinya, kanan dan kiri, cukup keras.
Aku marah benar. Kucengkeram kedua belah bahunya dan kuguncang- guncang
sementara mulutku memuntahkan bermacam makian. Ricky pasif saja, tak
melawan. Mukanya menunduk. Aku sadar, tak ada gunanya menyiksa anak ini.
Cengkeraman
kulepaskan. Meskipun aku jengkel bukan main, tapi aku masih mampu
menahan diri. Baru kusadari anak majikanku ini telanjang bulat.
Pakaiannya berserakan di karpet.
Aku
membetulkan letak bra-ku yang tersingkap ke atas dan memasang kancing
dasterku kembali. Kulihat Ricky sesenggukan, tubuhnya berguncang. Ricky
menangis. Kubiarkan dia. Menangis karena kupukuli tadi atau karena apa,
aku tak peduli. Entah sudah berapa lama tangisnya tak berhenti juga.
Lama-lama timbul rasa iba. Anak ini sebenarnya anak baik, penurut, tidak
nakal, punya tenggang rasa kepada pembantu sekalipun. Aku sungguh tak
menyangka dan shock mendapati dia menjamahi tubuhku. Selama ini aku
menganggap dia masih anak-anak. Tingkahnya memang manja kekanakan. Tapi
kelakuannya tadi adalah kelakuan lelaki dewasa. Anak sekarang memang
cepat matang dalam hal seksual, padahal Ricky baru kelas 2 SMP.
"Kenapa kamu, Rick?" aku bertanya.
Mendadak
Ricky bangkit dan kepalanya rebah di pahaku, tangisnya makin keras.
"Maafkan saya, mbak..." katanya terbata-bata. "Saya emang jahat kepada
mbak." lanjutnya. "Saya nggak bisa menahan... saya tak tahan, mbak."
Tak
tahan? Apanya? Tapi aku malas bicara malam ini, masih ngantuk. Begitu
nyenyaknya tadi aku tidur sampai tak merasakan Ricky telah membuka
kancing dasterku dan menyingkap bra-ku bahkan menciumi buah dadaku.
"Udah, tidur sana. Udah setengah satu." ujarku.
"Tapi mbak mau memaafkan saya, kan?"
"Ya. Asal jangan kamu ulangi lagi."
"Ya, mbak."
"Kalau kamu nakal lagi, mbak akan seret kamu keluar kamar, mbak kasih tahu papa mama."
"Saya janji, mbak."
"Pakai baju kamu terus tidur."
Ricky menurut. Kuperhatikan dia mengenakan pakaiannya. Tubuhnya memang telah menjadi tubuh lelaki dewasa. Bahkan kelaminnyapun
tak beda dengan kelamin lelaki dewasa. Anak ini memang sedang tumbuh.
Aku harus lebih berhati-hati. Setelah Ricky merebahkan tubuhnya hendak
tidur, aku berniat keluar kamar sekedar menghirup udara segar. Kulihat
dibawah pintu ada secarik kertas tergeletak. Kurang ajar! Tulisan Pak
Anton. Kulirik Ricky sudah terlelap, aku mendekat ke lampu baca di dekat
bed.
"Besok pagi jam 10 Bapak tunggu di kamar 509 lantai 5..."
Lelaki
ini benar-benar ular! Berlibur ke luar kota membawa keluarganya,
menginap di hotel mengambil 2 kamar di lantai 4, sementara diam-diam dia
mengambil kamar lagi di lantai berbeda dan dengan penuh percaya diri
mengajak pengasuh anaknya untuk disetubuhi! Benar-benar
keterlaluan. Tunggu saja besok! Hampir saja aku merobek-robek kertas
itu. Rencanakulah yang mencegah aku merobeknya. Kulipat kertas itu
baik-baik lalu kusimpan dalam sampul uang tadi.
***
Esok
harinya, Sabtu, Ricky jadi murung dan pendiam, tak seperti biasanya
yang lincah dan aktif. Dia menghindar setiap kutatap matanya. Tak lagi
bermanja- manja ke pangkuanku. Bahkan kalau tak dipaksa ibunya untuk
sarapan, dia tak mau makan. Tak heran pula ketika diajak bapak-ibunya
jalan-jalan, dia pilih tinggal saja di hotel.
