Sabtu, 21 Februari 2015

Sari Sekertarisku

Aku adalah seorang pria single fighter, sebenarnya statusku saat ini adalah seorang duda. Aku mengaku seorang pria single fighter dikarenakan aku sekarang sudah tidak beristri lagi. Aku dahulu seorang suami yang sangat bahagia karena aku mempunyai seorang istri yang cantik dan begitu sayang kepadaku. Di istanaku saat itu tinggal aku, istriku, ibu mertuaku dan seorang pembantu perempuan. Sebelum aku menceritakan kisah dilema mahligai rumah tanggaku, aku ingin menceritakan tentang pengalamanku dengan sekretarisku. Sebut saja namaku Hendi, usiaku saat ini baru menginjak 28 tahun. Profesiku Presiden Direktur, tentu saja di perusahaanku sendiri. Aku tinggal di perumahan Kelapa Gading.

Pada suatu ketika perusahaanku mengadakan acara liburan untuk karyawan, acara ini selalu rutin dilakukan untuk menambah gairah kerja para karyawanku. Karena aku boss di perusahaan tersebut aku harus ikut, sedangkan istriku pada saat itu sedang ada halangan katanya sih ada urusan keluarga. Jadi aku memutuskan untuk pergi sendiri.

Aku mempunyai sekretaris Sari namanya, aku merasa bahwa aku harus memilikinya. Kalau di kantor dia selalu mencoba bertingkah genit dari kerling matanya itu atau dari caranya berpakaian, dari situ aku tahu
kalau dia suka padaku. Seperti biasanya aku pulang memang agak sore, Sari sudah gelisah ingin pamit pulang tapi aku masih saja berkutat dengan laporanku.

"Sari kalo udah mau pulang duluan aja, nggak pa-pa kok, sekarang udah jam 5 lewat 20, entar ketinggalan kereta lho lagian udah mendung kalo hujan kan entar kebasahan", kataku sambil tersenyum. "Iya Pak", sambil berkemas dan secara tidak sengaja pulpennya jatuh dan dia memungutnya, otomatis dari posisi duduk dia berputar, roknya tersingkap dan secara tidak sengaja aku melihatnya, wah memang benar terawat sampai ke ujung pahanya begitu pula dengan dengan segitiganya yang berwarna putih. Sambil memungut pulpen dia nunduk dan serta merta dia menutup bajunya yang otomatis terlihat kalau nunduk. "Sar, lain kali pake bajunya yang ketutup aja biar nggak repot", kataku. "Nggak enak Pak, saya justru nggak seneng pake baju yang kerahnya terlalu tertutup", katanya sambil tersenyum, karena dia tahu maksudku ngomong seperti itu. Tak lama kemudian Sari pergi, dan aku terus bekerja.

Sari memang betul-betul merupakan wanita ideal di benakku. Ia bertubuh tinggi, dengan pinggul yang indah dan pantat menjungkit seperti penari Bali. Aku ingat pengalaman pertama bercinta dengannya Dan kesempatan pun tiba pada acara tahunan tersebut, saat acara sudah hampir selesai, kuajak Sari keluar dari ruangan itu. "Sar, temenin Bapak keluar jalan-jalan yuk?" Ajakku. "Iya Pak, Sari juga sudah sumpek di sini sejak tadi sore", jawab Sari. Kita pun keluar dengan mobilku, tak terasa sudah jam 1.00 malam. Kita
pun kembali ke Villa perusahaan.

Setelah sampai, aku memberanikan diri menggandeng seketarisku yang genit itu, kita menyusuri lorong kamar-kamar karyawan. Dan akhirnya tiba di depan pintu kamar Sari. "Pak, malam ini mau nggak bapak nemanin saya.. soalnya Sari takut kalau tidur sendirian", kata Sari. "Tapi kamu kan bisa minta ditemanin sama karyawan cewek yang lain", jawabku, tapi dalam hatiku berharap agar Sari memaksaku untuk menemaninya malam ini, yang sebenarnya sangat kuharap-harapkan. "Mana ada yang mau Pak? Orang sudah pada tidur semua, lagipula mereka kan sudah ada yang menemani malam ini", desak Sari. Memang sih pada acara tahunan kali ini karyawan perempuan yang masih single dan ikut ke acara tersebut hanya Sari, sedangkan karyawan yang lain sudah membawa pasangannya sendiri-sendiri. "Tapi nanti jam 7.00 pagi kamu bangunin Bapak yah. Soalnya kalau ketahuan karyawan yang lain kan nggak enak kita, apalagi bapak kan atasan mereka", jawabku. Akupun masuk mengikuti Sari, tapi sebelumnya aku minta izin pada Sari untuk ganti baju tidur dulu di kamarku. Pertama kali sangat canggung dan hanya berbincang-bincang saja di kamar. Ketika tiba saat untuk tidur, aku bermaksud tidur di sofa. Aku merasa harus menghargainya, toh kami belum menikah. Namun ia menarikku ke tempat tidur. "Kita tidur pelukan boleh kan Pak, asal nggak lebih dari itu",
katanya manja. Aku menuruti kemauannya dengan kikuk. Beberapa menit kami berbaring diam dalam satu selimut. Sari hanya mengenakan t-shirt tipis dan kain sarung, begitu juga aku. Saat kulit kami bersentuhan, jantungku berdesir. Tanpa terasa pipi kami saling menempel. Udara dingin membuat ia mengetatkan pelukannya dan akhirnya bibir kami saling berpagut. Awalnya sangat canggung, namun tak lama gerakan kami menjadi lebih luwes dan lidah kami pun saling bergulung. Ciuman yang ketat membuatku kehilangan kendali, lalu tanganku menjadi liar meraba ke payudaranya. Nafas Sari pun semakin memburu.

Lalu aku berusaha melucuti t-shirtnya. Sari tidak menolak, bahkan tangannya juga berusaha melucuti bajuku. Dengan satu sentakan kutarik BH-nya sehingga kulihat tubuhnya yang indah itu hanya berbalut celana
dalam tipis. Aku menikmati beberapa saat pemandangan itu, Sari yang berbaring telentang, dengan pandangan mata yang sulit kulupakan. Lalu kucium lagi bibirnya perlahan. Sari mengerang perlahan, "Ooohhh..", bibirnya setengah terbuka dan basah sangat membuatku terangsang. Lalu tanganku mulai bermain di payudaranya, membuat ia makin menggelinjang. Ketika tanganku kuturunkan hingga mencapai gundukan kewanitaannya dan bibirku meluncur mengulum puting susunya, tiba-tiba ia mendorongku dengan keras. Lalu tangannya bergerak cepat menarik celanaku sambil berdesah, "Pak, buka celananya.." Dengan satu gerakan aku melepas celana dalam, dan ia melakukan hal yang sama. Kini dapat kulihat tubuh indah itu tanpa penghalang apapun.

Sari menarikku ke dalam pelukannya dan kami kembali bercumbu dengan hangatnya. Aku menyisir seluruh tubuhnya dengan bibirku. Mulai dari ubun-ubunnya, turun ke bibirnya, lalu ke lehernya yang jenjang. Sari
berbaring telentang dengan kedua pahanya yang putih dibuka lebar, sementara aku menindih dan mengulum bibir dan lehernya, batang kemaluanku yang telah keras dan liang senggamanya yang terasa basah tanpa sengaja bersentuhan. Betapa nikmatnya. Lalu aku mulai menyisir ke payudaranya dan mulai mengulum puting payudaranya yang mengeras. Aku jilati puting susunya dan melingkari areolanya, membuat Sari
menggelinjang dengan hebat sambil merintih keras, "Aduh.. nikmat.. Pak.. teruss.. ooohh.." Karena posisiku agak merendah ke bawah maka aku dapat merasakan kehangatan liang kewanitaannya yang basah diperutku.

Sari terus merintih sambil sesekali pahanya yang jenjang menghentak naik turun di atas pinggangku, sementara pelukannya semakin erat. Lalu ia menarik tubuhku ke atas hingga bibir kami kembali berpagut.
Sambil tersengal ia mendesah dengan penuh birahi, "Pak, Sari pingin disentuh dengan punya bapak.." Aku mengerti yang ia inginkan. Aku lalu mulai menggesek-gesekkan batang kemaluanku ke liang kenikmatannya. Liang senggamanya terasa makin membanjir dan terbuka. Aku terus menggesek dan menyibak labia mayoranya dan merasakan klitorisnya yang semakin membengkak. Sari menggoyangkan pinggulnya
dengan kencang sambil merintih, "Teruus.. Pak.. nik.. matt..., ooohhh.." Tangannya memeluk kencang di bahuku dan kukunya membenam di kulitku hingga membuatku sedikit perih. Namun rasa perih itu
terkalahkan oleh buaian kenikmatan yang luar biasa. Gerakan itu semakin kencang dan aku sudah tidak tahan untuk segera memasuki tubuhnya.

Aku berhenti menggesek klitorisnya dan mulai mencari jalan untuk memasuki lubang kemaluannya yang sudah banjir oleh cairan kewanitaannya. Aku menatap Sari sebentar dan menemukan hasrat yang sama di matanya. Dengan perlahan tangannya membimbingku memasuki lubang kenikmatannya. Dengan satu dorongan pelan aku mulai memasuki tubuhnya, sedikit demi sedikit. Aku tahu ia sedikit kesakitan, karena
ini pertama kali baginya, namun kebasahannya sangat membantu batang kemaluanku menemukan jalannya. Ketika batang kemaluanku hampir separuh masuk dalam liang kenikmatannya, tangannya memelukku dengan
amat keras dan tubuhnya bergetar hebat. Aku merasakan cairan lebih banyak lagi membanjiri kemaluannya dan dengan satu dorongan aku menusuk hingga bagian terdalam dari kemaluannya. Tubuhnya menggigil
dan mulutnya meracau, "Eeeenak.. Pak.. ooohh.. tekan yang.. dalaam.. ooohh.." ketika aku mulai menggerakkan batang kemaluanku naik turun. Pada setiap gerakan menusuk aku menekan dengan begitu dalam. Sari menggoyangkan pinggulnya, kedua kakinya menjepit pinggulku begitu keras.

Aku akhirnya tak tahan lagi dan merasa sudah hampir tiba waktunya. Pada gerakanku yang terakhir, aku merasakan seluruh tubuhnya menggeletar, menyambut spermaku yang memenuhi rongga kewanitaannya
saat ejakulasi. Kukunya makin dalam terbenam di punggungku dalam satu pelukan yang ketat dan tubuh kami sama-sama menggeletar. Untuk beberapa saat hanya kenikmatan tiada tara yang kami rasakan dan entah berapa lama kami terus berpelukan menikmati keindahan itu dengan mata terpejam, dengan batang kemaluanku tetap kubiarkan di dalam liang kenikmatannya. Ketika getar-getar keindahan itu akhirnya harus
berakhir, aku membuka mata dan melihat Sari yang masih tetap terpejam dengan wajahnya yang penuh keringat. Betapa cantiknya melihat dia dalam keadaan sesudah orgasme. Lalu ia membuka matanya dan tersenyum lembut melihatku sedang memandanginya. Kucium lembut bibirnya dan kami berbaring berpelukan. Kami tahu malam masih panjang dan kami tak akan menyia-nyiakan kesempatan indah itu untuk menikmatinya bersama- sama.

Itulah kisah perselingkuhanku dengan Sari, sekretarisku yang cantik dan genit dan acara kucing-kucingan itu berlangsung hingga kini.

Kos Penuh Cinta

Masa kuliah adalah masa-masa yang paling menyenangkan bagiku. Di masa itulah aku seolah menemukan jati diriku yang sebenarnya, mendapat kesempatan berekspresi, serta memiliki pengalaman indah di dalam soal asmara. Sebagai mahasiswa teknik, penampilanku tentunya tidaklah terlalu rapi kecuali aku memiliki badan yang cukup bagus karena tergabung di dalam club basket kampus.

Bukannya sombong tapi tidak sedikit gadis yang menaruh perhatiannya padaku. Namun memang dasarnya aku ini adalah seseorang yang terlalu polos, maka perhatian mereka pun hanya aku anggap sebagai hal yang biasa dalam hubungan pertemanan.

Yang tidak aku duga adalah bahwa aku mendapat pengalaman pertamaku justru bukan dengan teman sebayaku, melainkan ibu kosku. Ya, ibu kosku.

Cerita berawal ketika aku mulai menginjakkan kaki di kota ini untuk menuntut ilmu. Jauh dari orang tua membuatku harus mandiri serta melatihku untuk menjadi sosok pribadi yang lebih dewasa. Seperti biasa, hal yang dilakukan mahasiswa baru adalah mencari kos-kosan. Setelah beberapa hari melakukan survei dan berjalan dari komplek ke komplek, akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada sebuah rumah. Rumah itu tidak terlalu besar dan sebenarnya lebih patut disebut sebagai rumah tinggal biasa. Namun papan di depan rumah itu mengatakan kalau rumah ini menerima kos pria.

“Permisi, apakah ada orang di rumah?” seruku di luar pagar.

“Ya, ada apa, Mas?” munculah seorang laki-laki  yang kira-kira berumur 40-an dengan wajah ramah dan murah senyum sambil membuka pagar.

“Maaf, Pak. Apakah masih ada kamar kosong untuk kos-kosan?” tanyaku.

“Oh, ada, Mas. Mari silahkan masuk kalau ingin melihat-lihat dulu.” jawabnya sambil masih memasang muka ramah nan penuh senyum. Ciri khas orang Jawa sekali.

Akhirnya aku pun masuk ke dalam rumah itu sambil melihat-lihat kondisinya. Rumah itu memang rumah tinggal biasa, hanya saja dalamnya telah dibuat sekat yang memisahkan antara rumah induk dengan kamar-kamar yang dikoskan. Kamar mandi pun sudah terpisah antara penghuni rumah dan penghuni kos-kosan.

“Oh ya, nama bapak siapa ya?” aku bertanya.

“Saya Sony, Mas. Kalau Mas siapa namanya? Ngambil jurusan apa, Mas?” laki-laki itu menjawab tanpa mengurangi sedikitpun keramahannya.

“Saya Randy, Pak. Saya mengambil jurusan Elektro. Sampai saat ini sudah berapa orang yang tinggal di sini, Pak?”

“Mas ini adalah pelanggan pertama kami sejak rumah ini kami putuskan untuk dijadikan kos-kosan.” Pak Sony menjawab sambil tersenyum lebar seraya menepuk-nepuk pundakku.

“Wah, suatu kehormatan bagi saya nih, Pak.”

Tiba-tiba dari salah satu kamar muncul seorang wanita yang berkulit putih, dengan rambut digelung ke atas sehingga memperlihatkan tengkuknya yang ditumbuhi rambut halus dan aku yakin akan membuat jakun setiap pria yang melihat naik turun. Dia mengenakan daster batik yang lumayan tipis sehingga bila terpapar sinar akan memberikan bayangan yang cukup jelas akan lekuk tubuhnya yang masih padat berisi. Wajahnya manis nan sensual, mirip sekali dengan Febby Lawrence, seorang artis panas yang ngetop di era 90-an.

“Mas, kenalkan ini istri saya, namanya Susy. Nanti untuk urusan administrasi silahkan ngobrol saja dengan dia. Biasa, kalau wanita biasanya lebih telaten dalam hal mengurus uang.” kata-kata Pak Sony membuyarkan lamunanku.

“Oh, i-iya, Pak.” aku agak terkaget-kaget. “Kenalkan saya Randy, Bu.” aku pun langsung memperkenalkan diri seraya menjabat tangan putih nan halus mulus itu.

“Susy,” jawabnya singkat. Namun entah karena kegeeranku atau hanya perasaanku saja, dia memberikan senyuman yang mengandung arti. Semacam isyarat. Tapi, ah mungkin itu hanya khayalanku saja.

***

Singkat cerita, akhirnya aku pun tinggal di situ. Tak lama setelah aku tinggal di situ, datang dua orang lagi yang tinggal di situ. Jadi total keseluruhan ada tiga orang yang tinggal di kosan tersebut. Yang satu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun skripsi, sedangkan satunya lagi adalah seorang mahasiswi dari jurusan ekonomi, dan aku tidak tahu mengapa akhirnya mereka menerima kos-kosan putri juga.

Bu Susy adalah orang yang baik dan ramah, hampir sama dengan suaminya. Pak Sony sendiri adalah orang yang bekerja di pertambangan di Kalimantan jadi praktis dia jarang sekali di rumah. Dia pulang sekitar dua minggu sekali. Dan ini berarti yang mengurus operasional kos-kosan adalah Bu Susy.

Terkadang melalui celah sekat pembatas, tanpa sengaja aku melihat Bu Susy keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalutkan handuk yang menutup dari dada sampai lututnya saja. Payudara yang masih cukup kencang itu seperti tertekan oleh balutan handuk, dan seperti berontak ingin keluar ketika ia berjingkat-jingkat menuju kamarnya. Tubuhnya yang masih terbilang bagus untuk wanita seusianya amatlah sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dengan rambut yang masih basah tergerai sampai pungungnya, dia tampak menarik dan boleh dibilang sexy. Mereka memang belum memiliki momongan, mungkin karena kesibukan Pak Sony yang terlalu lama hidup di site, aku menerka-nerka.

Suatu malam saat aku sedang di kamar mengerjakan tugas gambar teknikku, terdengar suara Bu Susy memanggil-manggil, “Mas Randy, bisa minta tolong sebentar gak?”

“Ya, Bu. Ada apa?” jawabku sambil melongok ke luar kamar.

“Itu lampu kamar tidur saya mati, mungkin putus bohlamnya kali ya? Bisa minta tolong gantiin gak, Mas? Habisnya saya takut kalau masalah setrum gitu.” katanya menghiba.

“Oh, baiklah, Bu. Ibu sudah punya lampu penggantinya atau belum?” tanyaku.

“Ada, saya sudah biasa menyimpan lampu cadangan. Ini  lampunya.” jawabnya sambil menyodorkan sebuah lampu TL kepadaku.

Akhirnya kami berdua menuju kamar tidurnya. Hmm, harum aroma bunga memenuhi kamar tersebut. Kamarnya lumayan luas dengan Spring Bed di sudut ruangan dan lemari pakaian dari kayu di sudut satunya lagi. Ternyata dia sudah menyiapkan bangku sebagai alat bantu untuk mengganti lampunya tersebut. Dengan temaram cahaya lampu dari ruang tengah, akhirnya aku berhasil menggantikan lampu yang sudah mati tersebut dengan lampu yang baru. Dan akhirnya, byar, ruangan kamar tidur itu menjadi terang. Aku masih berdiri di atas bangku, dan baru menyadari pemandangan indah di bawah sana.

Dari atas tampak jelas sekali belahan yang dia miliki, dan yang mengejutkanku adalah bahwa saat ini dia tidak menggunakan bra entah karena lupa atau karena biasa. Gaun tidur putih yang dikenakannya cukup tipis utuk menerawang apa yang ada di balik itu. Dua bukit kembar itu masih berdiri tegak menantang di bawah sana, membuat naluri kelelakianku bergejolak. Dan sialnya, saat itu aku hanya memakai celana pendek tanpa celana dalam. Kemaluanku tidak dapat dibohongi, melihat pemandangan yang indah itupun membuatnya menggeliat, dan aku yakin Bu Susy pun pasti menyadari itu. Aku bingung, panik, malu, dan tidak tahu harus bagaimana.

“Mas, ayo turun. Kok malah melamun? Hayo lagi melamun apa itu?” suaranya mengagetkanku.


“Eh, i-iya, Bu. Maaf.” aku jadi kikuk. Aku pun segera turun dari kursi itu, dan mengembalikan kursi itu ke tempatnya semula di dekat sebuah meja rias di seberang pintu. Dan alangkah terkejutnya aku ketika akan berjalan menuju pintu, Bu Susy sudah menghadang langkahku seraya menutup pintu yang ada di belakangnya.

“Permisi, bu. Saya mau kembali ke kamar.” aku mulai panik. Jantungku berdebar-debar hebat. Aku berada di dalam situasi yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Di dalam sebuah kamar, hanya berdua dengan seorang wanita cantik nan sexy, dan sialnya dia itu ibu kosku.

“Kenapa, Mas? Kok buru-buru? Kita masih punya banyak waktu kok.” jawabnya dengan nada nakal menggoda. “Ayolah, aku tahu apa yang Mas Randy lihat dari atas tadi. Kamu pasti penasaran kan, Mas? Lihat mereka, sangat kenyal dan menggairahkan bukan?” katanya sambil meremas kedua buah dadanya sehingga mereka seakan-akan ingin meloncat keluar dari baju tidur yang tipis menerawang itu. Dia pun mulai berjalan mendekatiku, sampai akhirnya berhenti tepat di depanku. Bahkan hembusan nafasnya pun dapat kurasakan di leherku. Aku diam tak bergeming sama sekali. Akal sehatku sudah lari entah kemana. Nafsu yang selama ini terkurung, akhirnya meloncat keluar dan mulai menguasai tubuhku.

“Tapi Bu, saya ini kan anak kos Ibu. Nanti kalau ada yang tahu bagaimana? Kalau Pak Sony tiba-tiba pulang bagaimana?” aku masih mencoba bertahan pada seutas logika yang sudah rantas dan akan putus sebentar lagi.

“Tenang, tidak ada yang tahu kamu ada di sini. Anak-anak kos yang lain belum pulang, sedangkan Mas Sony masih seminggu lagi baru pulang. Jadi saat ini hanya ada kamu dan aku. Aku sudah lama sekali menunggu kesempatan seperti ini, bahkan sejak kamu pertama kali datang ke rumah ini. Oh ya, dan jangan panggil Bu, tapi panggil saja Mbak.” dia menatapku dengan memelas.

Sial, berarti benar adanya ketika pertama kali kami bertemu, dia memberikan tanda-tanda yang tidak biasa, pikirku. Dia menggenggam kedua tanganku, lalu membimbing mereka menuju dua bukit kembar yang dari tadi menjadi pusat perhatianku. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menyentuh payudara seorang wanita. Ah, mereka masih begitu kenyal dan kencang. Aku merasakan di telapak tanganku tonjolan kecil dari payudaranya, ya itu putingnya, dan mulai mengeras.

Dia semakin mendekat kepadaku, dan mulai menempelkan tubuhnya kepadaku. Bibirnya yang lembut pun mulai menempel ke bibirku. Lidahnya menyapu dengan lembut, dan memaksa masuk ke dalam mulutku. Akhirnya aku pun menyambut lidahnya dengan lidahku. Kami saling memagut satu sama lain, lidah kami bertarung dengan liarnya. Tangannya mulai memegang leher dan bergerak ke arah kepalaku sambil meremas-remas rambutku. Tanpa sadar tanganku mulai mengeksplorasi tubuhnya, bergerak dari payudara menuju punggung dan berakhir pada pantatnya yang padat. Sesekali dia mendesah ketika kuremas pantat yang sintal itu sambil terus memainkan lidahnya di dalam mulutku.

Tiba-tiba dia melepaskan ciuman kami, dan menggandengku menuju tempat tidur. Dan anehnya kali ini aku menurut saja tanpa mengajukan pertanyaan apapun. Kurasa logikaku kali ini sudah benar-benar putus, dan nafsu sudah menguasai tubuhku. Kami duduk di tepi tempat tidur ketika dia mulai melepaskan kaos dan celanaku. Secara perlahan dia pun melepaskan gaun tidur yang dia pakai, hanya menyisakan celana dalam warna putih saja di sana.

Aku menatap pemandangan di depanku dengan takjub. Dia begitu sempurna, tubuhnya masih terbilang indah, kulitnya yang mulus, dengan dua bukit yang saat ini sedang mengencang dan putingnya yang menjulang. Dia mulai menciumku lagi,tapi kali ini ciuman ringan. Lidahnya mulai menyapu bibir, kemudian bergerak ke leherku lalu menuju dadaku dan bermain-main dengan putingku. Oh, aku semakin menegang, dan milikku di bawah sana semakin mengeras saat ada tangan lembut menggegamnya dengan lembut. Kupejamkan mataku saat lidah yang lembut itu mulai menjilati kemaluanku dari ujung hingga pangkalnya. Bolaku juga tidak luput darinya, dia mainkan dengan tangannya, oh aku benar-benar dibuatnya melayang. Aku belum pernah mengalami sensasi seperti ini dalam hidupku sebelumnya.

Dia mendongak dan memandang dengan penuh kelembutan. Bibirnya kembali menuju ke bibirku, kemudian dengan lembut tangannya meraih kepalaku lalu membimbing kepalaku menelusuri lehernya dan akhirnya bermuara pada kedua payudaranya. Kuciumi mereka dan kemudian kedua puting yang sudah mengeras itu tenggelam dalam mulutku secara bergantian kiri dan kanan. Tangannya kemudian membimbing kepalaku menuju perut dan secara perlahan kulepas celana dalamnya. Sekilas kulihat celana itu sudah sedikit basah di bagian tengahnya. Akhirnya kepalaku sampai juga di depan sebuah lipatan yang indah dan sedikit tembem memperlihatkan sedikit dari bibir kemerahan yang menyembul dari dalam. Rupanya dia adalah orang yang pandai merawat diri. Bibir bawahnya begitu mulus tanda sering dicukur.