"Kamu sakit, Nak?" tanya ibunya.
"Nggak, Ma."
"Trus kenapa nggak mau jalan?"
"Males aja. Capek. Lagian Ricky pengin main play-station."
Setelah
ayahnya pergi, Ricky memang terus memasang perangkat play-station ke TV
kamar dan lalu tenggelam dengan mainan yang populer di kalangan
anak-anak dan remaja itu. Aku tahu, Pak Anton tidak benar-benar pergi keluar hotel. Paling-paling hanya naik satu lantai.
Aku
sebenarnya ingin meng'interogasi' anak ini dan ingin tahu kenapa dia
tadi malam sampai senekat itu. Kubiarkan dia main sampai satu jam dan
akhirnya dia matikan TV dan beranjak keluar kamar.
"Ricky,"
panggilku. Dia menoleh sekejap terus menunduk. Tapi dia mengurungkan
niatnya keluar kamar dan berjalan mendekatiku. "Duduk, mbak mau bicara."
kataku.
Ricky
duduk di tempat tidur Putri dan Aku duduk di tempat tidur lainnya. Dia
diam menunggu. "Kenapa kamu tadi malem?" Ricky diam, kepalanya makin
menunduk.
"Bicaralah, mbak nggak marah lagi kok." sambungku.
"Bener, mbak nggak marah lagi?"
"Asal kamu mau terus terang,"
Lama dia diam terus belum mau membuka mulut. Aku harus bersabar menunggu.
"Saya... saya memang udah lama pengen..." katanya terbata-bata.
"Pengen? Pengen apa?"
"Ya... begituan..."
Sementara
aku masih terkejut betapa cepatnya anak ini jadi 'matang', Ricky
nyerocos melanjutkan. "Temen-temen Ricky sering cerita begituan sama
pacarnya, kaya'nya enak banget. Ada juga yang sama cewek bayaran. Ricky
pengin juga, tapi nggak punya pacar."
Oh,
anak ini masuk dalam lingkungan pergaulan yang salah. Berani bertaruh,
ibunya pasti pingsan mendengar anaknya sudah sejauh ini. "Papa mama udah
tahu Ricky pengin begituan?" tanyaku.
"Jelas nggak dong, mbak."
"Kenapa kamu ngga cerita ke papa atau mama?"
"Nggak berani, Ricky takut."
"Kenapa kamu berani sama mbak?"
"Maaf, mbak..." wajahnya sudah mau menangis.
"Maksud mbak... kenapa kamu pengin ke mbak?"
"Mbak kan baik banget sama Ricky... minta pangku... nyender ke mbak..."
"Tapi..." belum selesai aku bicara, Ricky memotong.
"Sebenarnya
Ricky naksir cewek temen sekelas. Anaknya manis. Ricky suka kalo lihat
dia senyum, manis banget. Badannya tinggi hampir sama ama Ricky...
trus... teteknya gede."
"Trus, kamu pacari dia?"
"Iya,
tapi... belum. Gini, Ricky udah deketin dia. Kayanya dia nerima, tapi
kadang-kadang dia juga acuh. Paling makan ke kantin berdua. Kalo deketan ama dia, Ricky suka nggak tahan.”
"Nggak tahan apa?"
"Ngliat dadanya.... pengin Ricky remes atau ciumin, kaya temen-temen ama pacarnya."
"Trus?"
"Tapi... tapi..."
"Tapi apa?"
"Dadanya lebih bagus... punya mbak..."
"Bagus apanya?"
"Mbak nggak marah kan?"
"Nggak."
"Punya mbak bulat, dan... lebih gede."
Tentu saja, bandingannya sama anak SMP yang baru tumbuh.
"Pernah
suatu ketika Ricky udah nggak tahan... trus Ricky pegang dadanya...
wah, dia marah banget, ampe sekarang dia nggak mau ngomong lagi ama
Ricky." lanjutnya.
"Trus kenapa berani ganggu mbak?"
Ricky diam.
"Kenapa, Ricky?"