Dia mulai membuka pahanya lebih lebar, sehingga semakin tampaklah bibir yang merah dan sudah mulai sedikit basah oleh cairan pelumas. Tangan kirinya menyibakkan bibir itu sementara tangan kanannya membimbing kepalaku supaya mendekat. Secara naluri akhirnya aku pun menciumi bibir itu, menjilati, mengisap, dan sesekali memberikan gigitan kecil di sekitarnya. Tanganku akhirnya ikut membantu menyibak bibir vaginanya. Lidahku merasakan ada tonjolan di bagian atas, dimana kedua bibir itu bermuara. Kuhisap, kujilati tonjolan itu.

Tanpa kuduga dia mulai mendesah, melenguh, dan menggelinjang. Tubuhnya menegang sembari tangannya meremas-remas rambutku. “Oh, mas, ayo terus... Iya di situ... oh awh...”

Aku pun semakin intens dan semakin menggila bermain dengan klitorisnya. Tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya sendiri sambil sesekali menarik-narik putingnya. Aku pun mulai berani memasukkan jariku ke dalam liang vaginanya yang sudah basah dari tadi. Lidahku masih menari-nari di klitorisnya, sedangkan tanganku mulai dengan mudahnya bermain di dalam vaginanya.

Tiba-tiba tubuhnya menegang lebih kencang dari yang tadi. Tangan kanannya menjambak rambutku dan tangan kirinya meremas payudaranya lebih kencang. Jariku yang ada di dalam dirinya terasa seperti dijepit, berdenyut-denyut serta terasa lebih basah dan licin. Dia pun seperti menjerit tertahan, “Akhhh... Masss.... aku... keluar...”

Nafasnya terengah-engah dan tubuhnya langsung lunglai terbaring di atas kasur. Aku masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi. Lalu dia memberi isyarat kepadaku agar aku mendekat ke wajahnya. Kemudian ia memelukku begitu erat, sambil berbisik. “Terima kasih ya, Mas, tadi barusan kamu membuat aku klimaks. Sekarang aku ingin milikmu ada di dalam milikku. Masukkan pelan-pelan ya, Mas.”

“Baik, Bu, eh, maksudku Mbak.”

Lalu dengan perlahan kumasukkan penis yang sedari tadi sudah mengeras. Dia sedikit merintih ketika kepala penisku mulai masuk liang vaginanya. Kugerakkan pelan-pelan sampai akhirnya hampir semua batangku sudah berada di dalam miliknya. Vaginanya yang masih basah tidak menyulitkanku untuk menggerakan penisku. Awalnya gerakanku agak canggung, namun lama-lama aku sudah menemukan iramanya. Tanganku bermain-main dengan payudaranya, sedangkan tangannya memegang pinggulku seolah ikut mengatur iramanya.

Semakin lama gerakanku semakin cepat dan kurasakan denyut-denyut liar di dalam sana. Dorongan itu pun semakin kuat, dan akupun mendekap tubuhnya erat-erat seolah tak mau kehilangannya. Aku memompa semakin cepat dan kemudian kulihat wajahnya mulai memerah. Tangannya mulai meremas-remas pantatku dan tubuhnya mulai menegang hingga akhirnya dia menggelinjang untuk yang kedua kalinya. Dia menjerit kecil lagi, “Akh, mas... aku datang lagi... jangan dicabut... biarkan keluar di dalam... ugh...”

Akhirnya dorongan itu lepas juga ketika cairan hangatku menyembur ke dalam vaginanya. Gerakanku melambat dan sisi-sisi vaginanya menjadi licin serta penisku menjadi lebih sensitif. Tubuhku langsung menjadi lemas, tanganku pun seolah tak mampu menopang berat tubuhku sendiri. Kusandarkan kepalaku kepada dahinya. Dia memelukku erat kemudian memberikanku ciuman yang lembut. Aku bergerak ke samping dan tidur terlentang di sisinya. Lalu dia memelukku dan kami pun segera terlelap setelah mengalami kelelahan yang sangat hebat. Aku pun tidur dengan senyuman mengembang di wajahku. Aku sudah tidak sempat lagi memperhatikan wajahnya saat itu. Aku sudah terlalu lelah, aku hanya ingin tidur.

Narti, baby sitter

Aku, sebut saja Narti, kerja sebagai baby sitter, sekali lagi baby SITTER, karena entah kenapa masih ada saja yang menyebutnya baby 'sister' di sebuah keluarga kaya dan terhormat di Jakarta, sebut saja keluarga Pak Anton. Aku dilahirkan di sebuah kota di Jawa Timur.

Seperti perempuan Jawa pada umumnya, aku berkulit sawo matang dan ada yang manis di roman mukaku. Tinggi tubuhku sedang-sedang saja, 163 cm dan berat tubuhku 54 kg, suatu proporsi yang cukup ideal, kata Mas Adi. Tapi Aku bilang ideal kalau bobotku 52.

"Enggak," katanya lagi. Aku diminta mempertahankan bobotku segitu, karena : "…yang 2 kilo itu ada di dadamu, dan aku menyukainya!" sergah Mas Adi. "Jadi jangan diturunkan lagi bobotmu." Ia melanjutkan.

"Sialan..." protesku. Tapi dalam hati, aku menyukai pujian Mas Adi pada dadaku.

Aku baru menyadari bahwa aku punya keistimewaan pada buah kembarku juga dari Mas Adi, walaupun banyak temanku seasrama dulu yang sering bilang.
Pantas saja mata lelaki yang berpapasan denganku selalu tertuju ke sini setelah sekejap memandang mukaku. Apalagi sewaktu aku berenang. Risih juga dipelototin terus dadaku (sejujurnya, kadang juga ada rasa bangga...) Oh iya, untuk menjaga bentuk tubuhku, Aku tiap hari Minggu pagi berenang ke kolam renang di Hotel M, tempat terdekat dengan rumah majikanku. Ditambah dengan push-up 3 kali seminggu di kamarku, tak banyak hanya 10 -15 kali. Tapi asal dilakukan dengan rutin cukup memperkuat otot-otot di dada. Itu semua aku lakukan untuk Mas Adi tercinta.

Mas Adi memang lelaki pertama yang mengisi hatiku, mudah-mudahan juga yang terakhir. Bagi Mas Adi, aku adalah pacar yang ketiga.
Perkenalanku dengan Mas Adi terjadi ketika aku masih bekerja di rumah sakit swasta di Jakarta Selatan. Setamat sekolah keperawatan (setingkat SLA) di Jawa Timur, aku merantau ke Jakarta cari kerja. Dia sedang menunggui sepupu perempuannya yang opname di situ. Mas Adi kerja di sebuah lembaga pendidikan komputer sebagai instruktur. Dia juga kerja sambilan (part timer) sebagai programmer di beberapa software house. Dia numpang tinggal di rumah pamannya, sedangkan aku kost di rumah sederhana. Pada awalnya hanya teman biasa dan tak ada perasaan apapun terhadapnya. Dia begitu penuh perhatian terhadapku dan amat menyayangiku. Tak ganteng dan tak jelek amat, dia jujur dan terbuka, satu kata dan perbuatannya. Inilah yang membuat aku jatuh cinta padanya.

Setelah pernyataan cinta kami ('jadian' kata ABG), cara pacaran kami sebatas ciuman dan raba-raba.
Itu kami lakukan hampir setiap minggu selama setengah tahun. Tempatnya bisa di gedung bioskop, di kegelapan taman, atau di beranda kamar kost-ku. Sesekali kalau situasi tempat kost memungkinkan, kami bermesraan di kamarku, masih sebatas ciuman dan raba-raba dengan sedikit kemajuan. Aku amat menikmati cara Mas Adi ’mengerjai’ kedua buah dadaku. Dengan penuh perasaan, kasih sayang, dan hati-hati seolah daging kembarku itu mudah pecah, tapi membuatku serasa melayang-layang. Mas Adi tak pernah minta lebih dari itu, meskipun aku tahu dia juga sudah sedemikian 'tinggi'.

"Untuk nanti di malam pengantin kita," bisiknya. Aku terharu mendengarnya.

Paling jauh, kalau dia sudah tak tahan lagi, aku diminta memainkan penisnya dengan tanganku sampai ejakulasi. Bahkan pernah suatu malam Minggu kami begitu intensif-nya bermesraan, Mas Adi telah menelanjangi dirinya sampai bulat, Aku tinggal CD saja, Aku sudah demikian 'megap-megap', di bawah sana sudah terasa lembab, sampai mataku berair. Aku mengharapkan Mas Adi segera membuka CD-ku lalu penisnya yang tegak mengacung keras itu segera mengisi kelembaban di selangkanganku, tapi dia tak melakukan apa yang kuharapkan. Dia hanya menindihku, menggosok-gosokkan penisnya di CD-ku sambil mengeksplorasi kedua buah dadaku. Mas Adi bisa sampai 'tuntas' dengan tumpah di perutku, tapi Aku? Gelisah! Sesuatu yang tak sampai, menggantung. Sungguh tak enak.

Aku terus menggerak-gerakkan tubuhku dengan gelisah, selangkanganku kugosokkan ke tubuhnya. Kucengkeram pantat Mas Adi dan kugeser- geserkan penisnya yang mulai menurun ke CD-ku. Tak menjadi lebih baik, tak meredakan nafsuku yang telah memuncak, tak mengisi kekosonganku. Penisnya tak menyentuh langsung ke selangkanganku, masih ada penghalang yang harus dihilangkan. Kulepaskan tubuhku dari tindihan Mas Adi, lalu dengan nekatnya, aku melepas CD-ku. Aku tak malu-malu lagi berbugil ria di depan kekasihku ini.

Mas Adi kaget luar biasa, sampai melongo, tapi matanya tak lepas dari bagian tubuhku yang baru saja terbuka. Bagian tubuh yang baru kali ini aku buka di depan matanya. Kutarik tubuh Mas Adi untuk kembali menindihku, supaya dia tak melongo terus memandangi milikku. Tubuhnya kembali bergoyang, penisnya kini menggeseki permukaan liang vaginaku secara langsung, tak ada penghalang lagi. Tapi penis itu mulai menyurut.

Mas Adi tahu kegelisahanku, lalu tindakan berikutnya ganti mengejutkanku. Pahaku dibentangnya lebar-lebar kemudian kepalanya menunduk. Hah, apa yang akan dilakukannya? Tanganku refleks bergerak menutupi milikku.

"Dik, tak apa-apa, ini aman kok." katanya sambil menyingkirkan telapak tanganku dari sana. Lalu detik-detik berikutnya kurasakan nikmatnya di bawah sana. Lidah Mas Adi ternyata yang melakukannya. Lidah itu menyapu-nyapu seluruh permukaan selangkanganku. Tak itu saja. Aku dibuatnya terbang oleh Mas Adi dengan permainan lidah dan bibirnya di clit-ku.

Kurang lebih setahun kami melewatkan masa-masa bermesraan dengan cara seperti itu. Cara yang dapat memuaskan kami berdua, tanpa aku harus kehilangan keperawanan, tanpa penetrasi sama sekali.

***

Pembaca, perkenankan saya memutar waktu ke belakang sedikit.

Tertarik iklan kecil di harian ibukota Aku ingin mencoba mengadu nasib. Iklan itu berbunyi : "Dicari seorang baby sitter wanita yang berpengalaman, mengerti tentang keperawatan, menyayangi anak-anak, bersedia tinggal di rumah. Gaji dan fasilitas menarik."

Kutelepon nomor yang tercantum di iklan itu, suara lembut wanita menyambutku dan aku dijanjikan waktu, Sabtu pagi pukul 9 agar datang untuk wawancara. Wah, pakai wawancara seperti melamar kerja kantoran saja.

Pada hari yang dijanjikan, pukul 9 kurang, aku sudah tiba di depan rumah besar dan mewah di kawasan Jakarta Pusat. "Selamat pagi," sambutku ketika pintu dibuka seorang wanita cantik.

"Pagi, siapa ya?"

"Saya Narti, Bu, pelamar baby sitter."

"Oh iya, masuk. Silakan." dia menyambut uluran tanganku.
"Siapa tadi... ehm, Narti ya? Saya Ny. Anton."