"Habisnya...
habisnya Ricky pengin banget. Lagian mbak tidurnya pules banget sih.
Coba kalo mbak waktu itu bangun, nggak sampai begitu."
Pengakuan
polos anak-anak. Aku bisa menerima penjelasannya, bisa memaklumi
perbuatannya. Kelakuan seorang anak yang baru mulai tumbuh, yang selalu
ingin tahu segalanya, termasuk soal seks. Yang tidak bisa kuterima
adalah kenapa bapak dan anaknya sama-sama nakal terhadapku. Seolah
menganggapku hanyalah obyek belaka. Cuma obyek seksual. Aku memang
memendam dendam kepada bapaknya. Tiba-tiba terlintas pikiran jahat di
kepalaku. Ah... tapi tidaklah.
Pintu kamar di ketuk, Bu Anton masuk. "Ti, Ibu mau keluar dulu ya."
Kulihat arlojiku, pukul 9.25. "Saya ikut ya, Bu." kataku.
"Kan Putri lagi tidur."
"Ntar saya gendong aja."
Tatapan mata Bu Anton rada aneh. "Ayolah," tapi tetap menyetujui.
Di perjalanan, Bu Anton menanyaiku. "Kenapa kamu pengin banget ikut?"
"Mengganggu Ibu, gitu?"
"Nggak, cuman nggak biasanya kamu begitu."
"Gak
ada pa-pa kok, Bu. Bosan di kamar terus." alasanku yang sebenarnya sih
menghindari ajakan Pak Anton untuk 'ngamar'. Rasain dia menunggu terus.
***
Tingkah
Pak Anton sewaktu makan malam di restoran tadi benar-benar membuatku
ingin melaksanakan pikiran jahatku. Kami makan malam hanya berempat,
Ricky tak mau turun, hanya minta dibelikan makanan. Padahal Bu Anton
hanya ke toilet sekitar 5 menit, masih sempatnya dia merabaku sambil
berbisik, "Kenapa tadi nggak dateng? Saya pengen lagi."
Dengan
kasar kutepis tangannya, lalu kubawa Putri menghindar. Aku benar-benar
marah. Marah karena dia tahu persis aku tak bakalan lapor kepada
isterinya. Dia tahu persis posisiku yang lemah dan lalu memanfaatkannya.
"Gimana, Ti?"
"Pokoknya,
begitu Bapak mulai macem-macem lagi, saya langsung bilang ke Ibu!"
ancamku. Mendadak dia jadi diam seribu bahasa, lalu kembali ke tempat
duduknya dan minum. Wajahnya sungguh sulit dibaca. Tegang mungkin.
"Cuman
segitu..." pikirku. Lelaki gagah itu langsung surut begitu mendengar
ancamanku. Begitu takutnya dia kalau isterinya tahu. Padahal aku cuma
mengancam, belum tentu berani melaksanakan ancamanku. Karena aku belum
berniat berhenti kerja, aku masih punya 'hidden agenda', yaitu rencana
untuk membalas dendam!
Malam
ini keluarga Anton tak punya acara, setelah makan malam suami isteri
itu langsung menuju kamar dan mengurung diri. Mungkin karena besok harus
bangun pagi untuk kembali ke Jakarta. Atau mungkin Pak Anton sudah tak
tahan ingin segera melampiaskan hasrat seksualnya yang tadi tertahan. Melampiaskan ke 'jalan yang benar', yaitu kepada isterinya.
Aku
pun segera ke kamarku menidurkan putri. Si Ricky masih takut-takut
kepadaku. Dia masih asyik bermain game. Tak seperti biasanya ikut
bermanja-manja ketika aku menidurkan adiknya.
"Udah malam, kamu besok harus bangun pagi-pagi. Tidurlah." kataku.
"Ya,
mbak." Ricky langsung mematikan mainannya dan merebahkan diri ke kasur.
Anak ini memang jadi pendiam. Aku memejamkan mata mencoba tidur.
"Mbak..." suara Ricky mengejutkanku ketika aku hampir terlelap.
"Ada apa?"
"Mbak udah tidur?"
"Hampir."