Nyonya rumah ini cantik sekali. Berkulit putih mulus, tubuhnya tinggi ramping, rambut lurus sebahu terurai, pendeknya mirip peragawati atau model yang sering Aku lihat di TV. Kutaksir umurnya sekitar 26 - 28 tahun. Wajahnya sekilas mirip mantan peragawati yang juga atlet berkuda, hidung mancungnya yang mirip banget. Aku juga dikenalkan kepada Pak Anton suaminya. Pria ini biasa saja, tak ganteng amat, kulit rada cerah, rasanya tinggi badan Pak Anton sama dengan tinggi isterinya. Kedua orang suami isteri ini mewawancaraiku.

Aku diminta bercerita tentang riwayat sekolah dan pekerjaanku, kenapa aku tertarik pekerjaan sebagai baby sitter sedangkan pendidikanku adalah perawat, juga termasuk berapa gaji yang aku minta. Aku kemukakan apa adanya dan sejujur mungkin. Ditanya gaji, aku tak menyebutkan jumlahnya, hanya yang penting lebih tinggi dibanding pekerjaanku sekarang di rumah sakit swasta. Juga aku minta satu hari libur dalam seminggu. Hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan pribadiku tak luput ditanya. Termasuk tentang famili dan kawan dekat. Aku ceritakan punya kakak perempuanku yang tinggal sama suaminya di Jakarta, juga tentang pacarku Mas Adi, dimana tinggal dan pekerjaannya. Aku cerita juga kadang-kadang di hari libur Aku nginap di rumah kakak perempuanku. Melalui wawancara ini pula, aku tahu pasangan ini punya 2 orang anak, yang sulung lelaki kelas 6 SD dan anak kedua perempuan 8 bulan yang kelak aku asuh seandainya diterima kerja. Kesanku mereka keluarga ideal dan amat bahagia.

"Jadi gimana nanti saya menghubungi kamu?"

"Ke tempat kost saja, Bu, ada teleponnya, di rumah kakak belum ada."

"Di tempat kost kamu berapa nomornya?" tanya Bu Anton. Aku sebutkan nomornya. "Okay, minggu depan Ibu hubungi diterima atau tidaknya." lanjutnya.

"Baik, Bu." aku pamit. "Kalau boleh tahu, sudah berapa orang yang melamar, Bu?" tanyaku.

"Ada beberapa, nggak banyak." jawabnya.

Minggu siang seminggu kemudian, aku ditelepon Bu Anton. "Kamu bisa datang lagi sore ini nggak?"

"Bisa, Bu. Gimana, apa saya diterima?"

"Kita bicarakan dulu tentang tugas-tugasmu." dia tak tegas menjawab aku diterima atau tidak, tapi rasanya iya. Mendadak hatiku senang. Ada beberapa kelebihan kerja di Bu Anton. Selain gaji yang kuterima lebih tinggi, juga aku tak perlu mikir bayar kost dan biaya makan sehari-hari. Tentunya aku akan bisa menabung untuk persiapan hari depanku bersama Mas Adi. Ketika hal ini kuceritakan kepada Mas Adi, dia mendukung.

"Asal kamu menyukai pekerjaan ini, Mas dukung." Katanya. Aku gembira. "Jangan senang dulu, Ti, kamu belum tentu diterima." tambahnya.

Bu Anton menjelaskan secara rinci tugas-tugasku dan cara mer
awat Si Putri, begitu saja kusebut, anak perempuannya. Aku dikenalkan kepada pembantu rt-nya, Ijah, perempuan usia sekitar 35an, dan juga Ricky, anak lelakinya sekitar 12 tahunan. Aku dibawa keliling ruangan rumah besar ini. Putri, walaupun masih terhitung bayi, sudah punya kamar sendiri bersebelahan dengan kamar suami-isteri Anton. Dalam kamar Putri yang lumayan besar hanya ada lemari dan rak pakaian serta sebuah box bayi. Ada pintu penghubung ke kamar Pak dan Bu Anton. Di belakang kamar Putri terhalang satu ruang terbuka, terletak kamarku. Keluarga ini secara berkala berlibur ke luar kota. Kadang kalau dibutuhkan, aku harus ikut atau tidak tergantung situasi, kata Bu Anton. Tentang hari libur yang kuminta, Bu Anton mengabulkan tapi harinya tak harus Minggu, dan kalau mereka membutuhkan, aku tetap mengasuh Putri dan dibayar sebagai lembur. Tak masalah kukira.

"Kapan kamu mulai kerja?" tanya Bu Anton.

"Secepatnya setelah saya dapat surat pengunduran diri dari rumah sakit." jawabku.

***

Hari-hari pertama kerja sebagai baby sitter memang melelahkan, sebab aku harus mengenali karakter Putri dan juga situasi rumah tangga ini termasuk karakter seisi rumah. Aku harus berbaik-baik sama Mbak Ijah supaya terjalin hubungan akrab dan agar dia tak 'jealous', karena aku tak menyentuh pekerjaan rumah tangga dan digaji lebih tinggi. Bu Anton memang telah membagi tugas sesuai 'profesi' masing-masing. Lama-lama aku menjadi biasa dan mulai bisa menikmati pekerjaanku. Pada dasarnya aku memang menyayangi anak-anak.

Ada satu yang ’hilang’ sehubungan pekerjaan baruku ini, yaitu masa bermesraan dengan Mas Adi. Tak bisa lagi kami bermesraan 'berat' sampai Mas Adi menggosok-gosokkan penisnya di 'pintu' vaginaku lalu tumpah di perutku.
Atau mulut Mas Adi dengan 'rakus'nya mencium, menjilat, dan menggigit pelan milikku di bawah sana. Cara pacaran kami berubah. Pergi berdua harus menunggu hari liburku. Paling juga ciuman dan raba-raba di gedung bioskop. Mas Adi pintar cari lokasi yang aman untuk bermesraan, pilih film yang masa putarnya sudah beberapa hari sehingga sepi penonton, lalu kami mojok di belakang.

Pada hari libur kedua kami nonton lagi. Film baru beberapa menit diputar Mas Adi minta aku membuka bra setelah kami berciuman 'panas'. Mukanya terbenam di dadaku, Aku harus menahan untuk tak merintih keras-keras ketika puting dadaku dijilati dan dikemotnya. Lalu dia minta aku membuka rits celananya. Kurang ajar. Aku langsung 'menemukan' penisnya yang keras tegak, Mas Adi tak pakai cd!

"Mas nakal," bisikku ke kupingnya. Jawabannya berupa lumatan di bibirku, lalu dituntunnya telapak tanganku untuk mengurut-urut batang penisnya. Aku nurut, perlahan kelima jari-jariku menjamahi seluruh batang tegang itu dari ujung sampai ke pangkal, bolak-balik. Sementara telapak tangannya 'menampung' daging dadaku sambil ujung telunjuknya bermain-main di putingku.

"Tambah kecepatannya dikit, Ti." bisiknya sambil ngos-ngosan. Kupenuhi permintaannya. Beberapa saat kemudian, "Tambah lagi..." nafasnya makin memburu.

"Eh, nanti kalo itu gimana?"

"Engga apa-apa, terus aja sampai keluar."

"Gak mau," protesku dan langsung menghentikan gerak kocokan.

"Ti, tolong Mas dong, udah 2 minggu nggak keluar."

Dua minggu? Oh iya memang, sejak aku pindah kerja kami tak melakukan petting sampai Mas Adi ’keluar’, seperti yang biasa kami lakukan tiap minggu. Apa boleh buat, kupercepat gerak tanganku. Mas Adi makin terengah, lalu megap-megap, tubuhnya rebah ke sandaran kursi dan mengejang, kepalanya menengadah ke arah langit-langit gedung, gerak tangannya yang meremasi susuku berhenti, tanganku yang menggenggam penisnya terasa kedut-kedut beraturan. Mas Adi sedang menikmati orgasmenya.
Airnya entah terpancar kemana saja, mungkin ke sandaran kursi depan.

***
Rumah semegah ini hanya dihuni oleh 6 orang, suami isteri Anton, kedua anaknya, seorang pembantu, dan Aku. Bang Hasan si sopir selesai mengantarkan Pak Anton malam hari, dia pulang ke rumahnya, tak menginap. Jam 7 pagi dia sudah sampai ke sini lagi.

Pak Anton orang yang amat sibuk, jam 8 pagi dia sudah berangkat dan pulangnya malam. Dia punya banyak perusahaan, kata Bi Ijah. Perusahaan apa dan sebesar apa, aku tahu dan tak ingin tahu. Kalau lihat rumah yang besar dan megah, isinya yang mewah, tiga buah mobil yang semuanya jenis mewah, pantaslah dia punya banyak perusahaan, suatu keluarga kaya-raya.

Sedangkan Si Jelita nyonya Anton meskipun tidak tiap hari keluar rumah, tapi tampaknya orang sibuk juga. Urusannya banyak, kalau sedang di rumah teleponnya sering berdering, bicara serius sepertinya urusan bisnis juga, lalu kadang keluar rumah menyetir sendiri BMW-nya. Kadang sekalian menjemput Ricky dari sekolah. Ricky walaupun sudah kelas 1 SMP masih juga diantar- jemput. Orang kaya cenderung memanjakan anaknya. Anak-anak di sekitar tempat Aku kost dulu walaupun masih SD berangkat dan pulang sekolah sendiri. Kalau ibunya tak menjemput, Ricky pulang sama Bang Hasan.

Tak hanya kaya raya, keluarga ini juga keluarga harmonis tampaknya. Kalau mereka bertiga sedang di ruang tengah nonton TV, banyak celetukan canda diantara mereka. Bu Anton sering menggelendot manja ke tubuh suaminya sewaktu duduk di sofa sambil nonton TV, atau tangan Pak Anton merangkul bahu isterinya, diselingi saling kecup di pipi. Suami-isteri itu tak risih saling kecup meskipun aku ada di situ menggendong Putri. Memang sudah kebiasaannya sehari-hari. Ricky juga sering bermanja-manja kepada ayah atau ibunya. Kalau aku sedang bergabung di situ sambil menunggu Putri, kadang Ricky juga bermanja kepadaku. Menyandar ke tubuhku atau minta pangku. Pendeknya benar-benar keluarga bahagia. Bahkan aku tahu, betapa mesranya mereka di tempat tidur...

Malam belum larut, baru sekitar setengah sembilan. Setelah aku menidurkan Putri di box-nya, kulihat Pak dan Bu Anton berangkulan mesra sambil nonton TV. Aku lalu makan malam dan menyiapkan susu dan popok Putri. Ketika aku hendak ke kamar Putri melewati ruang tengah, suami isteri itu sudah tak ada. Cepat sekali malam ini mereka tidur, pikirku. Khawatir mengganggu tidur majikanku, aku dengan hati-hati dan pelan masuk ke kamar Putri untuk menaruh pakaiannya dan sekaligus ngecheck tidurnya. Tapi... samar-samar ada suara-suara aneh dari kamar utama itu.

Entah kenapa, diluar kebiasaanku, aku jadi ingin tahu. Nyaris tanpa suara, aku melangkah mendekati pintu penghubung itu. Oh, suara rintihan Bu Anton! Aku segera maklum sedang apa suami-isteri itu. Apalagi rintihan Bu Anton diselingi dengan ucapan: "Ooh... Sedap, yang... Uuuh... Oooh..."

Aku mendadak merinding, jantungku berdebar kencang. Aku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku, tak tahan aku berlama-lama di situ. Beberapa menit berlalu, suara-suara aneh itu masih saja terdengar, bahkan ditambah suara Hah-huh-nya Pak Anton dan berisiknya kresek-kresek dan hentakan-hentakan tubuh di atas kasur.

Aku keluar menuju kamarku dan langsung rebahan. Segera saja bayangan tubuh pualam Bu Anton yang telanjang bulat, terlentang, dan pahanya membuka lebar sedang ditindih oleh tubuh coklat kekar Pak Anton yang pantatnya naik-turun menusuki selangkangan isterinya, muncul di anganku. Bayangan kedua tubuh suami isteri tiba-tiba berganti dengan bayangan tubuhku yang ditindih oleh tubuh Mas Adi. Aah... gimana rasanya ya kalau penis Mas Adi menusuk habis liang senggamaku?
Mungkin sedap banget. Bu Anton yang santun itu saja sampai merintih-rintih keenakan. Jelas nikmat sekali.