"Ricky mau nanya-nanya, boleh nggak?" tampaknya Ricky sudah pulih, tak takut-takut lagi bicara kepadaku.
"Nanya apa?"
"Kalau begituan, bisa hamil ya, mbak?"
"Kamu udah begituan?" agak kaget juga aku. Pertanyaan yang tak kuduga.
"Nggak lah, mbak. Temen Ricky yang bilang."
"Apa katanya?"
"Dia nggak berani 'gituin' pacarnya. Takut pacarnya hamil."
"Kamu memangnya belum tahu?"
"Belum."
"Nggak diajarin di sekolah?"
"Nggak dong, masa pelajaran gituan."
"Di Biologi kan ada pelajaran tentang terjadinya bayi,"
"Nggak ada tuh, mbak. Gimana dong, mbak, Ricky pengin tahu."
Aku
lalu cerita tentang terjadinya pembuahan sel mani dan sel telur melalui
proses hubungan kelamin, tentang janin sampai menjadi bayi.
"Hmm... pantesan." komentarnya.
"Apanya?"
"Si Rudy sering gituan tapi pacarnya tapi nggak hamil. Kata dia cabut duluan sebelum keluar."
"Temen sekolah kamu udah ada yang pintar begitu."
"Dia udah SMU kok, mbak. Kalau begituan kayanya enak banget ya, mbak?"
"Iya.
kalau nggak enak, nanti gak ada manusia yang mau punya anak. Trus
akibatnya manusia bisa punah." Tiba-tiba terlintas pikiran burukku.
Inilah saatnya! Telah tiba waktuku untuk bertindak! Ah, tapi aku tak
tega. Lain kali saja dipertimbangkan lagi.
"Udah, tidur aja." kataku selanjutnya.
Aku
mencoba tidur lagi. Si Ricky tampaknya belum tidur juga. Badannya bolak
balik. "Ricky nggak bisa tidur." keluhnya setelah setengah jam tak
bersuara.
Aku diam saja.
"Mbak, Ricky gak bisa tidur." ulangnya.
"Ya udah, jangan ganggu mbak dong."
Lalu hening. Tapi sejurus kemudian. "Mbak..."
"Apa lagi sih, Rick?" aku mulai jengkel.
"Ricky mau pindah kesitu, boleh?"
Di bed besar ukuran King ini, aku biasa di sisi kiri, Putri di tengah, lalu Ricky di sebelah kanan.
"Ya udah sini." aku mempersilakan. Pikirku, supaya dia cepat tertidur dan tak menggangguku lagi.
Ricky
dengan perlahan menggeser adiknya sedikit ke kanan, lalu dia tidur di
tengah. "Hati-hati, ntar adikmu jatuh lho." aku memperingatkan.
"Iya, mbak." dia mengganjal tubuh Putri dengan guling. "Peluk Ricky dong, mbak, supaya cepet tidur."
Aku diam. Malas. Bahkan memiringkan tubuhku membelakanginya.
"Ya
udah, Ricky aja yang peluk mbak." Kubiarkan saja Ricky memeluk tubuhku
dari belakang. Lalu ketika aku mulai terlelap, kurasakan sesuatu menekan
pinggangku. Anak ini memang sedang mendekati puber, menjadi gampang
terangsang. Hari-hari sebelumnya dia sering memeluk tubuhku seperti ini,
tapi tak kurasakan apa-apa. Mungkin sejak dia berani menjamahku
kemarin, ’penghayatan’ atas sikap memeluk tubuhku menjadi berbeda.
Sekarang ini bukannya seorang anak memeluk tubuh pengasuhnya, tapi
sesosok tubuh lelaki menjelang puber yang sedang memeluk tubuh seorang
wanita dewasa.
Kenyataan
ini telah membuatku mengambil keputusan: sekaranglah saatnya. Telah
tiba waktunya untuk membalas dendam kelakuan Pak Anton terhadapku. Telah
datang saatnya untuk membuat seorang anak 12 tahun menjadi ’dewasa’
secara mendadak. Ya, inilah waktu yang tepat!
Aku lalu melepaskan diri dari pelukan Ricky dan turun dari tempat tidur.