Selama ini penis Mas Adi yang hanya menyapu-nyapu 'pintuku' saja nikmat rasanya, apalagi... Mas Adi memang tak pernah minta lebih dari menyapu-nyapu, dan sepertinya memang tak punya niat untuk masuk. Di kamar kostku dulu kesempatan untuk bermesraan sampai masuk terbuka lebar, tapi Mas Adi tetap menjagaku, dan mampu menahan diri. Seandainya waktu itu Mas Adi minta, mungkin aku akan ikhlas memberikannya. Apalagi seandainya malam ini ada Mas Adi, aku mungkin yang ambil inisiatif untuk 'maju terus'.

Aku kini begitu gelisah, begitu terangsang oleh suara rintihan dan bayangan ciptaanku sendiri tentang suami-isteri majikanku itu. Tapi Mas Adi memang beda. Aku begitu mempercayai kekasihku ini, lelaki yang bertanggungjawab. Kalaupun ada faktor aku tetap masih perawan mungkin karena aku takut sakit. Konon berhubungan seks yang pertama kali bagi wanita adalah hanya rasa sakit yang didapat. Aku memang takut sakit, bahkan dengan jarum suntikpun aku takut.

Malam berikutnya pada waktu yang sama, aku ke kamar Putri lagi, berharap kalau-kalau mendengar erangan Bu Anton yang lebih seru, ternyata tidak. Mereka berdua masih di ruang tengah. Pengetahuanku tentang pasangan ini bertambah, ternyata mereka tak punya jadwal tetap untuk berhubungan seks, alias bisa terjadi kapan saja. Pernah sekitar jam 4 pagi aku terbangun mendengar Putri menangis. Ketika aku sedang mencari-cari baju ganti Putri, Bu Antonpun mendatangi anaknya, dengan pakaian kimono yang belum sempat ditutup, buah dadanya yang amat putih, mulus, kecil agak membulat terbuka, bentuk dada khas peragawati.

"Eh, kamu Ti..." katanya ketika menyadari ada aku di situ, lalu cepat-cepat Bu Anton merapikan kimononya. Aku sempat melihat dada Bu Anton mengkilat, berkeringat, wajahnya juga dihiasi butiran keringat. Dan kimono tipis itu sempat 'mencetak' tonjolan putingnya. Masa pagi yang dingin ini keringatan di dalam kamar ber-AC? Dugaanku benar, ketika aku selesai mengurus Putri, erangan khas Bu Anton kembali kudengar. Rupanya tangisan Putri menghentikan kegiatan seks dini hari mereka. Setelah Putri ada yang mengurus, kegiatan itu berlanjut.

***

Hari Minggu berikutnya, Pak dan Bu Anton liburan keluarga bersama kawan-kawan bisnisnya ke Pulau Bidadari. Seharusnya ini hari liburku, tapi karena Putri ditinggal di rumah, aku harus menjaganya dan dibayar sebagai lembur. Rencanaku nonton sama Mas Adi batal, dan kuminta saja dia datang menemaniku di rumah. Kami hanya ngobrol saja di ruang tengah sambil mengasuh Putri. Mauku sih sambil bermesraan tapi tak enaklah sebab ada Bi Ijah sedang memasak di dapur. Setelah Si Putri tertidur, kesempatan untuk bermesraan dengan Mas Adi datang juga, sebab Bi Ijah bilang mau keluar rumah setelah pekerjaannya beres. Aku tak tahu apa yang ada di kepala Bi Ijah, apakah dia memang benar-benar ada keperluan keluar rumah atau hanya ingin memberiku kesempatan berdua saja dengan kekasihku.

Aku langsung duduk manja di pangkuan Mas Adi begitu Bi Ijah keluar. Kami berciuman dan seterusnya buka-bukaan. Dalam waktu singkat seperti biasa Mas Adi sudah bugil dengan penis mengacung. Gaun putih seragamku telah tersingkir dan kini aku telanjang dada. Seperti biasanya pula, Mas Adi mengerjai bukit kembarku. Mataku terpejam menikmatinya. Tapi ada yang tak biasa. Kurasakan 'pekerjaan' Mas Adi di dadaku kurang intens seperti yang sudah-sudah. Aku merasa pikiran Mas Adi tak sepenuhnya berada di buah dadaku.

"Ada apa sih, Mas?" tanyaku menyelidik.

"Kenapa, Ti?" Mas Adi menghentikan kemotan di putingku.

"Rasanya hari ini Mas lain, deh."

"Lain gimana?"

"Pokoknya Mas nggak seperti biasa."

"Hmm..."
"Ada apa, Mas?" tanyaku lembut sambil membelai-belai penisnya. Benda itupun tak sekeras biasanya.

"Sorry, Ti. Ada yang ingin Mas sampaikan,"

"Ngomong aja, Mas." Mendadak aku berdebar. Mas Adi diam saja. Aku makin gelisah.

"Udah bosan ama Narti?" serangku tiba-tiba.

"Nggak, sama sekali nggak," lalu aku d
ipeluknya erat-erat. Lama.

"Lalu apa?"

"Mulai Juli, Mas dipindah ke Semarang." Juli? berarti tak sampai dua bulan lagi.

"Kenapa,
Mas berbuat salah apa?"

"Sama sekali tidak. Justru Mas dapat promosi."

"Bagus, kan?"

"Iya, tapi kita jadi jauh."

Jauh. Oh ... rasanya aku tak sanggup berpisah dengan kekasihku ini. Jangan- jangan nanti...

"Mas bingung. Aku ingin pendapatmu, Ti." lanjutnya. Aku pun bingung.

"Gini aja, Mas, kalo menurut mas pindah ke Semarang bagus buat karir mas, lakukan saja."

"Kelihatannya begitu, Ti. Aku dipercaya sebagai supervisor, cuman kita jadi jauh."

"Pas libur mas bisa ke sini, kan?"

"Bisa."

"Ya udah, lakukan saja."

Tiba-tiba aku dipeluknya erat-erat. "Makasih, Ti."

Pelukan berlanjut jadi ciuman, terus ke dadaku. Kurasakan miliknya di bawah sana mengeras lagi.
Lalu mulut Mas Adi turun ke perutku, aku kegelian ketika lidahnya menari-nari di pusarku. Dengan cepat Cd-ku dipelorotkannya dan lidah nakal itu telah berpindah ke selangkanganku yang telah membasah lembab. Aku meninggi. Kuraih batang kerasnya dan kusapu-sapukan di seputaran pintuku. Aku makin tinggi. Hanya menyapu-nyapu, seperti biasa. Dan lalu tumpah di perutku, seperti biasa.

***

Tumpah di perutku lagi, hari Minggu pagi ini. Bukan di ruang tengah rumah keluarga Anton, tapi di ruang tengah rumah paman Mas Adi. Aku masih rebah telanjang dengan posisi terlentang, bahkan kakikupun masih terkangkang. Aku kelelahan setelah tadi dilumat habis-habisan oleh Mas Adi. Diapun kelihatannya letih, tubuhnya rebah terlentang pula di sampingku. Masih ada sisa terengah setelah dia 'kerja' habis-habisan melumatku. Airnya yang tercecer di perutku demikian banyaknya setelah 'ditabung' selama seminggu. Kami bisa bebas bercumbu di rumah paman Mas Adi karena rumahnya kosong. Paman Mas Adi dan keluarganya pergi ke Bandung.

Kemarin Mas Adi meneleponku memintaku datang. Hari ini aku libur dan dapat izin keluar sampai jam 6 sore. Tapi aku 'menawar' minta ke Bu Anton sampai besok pagi, dengan alasan diminta nginap di rumah kakak perempuanku, karena ada acara keluarga. Bu Anton memenuhi permintaanku. Minggu pagi sekitar pukul 7, aku sudah meninggalkan rumah keluarga Anton menuju rumah Paman Mas Adi.

Baru saja aku masuk pintu, Mas Adi langsung menyerbuku. Jelas saja aku berontak khawatir ketahuan paman atau keluarga yang lain. Tapi Mas Adi malah mencopoti pakaiannya sampai bugil sambil bilang bahwa hanya kami berdua saja yang ada di rumah ini.

Kulirik wajah Mas Adi. Matanya terpejam tenang menandakan kepuasannya. Ada perasaan puas tersendiri bagiku karena mampu memuaskan Mas Adi, walau tanpa penetrasi. Tapi apakah wajah teduh ini memang benar-benar menandakan kepuasan? Hanya dia yang tahu. Cara kami bercinta menuju puncak tanpa aku kehilangan virginitas mungkin memang belum benar-benar memuaskannya, seperti yang aku rasakan sekarang. Ada rasa kurang 'terpenuhi' ketika denyutan-denyutan di dalam sana tetap dibiarkan tak tersentuh, walaupun mulut Mas Adi telah begitu intensif mencumbui clit-ku. Mungkin Mas Adi juga begitu, walaupun fellatio yang kulakukan sempat membuat Mas Adi mencabutnya takut 'tumpah' di dalam mulutku.

Aku sebenarnya telah pasrah, menerima apapun yang akan dilakukan oleh calon suamiku ini. Dulu sewaktu kami bermesraan di kamar kost-ku, aku menginginkan Mas Adi melakukan hubungan seks 'paripurna' saat itu juga, tapi dia tak melakukannya. Memang keinginan tak kutunjukkan secara lisan, tapi dengan gerakan tubuhku, aku yakin Mas Adi mengerti keinginanku. Aku ingat saat dia memegang penis tegangnya dan siap-siap mau menyapu- nyapukannya di clit-ku seperti biasanya, aku membuka pahaku lebih lebar dari biasanya dan sedikit mengangkat pinggulku agar 'sasaran'nya bukan di clit tapi di liang senggamaku. Tapi Mas Adi dengan halus menghindar. Tadi juga begitu. Cumbuan intens ke seluruh permukaan tubuhku membuatku naik tinggi. Lalu pada saatnya dia akan mulai 'menyapu-nyapu', aku sudah ambil posisi terlentang pasrah. Inilah saatnya aku menyerahkan segalanya kepada lelakiku tercinta.

"Masuklah Mas, Aku ikhlas mempersembahkan keperawananku kepadamu." begitu kataku, tapi dalam hati. Tapi lagi-lagi Mas Adi tak melakukannya. Bahkan suatu saat kepala penisnya sudah tepat menyentuh liangku, tanganku lalu menekan pantatnya. Lagi-lagi Mas Adi dengan pandai menghindar. Ketika moment itu kembali datang, aku menekan pantatnya lebih kuat. Detik berikutnya kurasakan 'pintu'ku terpenuhi oleh benda hangat . Ahh, nikmat. Rasanya awal penetrasi dimulai. Tapi... Mas Adi menariknya. Pinggulnya diangkat dan tubuhnya rebah menindihku dan erat memeluk tubuhku. Kurasakan tubuh Mas Adi bergetar. Beberapa saat berikutnya kurasakan cairan hangat di perutku.

"Mikir apa, Ti?"

Aku menoleh. "Eh, kirain tidur. Nggak mikir apa-apa, cuman lemes aja." jawabku.

"Sama dong," tubuhnya menggeliat lalu bangkit.
Diciumnya putingku sekilas, lalu dia duduk. Matanya ke dadaku, lalu turun ke perutku. Diambilnya tissu dan dibersihkannya perutku dari ceceran maninya.

"Mas keluarnya banyak banget," kataku.

"Iya nih, maklumlah udah seminggu gak keluar."

Aku bangkit. Tubuhku serasa lengket-lengket karena keringatku yang bercampur dengan keringat Mas Adi. "Aku mau mandi, Mas."

"Oh ya, sebentar." Mas Adi mengambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya. Di rumah paman Mas Adi ini hanya kami berdua, jadi aku tenang saja bertelanjang melangkah ke kamar mandi.

"Kamu benar-benar seksi, Ti." Secara refleks Aku menutupi dadaku dengan handuk yang terlipat rapi dan menutup selangkanganku dengan telapak tangan.

"Hahaha... kenapa musti ditutupi, toh aku udah lihat seluruhnya."

Aku hanya senyum, masuk kamar mandi dan menutup pintu. Mas Adi menahan pintu. "Entar dong, kita mandi bareng yuk. Belum pernah kan?"

Dengan sabun cair Mas Adi membalur tubuhku.
Di bagian dada dia lebih tepat dibilang mengusap-usap dibanding menyabuni. Juga di selangkangan. Dia minta aku membuka pahaku dan dengan hati-hati telapak tangannya yang bersabun mengusapi kewanitaanku. Aku bergidik.

"Gantian, Ti."

Kubalur tubuhnya. Mulai dari leher, turun ke dada, perut dan... eh, benda itu mulai menegang.
Aku hanya selintasan saja membalur miliknya itu lalu ke pahanya.

"Eh, yang itu dong, Ti.
Biar bersih."