"Mau kemana, mbak?" dia bertanya, tampak tidak rela.
"Pipis." jawabku pendek.
Di
dalam kamar mandi yang terkunci, aku melepaskan dasterku. Bra dan
celana dalam kulepas juga. Aku telanjang bulat berdiri di depan cermin
mengamati tubuhku sendiri. Sepasang buah dada yang bentuknya tak berubah
sejak mereka tumbuh, masih bulat kencang ke depan. Perut bak landasan
rata dengan dihiasi pusar yang begitu melesak ke dalam. Lalu dibawahnya,
tumbuh bulu-bulu halus menutupi permukaan lubang kelamin yang katanya
'legit', begitu pria beristeri di kamar sebelah pernah mengatakannya.
Inilah bedanya antara lelaki nakal yang sudah berpengalaman itu dengan
lelaki seperti Mas Adi. Mas Adi hanya berkomentar 'susah masuknya' atau
'enak banget', bukannya legit. Emangnya kue lapis!
Kukenakan
dasterku kembali lalu aku keluar dengan meninggalkan bra dan celana
dalamku di gantungan kamar mandi. Inilah saatnya! Kurebahkan tubuhku di
kasur, kali ini ku terlentang dan memejamkan mata, pura-pura hendak
tidur. Ricky yang tadinya terlentang memiringkan tubuhnya ke arahku,
lalu kurasakan sebelah tangannya memeluk perutku dan sebelah kakinya
menyilang di atas pahaku. Aku dipeluknya seperti kebiasaannya memeluk
guling. Segera saja kurasakan kelamin tegang itu mendesak sisi
pinggulku.
Persis
seperti dugaanku, telapak tangannya mulai merabai dadaku setelah
setengah jam dia diam saja. Dia berani memulai setelah aku disangkanya
telah tertidur. Kubiarkan tangannya membukai kancing atas dasterku satu
persatu, lalu tangannya menyusup ke balik dasterku. Mungkin dia kaget
melihat aku tak memakai bra. Diciuminya bukit dadaku lalu mulutnya pun
sampai ke putingnya, dikemotnya pelan benda mungil lemerahan itu.
Saatnya
beraksi. Tanganku lalu membelai-belai rambut dan punggungnya. Ricky
tersentak mengetahui ternyata aku tak tidur. Kulumannya terlepas dan
kepalanya terangkat memandangiku. Aku tersenyum.
"Mbak..."
"Kamu mau ngapain lagi, Rick?"
"Ricky pengen, mbak. Pengen banget. Boleh ya, mbak?"
"Pengin apa?"
"Pengen main sama mbak."
"Main apa?"
"Ah, mbak ini. Boleh ya, mbak?"
"Ntar kalo mbak hamil gimana?"
"Kaya Si Rudy aja, dicabut."
"Bener kamu pengen?"
"Bener, mbak, pengen banget!"
"Kenapa nggak sama temen sekolah kamu, yang sebaya?"
"Temen sekolah nyebelin. Pengennya sama mbak aja."
"Kenapa pengen sama mbak?"
"Habisnya mbak baik..."
"Nggak nyesel kamu?"
"Nyesel kenapa?"
"Ya udah, lepas dulu baju kamu."
Kontan Ricky bangkit dan secepat kilat melepas pakaiannya hingga telanjang bulat. Penisnya
sudah begitu tegang mengacung, tak beda dengan penis orang dewasa. Lalu
tanpa diminta dia melepas kancing dasterku terus ke bawah. Ketika
sampai di kancing bagian bawah perut, dia tertegun melihat aku tak
memakai celana dalam lagi.
Ketika
dasterku telah lepas seluruhnya, Ricky langsung menindih tubuhku.
Penisnya menekan-nekan selangkanganku, tapi salah sasaran.
"Bukan
begitu caranya, sini..." tanganku meraih batang penisnya, kusuruh dia
menempatkan kedua lututnya di antara pahaku yang kubuka lebar. Kutuntun
penisnya menuju arah yang benar, liang senggamaku. Tusukan dia tadi
mengarah di atas clit-ku. Lalu kuberi isyarat agar dia mulai menekan.
Aku belum basah benar sehingga dengan susah payah akhirnya Ricky
berhasil membenamkan seluruh batang penisnya ke dalam tubuhku. Lalu dari
berlutut dia mengubah posisi tubuhnya menjadi menindih tubuhku. Kupeluk
erat tubuhnya, tapi sesaat kemudian mendadak dia mengangkat tubuhnya
kembali dan lalu dengan cepat mencabut penisnya. Dan... air maninya
berhamburan di perut dan buah dadaku.
"Hmm, kok udahan?" komentarku mulai menyerang.
"Habis... nggak tahan lagi, mbak." katanya terengah-engah.
"Bentar
banget." kataku menusuk. Ricky diam. "Cuman bikin kotor badan mbak
doang. Apa enaknya kalo begini?!." aku terus menyerangnya. Menghancurkan
harga dirinya.
"Berhubungan
seks tak boleh egois, asal dirinya udah puas lalu selesai. Lihat juga
gimana pasangan kita, apa dia juga puas?" lanjutku. Ricky masih diam.
Sebenarnya aku juga tahu kenapa dia begitu cepat ejakulasi. Ini
merupakan pengalaman pertama bagi Ricky dalam bersetubuh. Letak
lubangnya pun dia belum tahu persis. Cepat selesai bagi lelaki yang
pertama kali melakukan adalah hal wajar. Mas Adi juga begitu. Sudah
bagus Ricky mampu sampai penetrasi.
Seranganku ini merupakan
langkah pertama dari agenda balas dendam. Langkah kedua atau langkah
terakhir sudah tersusun di kepalaku. Hanya pelaksanaannya membutuhkan
persiapanku, baik mental atau fisik, serta waktu yang tepat. Yang jelas
langkah pertama ini aku nilai berhasil. Ricky sama sekali berubah,
menjadi pendiam. Tak pernah lagi bicara denganku. Jangankan bicara,
melihat mukaku pun seperti ketakutan.
***
Waktu
yang kutunggu pun hampir tiba, setelah Mas Adi menyetujui rencanaku
pindah ke Semarang menyusul dia. Sebelum dia setuju memang terjadi
'diskusi' yang cukup seru.
"Kenapa sih kamu tinggalin kerja yang udah enak ini?" tanyanya.
"Habis,
Mas belum tentu bisa ke sini tiap minggu." jawabku. Baru kali ini aku
menyembunyikan sesuatu dari Mas Adi. Aku terpaksa tidak berterus terang
mengatakan alasanku yang sebenarnya. Yaitu menghindar dari Pak Anton
sekaligus membalas dendam.
"Itu kan awalnya aja, mulai Maret nanti Mas bisa kok tiap minggu ke Jakarta."
"Maret masih lama, pengennya sekarang ini tiap minggu ketemu ama Mas."
"Kenapa, kangen ya ama mas?" pipiku diciumnya.
"Nggak, cuman kangen sama ini..." kuelus penisnya. Lalu
Mas Adi menubrukku hingga aku terlentang. Saat berikutnya dia
menelanjangiku. 'Diskusi'nya break dulu. Ada selingan nikmat :
persetubuhan.
"Kamu
nggak ada masalah dengan keluarga Anton, kan?" tanyanya. Tubuh Mas Adi
masih menelingkupi tubuhku, bahkan kelamin kami pun masih 'berhubungan'.
Tadi kami sepakat untuk melakukan hubungan seks 'dengan
sebenar-benarnya'. Artinya, Mas Adi tak perlu mencabut menjelang puncak.
Mas Adi berejakulasi di dalam tubuhku. Sungguh suatu sensasi baru.
Merasakan pengalaman baru bagaimana benda hangat itu berdenyut-denyut di
dalam sana. Kalau ternyata benih itu 'jadi', ya urusan nanti lah.
"Nggak ada masalah apa-apa kok."
"Trus kamu nanti kerja di mana?"
"Kerja di rumah sakit ajalah. Lebih enak kaya'nya."
"Katanya dulu lebih enak jadi baby sitter."
"Iya, dulu. Sekarang lain. Ntar bantuin Narti bikin surat-surat lamaran ya, mas."