"Huu, maunya." tapi aku nurut. Kubalur mulai dari 'telor'-nya dan ketika sampai ke batangnya, benda itu benar-benar telah tegang mengacung.
"Ih, nakal nih. Berdiri mulu." kataku gemas.

Lalu Mas Adi memelukku, tangannya membuka kran shower. Kami berpelukan erat di bawah guyuran air. Kemudian tubuh Mas Adi perlahan bergeser mendorongku. Pantatku dinaikkan ke meja keramik di samping wastafel dan pahaku dibukanya. Diarahkannya penis tegang itu menuju selangkanganku dan benda itu mulai menggosok-gosok kewanitaanku. Mukanya disusupkan di belahan dadaku. Nggak tahu kenapa aku tak begitu menikmati gosokan penis Mas Adi. Mungkin posisiku yang kurasakan kurang pas. Sebaliknya Mas Adi kurasakan sudah 'tinggi', nafasnya begitu memburu.

Tak apalah, kali ini aku akan memberi Mas Adi kepuasan tanpa menuntut kepuasan untukku. "Gantian, mas yang duduk." Perintahku. Mas Adi nurut saja.

Penisnya yang menantang langit itu kubelai-belai. Tangan sebelah lagi kugunakan untuk meraba-raba biji pelirnya. Sisa-sisa sabun yang masih nempel di tubuhnya memungkinkan telapak tanganku mengocok batang keras itu. Mulut Mas Adi mendesis-desis. Beberapa menit telah berlalu. Aku heran, Mas Adi belum juga 'sampai'. Berdasarkan 'pengalaman'ku selama ini menstimulir penis Mas Adi, seharusnya dia telah orgasme. Aku lalu ambil inisiatif, kubersihkan busa yang menempel di batang itu dengan air sampai bersih, lalu dengan lidah kutelusuri batangnya mulai dari pangkal sampai ke kepalanya.
"Ohhh... Tiii..." desisan Mas Adi tambah seru.

Ketika batang penis itu dengan perlahan dan bertahap kumasukkan dalam mulutku, mulut Mas Adi makin tak karuan mengoceh. Dengan gerakan berirama kedua belah bibirku seperti mengurut penisnya. Mulai dari pangkal sampai kepala dan balik lagi ke pangkal. Aku tak mempedulikan reaksi mulut Mas Adi yang menceracau. Kuberi dia berbagai variasi gerakan 'mengurut'.

Sampai suatu saat Mas Adi merangkul kepalaku, tubuhnya mengejang, mulutnya meneriakkan namaku. Dan... kurasakan cairan hangat itu menyemprot di dalam mulutku. Seketika mulutku mual dan rasa tak nyaman. Segera kulepas penis Mas Adi dari mulutku, khawatir aku akan tersedak atau bahkan muntah. Kusaksikan penis Mas Adi berkedut-kedut mengeluarkan cairan putih.

"Sorry, Ti. Mustinya tadi kucabut."

"Nggak apa-apa, Mas." aku tadi memang berniat membiarkan Mas Adi ejakulasi di mulutku dan akan kumuntahkan lagi, tidak kutelan.
Tapi baru satu semprotan, aku tak sanggup menampungnya.

Benar-benar! Sejak pagi tadi yang kami lakukan berdua hanya makan, nonton TV, dan seks (atau entah apa namanya, hubungan seks jelas bukan, pokoknya bermesraan sampai puas tanpa penetrasi, mungkin 'petting' istilah yang mendekati). Berdua kami bagai kuda yang selama ini terkekang dan kini lepas kendali. Kesempatan tiba dengan 'pas'. Sudah lama kami tak ketemu, lalu ada rumah kosong yang bisa kami tempati. Sampai sore ini entah berapa kali kami bermesraan, yang jelas dua kali Mas Adi ejakulasi. Pertama, kami lakukan begitu tiba di rumah pamannya ini. Kedua, sehabis mandi aku meng-oralnya. Kami sempat ketiduran setelahnya.

Ketika aku terbangun, kulihat di luar telah gelap. Arlojiku menunjukkan pukul 6.40 sore. Mas Adi masih nyenyak tidurnya, bahkan ngorok. Aku tak tega membangunkannya. Kelihatannya dia benar-benar lelah setelah 'kerja-berat'. Tapi perutku lapar. Aku bangkit dan melangkah ke dapur. Tak ada makanan. Terpaksalah aku membangunkan Mas Adi.

"Mas, bangun, Mas. Udah malam."

Mas Adi menggeliat. "Hah, udah gelap."

"Emang, yuk kita keluar cari makanan. Narti laper nih."

"Oh iya, kita nggak punya makanan ya?"

Aku lalu mandi dulu, baru Mas Adi. Oh, alangkah indahnya. Jalan-jalan berdua bergandengan tangan kadang berpelukan di malam hari yang cerah langit penuh bintang. Sebelum masuk ke rumah makan, Mas Adi sempat mengecup pipiku dan berbisik, "Mas sayang banget sama Narti."

"Narti juga, Mas." kubalas kecupannya. Oh, alangkah indahnya.

Sepulang dari makan malam, Mas Adi mulai mencumbuku lagi ketika aku sedang duduk di sofa nonton TV. Blousku berantakan diacaknya, dadaku digigitinya. Lalu dia bangkit dari sofa dan... seperti yang sering dia lakukan, menelanjangi dirinya sampai bugil. Penisnya sudah tegang lagi. Entah berapa kali benda itu tegang sejak pagi. Lalu dia berlutut di karpet tepat di depan aku duduk. Diusapnya dengkulku dan lalu tangannya menyelusup di balik rok-ku membelai-belai pahaku. Aku mulai terangsang.

Disingkapnya rok-ku tinggi-tingi, lalu Cd-ku ditariknya kebawah, perlahan-lahan sampai lepas dari kakiku. Dengan gemetaran aku menunggu apa yang akan dilakukan Mas Adi. Pahaku dibukanya lebar-lebar, dipandanginya kewanitaanku. Pandangannya yang sayu beralih menatapku.

"Yayang nikmati aja ya..." katanya sambil mendorong kedua bahuku hingga rebah di sandaran sofa. Lalu kepala Mas Adi tenggelam di antara pahaku. Kepalaku mendongak ke arah langit-langit menikmati permainan lidah dan bibir Mas Adi di kewanitaanku. Aku benar-benar serasa melayang. Apalagi kedua telapak tangan Mas Adi menyusup di bawah pantatku yang telanjang, meremas-remas sambil setengah diangkat. Terbangku makin tinggi.

Lalu Mas Adi bangkit. Dilepasnya blouse dan braku, lalu rok-ku. Dengan masih berlutut, kelaminnya diarahkan ke kelaminku. Seperti biasanya, dia akan 'menyapu-nyapu' Dengan bertelanjang bulat kami berjalan berpelukan menuju kamar. Mas Adi mengarah ke kamar tidur pamannya.

"Jangan di situ ah, Mas, nggak enak." Masa bermesraan di tempat tidur pamannya. Lalu kami ke kamar depan, kamar Mas Adi dulu ketika masih kerja di Jakarta.

Aku rebah terlentang membuka paha, Mas Adi kembali menyusupkan kepalanya di antara pahaku, meneruskan permainan lidah dan bibirnya. Tubuhku mulai terangkat lagi. Mas Adi begitu intensifnya menstimulir clit dan liang senggamaku sampai aku benar-benar pada puncak rangsangan.

"Ayolah, Mas." kudorong kepala Mas Adi hingga lepas dari selangkanganku. Kugenggam batang penisnya dan kusapu-sapukannya pada liangku. Lalu ketika ujung penis Mas Adi tepat di mulut kewanitaanku, kulepas genggamanku pada penisnya dan kutekan pantat Mas Adi ke bawah. Ya, aku telah memutuskan sekaranglah saatnya untuk benar-benar bersetubuh dengan kekasihku tercinta ini. Aku telah mengambil keputusan untuk melepas keperawananku bersama Mas Adi malam ini. Dasar keputusanku bukan saja karena aku telah terangsang tinggi, tapi memang niatku untuk menyerahkannya malam ini begitu kami punya kesempatan bebas di rumah ini.

"Ti...!" Mas Adi kaget dan menarik pinggulnya hingga penisnya terangkat lepas.
"Ayo, Mas, kita lakukan sekarang..."

"Kamu sadar apa yang kamu omongkan?"

"Iya. Sadar banget."

"Nggak, Ti. Jangan sekarang."

"Narti pengen banget, Mas. Mas nggak pengen?"

"Dari dulu, Ti, Mas pengeen banget, tapi bukan sekarang..."

Aku heran dengan kekasihku ini. Yang biasanya terjadi adalah lelaki yang minta duluan. Ini justru aku yang minta, eh malah lakinya yang nolak. Aku sepertinya sudah sampai pada 'point of no return', sudah begitu lembab dan berdenyut-denyut di dalam sana.
Saat itu aku lupa pada rasa sakit yang mungkin akan aku rasakan pada hubungan seks yang pertama kali, yang selama ini menakutkanku. Yang aku rasakan hanyalah keinginan untuk 'diisi dan dikocok'.

Akhirnya Mas Adi kembali menempelkan ujung penisnya ke 'pintu'ku untuk, seperti biasa, digesek-gesek.
Aku menyambutnya dengan amat antusias. Gerakan pinggulku begitu aktif merespons gesekan Mas Adi. Gerakan Mas Adi begitu galak, dan dari wajahnya yang merah padam menandakan dia juga sudah sangat tinggi.

Aku ambil inisiatif. Kupeluk tubuhnya erat-erat lalu kugulingkan. Aku di atas tubuhnya sekarang. Pahaku mengangkangi pinggul Mas Adi lalu penisnya yang sudah teramat tegang dan 'membara' kuarahkan ke selangkanganku, lalu aku menggerakkan pinggulku maju-mundur di atas pinggulnya.
Mata Mas Adi terpejam, kepalanya menghadap langit dan mulutnya berdesis-desis. Ketika kurasakan kepala penisnya tepat pada liang senggamaku, Aku menekan. Ahh... nikmatnya ketika kepala itu memenuhi liangku. Lalu aku menekan lagi lebih keras, ahh... sakit kurasakan memenuhi liangku. Aku mengurangi tekananku dan kembali bergoyang. Kuulangi gerakan tadi, ahh... sakit lagi. Benar-benar sakit selangkanganku!

Tiba-tiba kedua lengan Mas Adi mencengkeram tubuhku lalu tubuhnya miring. Kami bergulingan dan ujung penisnya terlepas dari selangkanganku. Mas Adi kini menindih tubuhku. Kurasakan 'kepala hangat' itu menempel liangku lagi dan berikutnya tubuh Mas Adi kurasakan menekan. Aku terpejam menunggu. Tekanan itu semakin kuat. Bukan sakit lagi yang kurasakan tapi ngilu yang tak tertahankan. Sehingga tanpa sadar mulutku berucap: "Aduuh...!"

Mas Adi langsung mengendorkan tekanan, "Oh... sorry, yang."

"Nggak apa-apa, mas. Terus aja..." kataku terengah.

"Kamu yakin nggak apa-apa?"

Aku menggeleng.

"Yayang yakin... kita lakukan sekarang?"

Aku mengangguk-angguk

Lalu pinggul Mas Adi membuat gerakan memompa. Rasa ngilu lenyap, hanya rasa nikmat di bawah sana. Kulihat ke bawah, Aku sempat melihat kepala penis Mas Adi timbul tenggelam seirama gerakan pompaannya. Pompaan kecil, hanya ujungnya saja yang keluar-masuk.

"Sakit, Yang?" dia bertanya.

Aku menggeleng. Lalu kurasakan Mas Adi menambah tekanannya.
Kembali kurasakan ngilu di selangkanganku. "Aauuff...!" seruku.

"Sakit, Yang?" Mas Adi bertanya.

Aku mengangguk. "Tapi nggak apa-apa, Mas. Terus saja." Kulihat lagi ke bawah. Separuh batang penisnya telah tenggelam di selangkanganku. Mas Adi benar-benar telah memasuki tubuhku. Kami benar-benar telah melakukannya!

Mas Adi memompa lagi, kini pompaan yang rada panjang. Rasa nikmat kembali datang. Tapi ketika dia menekan lebih kuat lagi, rasa sakit yang kudapat. Begitulah, rasa nikmat silih berganti dengan rasa ngilu. Sampai suatu saat seluruh bagian tubuh Mas Adi telah menindih ketat ke tubuhku.

"Yang, kita telah melakukannya. Kita benar-benar berhubungan seks."
bisiknya pada saat berhenti memompa, kulihat bulu-bulu kelamin kami memang telah saling menempel ketat. Penis itu telah seluruhnya tenggelam ke dalam tubuhku!

"Berarti Narti sudah bukan perawan lagi." kataku. Mas Adi mengangguk.
Entah kenapa tiba-tiba Aku jadi sedih, dan terus menangis...

"Yang..." Mas Adi memeluk tubuhku lebih erat. "...jangan nangis dong." dia menciumi wajahku bertubi-tubi. Aku masih sesenggukan. Ada rasa menyesal, sekaligus juga rasa bahagia.

"Yayang nyesel?" tanyanya.

Aku tak menjawab. Kupeluk tubuh Mas Adi erat-erat. Apa yang harus disesalkan? Semuanya telah terjadi dan aku memang menginginkannya.
Lalu kami saling berpelukan. Lalu kami mulai bergoyang. Mas Adi memompa lagi. Pompaan sempurna. Layaknya pompaan hubungan suami isteri...!

***

Tubuhnya masih menindihku. Baru saja Mas Adi ejakulasi setelah pompaan hebat yang menghanyutkanku. Tak seperti biasanya tumpah di perutku, entah mengapa kali ini dia tumpahkan ke sprei di antara bentangan pahaku. Setelah beberapa saat kami rebahan lemas, Mas Adi bangkit.

"Bangun, Yang." kata Mas Adi. Dengan malas aku bangkit. Mata Mas Adi terus tertuju pada bentangan pahaku.

"Lihat apa sih, Mas?" aku bertanya.

"Yayang geser dulu." katanya. Aku menggeser pantatku, penasaran ingin tahu. Ternyata... Bercak-bercak merah telah 'menghiasi' sprei. Bercak-bercak dari tubuhku. Darah dari selaput daraku yang robek. Bercampur dengan mani kekasihku.

Mas Adi memelukku. Mungkin dikiranya aku akan menangis lagi. Kenyataannya, aku memang menangis lagi.

"Mas mau berjanji?" tanyaku sambil sesenggukan.

"Janji apa, Yang?"

"Janji untuk tidak meninggalkan Narti."

"Tentu saja, Yang. Kita sudah jadi suami-isteri."

"Benar, Mas?"

"Benar, Ti. Kita sudah suami-isteri. Cuma perlu surat nikah saja."

"Benar Mas akan menikahiku?"

"Pasti, Ti."

"Tak akan meninggalkanku?"

"Tidak." katanya mantap.

"Narti sudah bukan perawan lagi..."

"Aku juga sudah tidak perjaka lagi, Yang."

Mas Adi lalu membereskan sprei bernoda itu. Dengan hati-hati sprei itu dilipatnya baik-baik. "Akan mas simpan untuk kenangan kita," katanya.

Lalu kami berdua ke kamar mandi. Kurasakan perih di selangkanganku ketika aku membasuhnya. Seperti perihnya luka terkena air. Ini telah menyadarkanku bahwa Narti yang tadi pagi memasuki rumah ini telah berbeda dengan Narti sekarang. Aku sekarang bukan gadis lagi. Aku berusaha tak menangis lagi, tapi gagal.

"Sudahlah, Yang..." Mas Adi memelukku. Aku menangis di dadanya yang bidang. Sudah sering dia memelukku seperti ini. Tapi baru kali inilah aku merasakan rasa aman dalam pelukan Mas Adi.

Tengah malam menjelang tidur, kami melakukannya lagi. Aku yang memintanya. Kali ini aku benar-benar bisa merasakan nikmatnya berhubungan seks, dengan sebenar-benarnya. Benar-benar memabukkan!  Makanya, dengan senang hati aku memenuhi permintaan Mas Adi ketika bangun pagi Mas Adi minta lagi, meskipun aku setengah mengantuk. Benar-benar nikmat. Nikmat yang susah digambarkan!

Dan anehnya, ketika aku telah berada di rumah keluarga Anton dan Mas Adi telah berangkat kembali ke Semarang, serasa penis Mas Adi masih 'tersimpan' di dalam tubuhku bagian bawah sana...!

***

Baru seminggu Mas Adi pindah ke Semarang, aku sudah merasakan kerinduan yang menyiksa. Libur pertama dia tak bisa ke Jakarta mengunjungiku, sebab dia harus memanfaatkan waktu liburnya untuk mencari-cari tempat kost. Untuk sementara dia numpang tinggal di rumah temannya. Sebenarnya, temannya itu tak berkeberatan bila Mas Adi tinggal lebih lama sementara dia mencari kost, tapi Mas Adi merasa tak enak hati saja. Dia harus cepat-cepat mendapatkan tempat tinggal. Aku bisa mengerti bila Mas Adi week-end kali ini belum bisa menemuiku.

Yang tak bisa ’mengerti’ adalah bagian tubuhku yang di bawah sana. Di dalam sana acap kali berdenyut-denyut merindukan 'belaian', suhu tubuhku naik seiring dengan naiknya keinginan 'diisi'. Kalau sudah begini buah dadaku serasa 'bengkak' dan putingnya keras menegang. Aku sungguh merindukan remasan tangannya dan ciuman mengambangnya di dadaku, serta kuluman pada putingku seperti setiap minggu dia lakukan. Aku juga merindukan pompaannya yang penuh variasi, kadang tusukan mengambang dan setengah batang, kadang hunjaman 'full body'. Oh Mas Adi... aku merindukan belaian mesramu yang penuh nafsu.

Perasaan haus belaian Mas Adi begini biasa datang waktu menjelang tidur atau saat sepi siang hari dimana penghuni sedang tak ada. Hanya ada aku dan Putri, sementara Bi Ijah sepanjang hari hampir selalu ada di belakang. Seperti tadi malam, aku begitu merindukan belaian Mas Adi sampai tubuhku panas dan bergetar. Aku membayangkan Mas Adi sedang menindihku dan mengemoti putingku. Tapi sebenarnya yang terjadi adalah aku tanpa sadar meremasi dadaku sendiri dan jari-jariku memelintir puting-puting susuku. Kurasakan tubuhku di bawah sana telah kuyup.

Suatu malam saat aku sedang 'kasmaran' dan meremas-remas dadaku, kudengar suara tangisan Putri. Aku segera bangkit menghampirinya dengan nafas yang masih tersengal. Biasa, Putri terbangun karena pampers-nya basah. Setelah kuganti tangisannya tak juga berhenti, ini artinya dia lapar. Kugendong dia supaya tangisannya tak mengganggu papa mamanya yang mungkin lagi 'main' sementara aku membuatkan susunya. Tiba-tiba aku merasakan nikmat yang aneh di dadaku dan tangis Putri berhenti.

Oh! Kulihat mulut Putri sedang asyik menyedoti puting dadaku! Dia begitu tenang menikmati 'susu'ku. Dadaku yang tanpa bra belum sempat kututup lagi sewaktu mendatangi Putri tadi. Memang sudah biasa ketika kugendong kepala Putri menyusup di dadaku. Dengan dada yang terbuka dan puting yang masih tegang karena kugosok-gosok sambil membayangkan Mas Adi tadi, Putri dengan mudah 'menemukan'nya. Kalau dadaku dalam keadaan 'normal' tentu sulit bagi Putri untuk mengemotnya. Tapi kejadian ini membuatku pada pengalaman nikmat baru.

***

Pagi tadi aku sungguh nervous. Betapa tidak. Sebelum Pak Anton berangkat ke kantor, dia ingin menggendong Putri dan mengambilnya dari gendonganku. Entah sengaja atau tidak, lengan Pak Anton sempat menekan dadaku sewaktu dia meraih Putri dari gendonganku. Tekanan lengannya pas pula di putingku.

Aku sungguh berharap semoga saja Pak Anton tadi sama sekali tak sengaja berbuat begitu. Aku tak ingin ada masalah dengan keluarga Anton. Masalah yang sering aku dengar antara baby sitterdengan majikannya. Aku menyukai pekerjaan ini dan betah tinggal di sini. Aku tak mau kehilangan pekerjaan ini. Aku pantas cemas bila memikirkan jangan-jangan Pak Anton sengaja berbuat begitu dalam rangka coba-coba menggodaku.

Menggodaku? Memangnya kamu siapa. Cukup ’berharga’kah kamu di mata Pak Anton? Lihat isterinya. Cantik, putih, tinggi, langsing bak peragawati. Aku jadi senyum sendiri.
Suatu kekhawatiran yang berlebihan kurasa. Ini karena aku menikmati pekerjaanku. Dengan gaji yang lumayan dan pengeluaran hampir tak ada, aku bisa menabung untuk persiapan masa depanku bersama Mas Adi. Wajarlah aku begitu khawatir kalau kehilangan pekerjaan. Tapi dengan membandingkan Bu Anton, aku merasa lebih tenang. Peristiwa tadi pagi pasti adalah senggolan tak disengaja.

Rupanya perasaan tenang yang kualami tak lama bertahan. Tadi pagi lagi-lagi Pak Anton mengambil Putri dari gendonganku sambil punggung tangannya mengusap dadaku. Padahal aku sudah bersiap dengan menjauhkan jarak Putri dari dadaku, tapi tangan Pak Anton begitu jelasnya sengaja menjangkau dadaku. Dengan muka marah kupelototi mata Pak Anton. Ingin aku memakinya saat itu juga, tapi mulutku terkunci. Dia menghindar, tak berani menatap mataku. Ini jelas-jelas bukan tak sengaja. Aku menangis. Begitu sedih dan jengkel mendapati kenyataan bahwa Pak Anton memang sengaja meraba dadaku. Ingin rasanya aku menelepon Mas Adi dan mengadukan perbuatan Pak Anton ini. Tapi aku begitu khawatir kehilangan pekerjaan. Kalau nanti Mas Adi melapor ke Bu Anton atas perbuatan suaminya itu, pasti Bu Anton menyalahkanku dan lalu memecatku. Orang kecil memang selalu jadi korban. Mana ada Bu Anton menyalahkan suaminya, tak akan terjadi.

Kejadian itu berulang lagi dengan cara yang berbeda. Ketika aku sedang membalur tubuh Putri yang kubaringkan di boks-nya dengan minyak telon, Pak Anton berdiri di belakangku menggoda Putri.
Kurasakan pahanya menempel di pantatku. Posisi tubuhku yang setengah membungkuk tak bisa lagi maju karena tertahan boks bayi, paling hanya menggeser ke kiri. Tapi dia ikut pula menggeser bahkan sambil menekan. Oh... kurasakan sesuatu yang keras menekan pantatku. Jelas, benda keras itu adalah penis Pak Anton. Aku tak bisa lagi menghindar dengan menggeser lagi karena kena tiang boks. Aku terpojok tak berkutik. Yang bisa kulakukan hanya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku untuk segera kabur dari situ. Kurang ajar! Pak Anton membuat gerakan-gerakan menggoda anaknya sehingga penis tegangnya menggeser-geser pantatku. Aku hanya bisa menahan diri untuk tak meledak marah. Lagi-lagi aku hanya bisa menangis.

Setelah agak tenang, aku coba mengingat-ingat kembali perilakuku sejak pertama bekerja sebagai baby sitterdi keluarga Anton sampai hari ini. Aku mencoba introspeksi apakah ada kelakuanku yang membuat Pak Anton jadi kurang ajar. Tidak ada. Perilakuku biasa saja. Caraku berpakaian juga sopan, aku selalu memakai seragam putih yang tertutup. Aku coba meyakinkan dengan bercermin. Tertutup. Tak ada bagian tubuhku yang terbuka. Seragam itu ujungnya sampai di bawah lutut dan bagian dada tertutup. Kalaupun ada yang dibilang rada 'mengundang' cuma ini, di bagian dada rada ketat sehingga kesan menonjol. Tapi itu bukan salahku, memang keadaan dadaku begitu.

Aku bisa menarik suatu pelajaran, bahwa seorang pria yang punya segalanya, isteri cantik, keluarga harmonis dan bahagia, bukan berarti dia berperilaku baik pada wanita di sekelilingnya, bukan pula jaminan dia tak akan mengganggu wanita lain. Apa yang musti kulakukan sekarang agar nanti tak jadi runyam? Minta berhenti? Tidak. Itu hanya menandakan bahwa aku seorang wanita lemah yang gampang ditindas.
Aku bukan tipe wanita seperti itu. Menerima keadaan menahan diri walaupun dilecehkan? Tidak. Lalu? Pertama, sedapat mungkin aku akan menghindar bertemu dengan Pak Anton. Kedua, kalaupun harus ketemu kuusahakan agar ada orang lain yang hadir. Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mencegah hal-hal yang tak kuinginkan.