"Okelah, kalau mau kamu begitu."
"Bener nih, mas setuju?"
"Iya."
"Nggak nyesel?"
"Nyesel apa?"
"Ntar ketahuan punya simpenan di Semarang." candaku.
Digigitnya buah dadaku. "Rupanya itu ya alasanmu."
***
Minggu
pagi itu, aku sudah siap. Semua pakaianku sudah kumasukkan ke dalam
koper kecil, dan barang-barang lainnya telah masuk ke tas jinjing.
Rasanya seluruh benda milikku telah aku kemas, kecuali sampul berisi
uang dan selembar kertas dari Pak Anton dulu, sengaja aku rekatkan ke
cermin hias dengan selotape. Kukunci
pintu kamarku dan kuncinya aku bawa. Mas Adi dan temannya sudah siap
mengantarku ke stasiun Gambir dengan mobil kakaknya. Dia sekarang parkir
di depan rumah. Sengaja tak kuminta dia masuk, alasanku agar tak
berlama-lama pamitnya. Pagi ini, aku dan Mas Adi akan ke Semarang dengan
KA. Kubawa 2 tas itu ke depan, di mana Pak dan Bu Anton duduk-duduk
minum teh.
"Ibu
boleh check isi tas-tas ini." kataku sambil membuka koper dan tasku
lebar-lebar. Supaya dia yakin aku tak membawa benda-benda bukan milikku.
"Tak perlu, Ti, aku percaya kamu. Kamu sudah pikirkan benar?" tanya Bu Anton.
"Sudah, Bu."
"Terus terang, Ibu menyayangkan keputusanmu. Ibu inginnya kamu tetap di sini."
"Saya sudah putuskan, Bu."
"Jujur saja Ti ya. Ada apa sebenarnya?"
"Nggak ada apa-apa, Bu. Ini hanya demi masa depan saya bersama Mas Adi." Ekor mataku menangkap Pak Anton sedang menatapiku.
"Toh dengan kerja di sini tak ada masalah dengan pacarmu, kan?"
"Lebih baik kalau saya tinggal satu kota dengan tunangan saya, Bu."
"Atau ada masalah lain, gaji misalnya?"
"Nggak ada masalah dengan gaji."
"Anak-anak, Bi Ijah atau Bang Hasan?"
"Sama sekali tidak."
"Lalu apa?"
"Ibu benar-benar ingin tahu?"
"Iya dong."
Saatnya mulai serangan. "Ibu bisa tanya ke Bapak!" kataku dengan nada rada tinggi dan menatap mata Pak Anton.
Mata
Bu Anton terbelalak. Ditatapnya suaminya, lalu pindah memandangku. Ke
suaminya lagi. Berganti-ganti. "Kalian... berdua...?!" katanya kemudian.
"A-aku... tak percaya..." kata Bu Anton terbata-bata.
Saatnya
melancarkan serangan terakhir. "Sudah saya duga Ibu tak akan percaya.
Ibu ingat waktu di Bandung saya ngotot ingin ikut Ibu ke Mall?"
Bu Anton hanya melongo.
"Silakan Ibu ke kamar saya, lihat di cermin. Ini kuncinya." kuserahkan kunci kamarku ke Bu Anton.
"Kalian tunggu di sini." Bu Anton mengambil kunci dari tanganku dan bergegas ke belakang, menuju kamarku.
Aku
juga bergegas mengangkut tas-tasku dan melangkah keluar rumah. Sebelum
keluar pintu, aku sempat 'menghadiahkan' senyuman kepada wajah pucat Pak
Anton. Senyum kemenangan. Aku menuju mobil, Mas Adi membantuku
mengangkat koper. Lalu kami berangkat meninggalkan rumah keluarga Anton
menuju stasiun Gambir.
Sebentar
lagi akan terjadi 'perang baratayuda' antara suami-isteri Anton.
Setumpuk uang yang tak berkurang sesenpun dan secarik kertas tulisan
tangan Pak Anton yang berisi ajakan ke kamar 509, serta 'alibi'ku ikut
Bu Anton pada hari dan jam itu, telah menjelaskan semuanya.