***

"Mbak, Ti, Mbak lagi di mana?" suara teriakan Ricky.

"Di sini, Mas." aku ikut-ikut memanggil Mas pada Ricky, seperti yang dilakukan papa-mamanya, juga ’membahasakan’ Putri. Aku sedang menjaga Putri yang sedang belajar telungkup di karpet ruang tengah.

"Tolongin dong Mbak, banyak pe-er nih." katanya sambil langsung saja duduk dipangkuanku dan tubuhnya menyandar di badanku. Manja benar anak ini. "Heh, apa nih?" katanya setengah kaget. Tapi sebenarnya aku yang kaget. Ketika dia menyandar ke badanku terasa ada yang mengganjal di punggungnya. Tiba-tiba tangan Ricky meraba benda yang mengganjal tadi yang tak lain adalah buah dadaku. Segera saja aku menepis tangannya.

"Heh, nggak boleh begitu ya, nakal tuh namanya." seruku.

"Ehm... sory deh, mbak. Ricky nggak tahu. Di dada mbak kok ada yang gede gitu?" katanya polos.

"Semua wanita dewasa memang begitu, masa mas gak tahu?" jelasku.

"Punya Mama kok gak ada?"

"Ada dong, kalo nggak ada, di mana Putri mau menyusu?"

"Tapi gak gede kaya punya mbak."

Aku tak tahu mengapa anak sebesar ini belum mengerti perbedaan tubuh antara pria wanita. Kalau melihat cara bicaranya yang ceplas-ceplos spontan begitu, Ricky memang tidak sedang berpura-pura.

"Tiap orang kan beda-beda, Mas. Ada yang besar, sedang, ada yang kecil." terangku. Sekalian memberi pelajaran pada anak ini.

"Jadi punya Mama kecil ya, mbak?"

"Mungkin, mbak kan belum pernah lihat. Udah ah, mana pe-er nya?" potongku untuk mengalihkan perhatian. Risih juga aku, anak ini menatapi bagian dadaku terus. Ricky memang mengalihkan pandangannya, tapi tak mau turun dari pangkuanku dan punggungnya masih menyandar ke dadaku.

Anak ini semakin bermanja kepadaku dan tingkahnya cenderung semakin ’nakal’. Kalau dia duduk di pangkuanku kadang kepalanya sengaja menekan- nekan dadaku. Kadang sambil dia tiduran di pahaku, mencuri-curi pandang ke arah selangkanganku.

"Mbak pake celana putih ya?" ujarnya spontan. Kadang dia masuk ke kamarku selagi aku berganti baju. Sebenarnya aku makin khawatir pada tingkah lakunya ini, tapi toh dia masih kekanakan begitu. Aku tak menganggapnya masalah serius, seperti kenakalan Bapaknya.

***

Akhir-akhir ini aku punya kebiasaan baru yang menyenangkan. Sewaktu aku merasa kesepian merindukan kehadiran Mas Adi lalu jadi ’panas’, kugendong Putri dan membiarkan anak itu 'menyusu'. Putri dengan nyamannya mengemoti puting susuku yang memberiku kenikmatan baru. Begitulah, kebiasaan yang nakal sebenarnya, tapi lumayan bisa menghiburku. Tentu saja perbuatan ini aku lakukan bila aku hanya berdua saja dengan Putri.

Bagaimanapun kebiasaan yang nakal ini akan ada akibatnya. Aku kena batunya. Waktu itu nafsuku sedang naik. Duduk di tepian tempat tidurku, aku sedang asyik 'menyusukan' Putri sambil memejamkan mata menikmati kemotannya, tiba-tiba tanpa kusadari Pak Anton sudah berdiri di depanku! Mati Aku. Habislah Aku!

"Ti, ngapain kamu?!" bentak Pak Anton.

Aku begitu gugup sehingga kemotan Putri terlepas, lalu dia menangis. Wajah Pak Anton begitu marahnya. Pandangannya tidak ke mataku tapi tertuju menatapi sebelah dadaku yang terbuka seluruhnya. Begitu takutnya sampai Aku 'lupa' menutup kancing bajuku. Cepat-cepat aku menutup dada.

"Coba ulangi, apa yang kamu lakukan tadi." katanya.
Aku gemetar dan diam terpaku. Takut setengah mati. Tamatlah Aku.

"Ulangi!" bentaknya. Aku masih diam.

"Aku bilang ulangi apa yang kamu lakukan pada Putri." bentaknya lagi sambil mendekat. Perlahan aku membuka lagi kancing bajuku, mengeluarkan dadaku dan menyusukan Putri. Anak itu tangisnya langsung berhenti.
Pak Anton makin mendekat dan jongkok di depanku. Matanya tajam menatap dadaku.

"Ampun, Pak. Dari tadi Putri nangis terus." akhirnya aku mampu membuka mulut.

"Kalo Mamanya tahu, kamu bisa dipecat," katanya lagi setelah agak lama sunyi. Bicara begitu tapi matanya tak lepas dari dadaku. "Sayang, enak ya?" katanya kepada Putri sambil mengusap-usap pipinya. Aku diam ketakutan. Begitu pula ketika Pak Anton mulai menyentuh buah dadaku. Aku masih diam ketakutan ketika tangan Pak Anton mulai mengelus buah dadaku.
Mendadak aku sadar, lalu bergerak mundur menghindar. Mulut Putri terlepas dari dadaku.
"Kamu diam!" bentaknya. Tangan pak Anton makin leluasa mengelusi dadaku, bahkan meremasnya. Saking takutnya, aku hanya diam membiarkan tangannya terus meremas-remas. Matanya kini tajam menatapku.

"Pantesan Putri diam..." katanya pelan. Aku masih mematung. "Dada kamu bagus." lanjutnya dengan suara serak. Aku mulai berontak menepis tangan nakal Pak Anton.

"Diam kataku!" bentaknya. Aku kalah kuat, tangannya masih saja 'bekerja'. Putri menangis keras.

"Putri... Pak," kataku beralasan. Pak Anton bangkit melepaskan dadaku menuju kamar Putri. Aku segera hendak merapikan bajuku.

"Kamu diam aja di situ." bentaknya lagi. Aku menurut. Pak Anton membuatkan susu untuk Putri. Baru kali ini aku melihat dia membuatkan susu anaknya. Lalu dia menidurkan Putri di kasurku dan diberinya susu. Putri langsung diam. Pak Anton kembali ke arahku duduk, jongkok di depanku. Lalu tangannya membuka kancing bajuku dan lalu merabai dadaku. Aku memang tak memakai bra ketika sedang ’bermain’ dengan Putri.

"Pak, jangan..." aku menghiba.

"Kamu sebaiknya diam aja, daripada kulaporkan ke Mamanya Putri!" bentaknya, masih galak. Otakku buntu, tak mampu berpikir lagi cara untuk menghindar dari kenakalan majikanku ini. Mungkin juga karena rasa bersalah yang besar. Aku masih mematung ketika mulutnya mulai menciumi dadaku dan lalu mengemoti putingku. Sementara tangan kirinya menyusup dan meremasi buah dada kananku. Lalu didorongnya tubuhku hingga rebah ke kasur dan ditindihnya tubuhku. Aku benar-benar bagai boneka yang diam saja padahal bahaya mengancamku. Hanya ada satu rasa, ketakutan yang amat sangat. Sampai gaunku dilepasnya dan hanya tinggal CDku saja, aku masih tak mampu bereaksi. Bahkan tanpa kusadari tubuh bagian bawah Pak Anton telah telanjang. Entah kapan dia melepas celana panjang dan CDnya. Pria ini benar-benar telah kerasukan. Dengan tubuh yang setengah telanjang dia menindihku sementara bayinya berbaring persis di sebelahnya.

Ketika dia mulai memelorotkan CD-ku dan bersiap menghujamkan penis tegangnya ke selangkanganku, mendadak kesadaranku pulih. Aku berontak keras, sekuat tenaga melepaskan dari tindihannya.

"Diam, Ti. Layani aku baik-baik, aku tak akan lapor..."

Aku tetap berontak.

"Kalau nggak mau diam, aku lapor."

"Biar saja. Nanti saya juga lapor ke Ibu!" kataku berani.

"Kamu nanti dipecat."

"Biar saja!" kataku tegas. Mendadak aku punya kekuatan. "Saya akan bilangin ke Ibu." tambahku.

Mendadak pelukannya mengendor. Kugunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri. Pak Anton tidak mencoba menahanku. Aku menang!

"Tubuhmu bagus..." bisiknya.

Aku cepat-cepat memunguti pakaianku dan mengenakannya, di bawah sorot mata Pak Anton. Kini Pak Anton yang mematung. Penisnya masih tegang mengacung. Hmm... lumayan besar, tapi tak sepanjang punya Mas Adi. Huh! dalam kondisi seperti ini masih saja aku sempat membanding-bandingkan.

"Baiklah, kamu nggak benar-benar mau lapor ke Ibu kan?" katanya kemudian sambil memakai CD-nya. Aku diam.

"Kamu masih mau kerja di sini, kan?" dia bertanya.

"Sebenarnya saya betah kerja di sini, pak, asalkan bapak nggak mengganggu saya lagi."

"Saya nggak mengganggu kamu, Ti. Saya sebenarnya tertarik sama kamu dari dulu." jawabnya. Aku lebih baik diam. "Saya inginkan kamu secara baik-baik." tambahnya.

"Bapak nggak boleh begitu dong."

"Benar, Ti, tapi aku menginginkan kamu. Tolong ya, Ti. Say
a akan penuhi permintaan kamu. Apa saja! Kamu udah lama nggak ketemu sama pacarmu, kan?" lanjutnya. Aku masih diam.

Pak Anton mendekat. "Aku ingin kita sama-sama menikmati," makin dekat.
Huh, enak saja. "Okay, saya tunggu sampai kamu bersedia." sambil bangkit dia tiba-tiba memegang kedua bahuku dan lalu mencium bibirku.

Aku kaget mendapat serangan tak terduga ini, lalu berontak. Pak Anton malah memelukku kencang. Makin aku bergerak dia semakin mempererat pelukannya. Aku menyerah, toh dia hanya menciumku. Dilumatnya bibirku dengan ketat, aku diam membiarkan, tak bereaksi. Aneh rasanya. Pak Anton, orang terhormat, kaya raya, punya isteri cantik ini mencium bibir pengasuh bayinya, aku, wanita 'biasa'. Bibirnya melumat habis bibirku, aku masih mematung, tak membalas lumatannya juga tak berusaha menolak. Lalu lidahnya mulai menyapu-nyapu bibirku dan diselipkan ke mulutku. Aku merinding.

Entah kenapa lidahku menyambut sapuan lidahnya.
Dari rasa merinding, aku merasakan aliran hangat di kepalaku. Dan hei, bibirku mulai bereaksi membalas lumatan bibirnya! Aliran hangat terasa makin meluas ke sekujur tubuhku. Tangan kanannya membukai kancing bajuku dan lalu telapak itu merabai bulatan dadaku. Cara dia merabai dadaku yang setengah mengambang mirip yang selalu dilakukan oleh Mas Adi. Tubuhku bergetar dan rasanya aku mulai terangsang. Dadaku serasa membengkak dan putingnya menegang. Perubahan ini dimanfaatkan oleh Pak Anton. Tadinya putingku hanya dirabai oleh ujung jarinya, setelah puting itu tegang menonjol lalu dipelintirnya. Selangkanganku mulai membasah.

Dengan cepatnya gaun seragamku dilepasnya dan tubuhku didorong hingga rebah ke kasur. Entah kenapa aku nurut saja. Demikian pula ketika Pak Anton menindih tubuhku dan lidahnya menjilati buah dadaku. Mungkin karena aku mulai terangsang. Apalagi ketika jari-jarinya menyusup ke CD-ku dan menggosok-gosok selangkanganku. Aku mulai melayang. Entah kapan Pak Anton memelorotkan CD-ku, yang jelas aku telah bugil. Entah kapan dia mencopoti pakaiannya, yang jelas penisnya tampak mendongak ketika dia membentangkan pahaku lebar-lebar.

Detik berikutnya penis hangat itu telah menggosoki vaginaku. Saat berikutnya lagi, benda hangat itu terasa tepat menekan pintuku. Lalu kurasakan tekanan.

Tiba-tiba wajah Mas Adi melintas di bayanganku.
Aku membuka mata. Oh, bukan wajah Mas Adi yang kulihat, tapi kepala Pak Anton yang menunduk, memegangi penisnya diselangkanganku dan berusaha masuk. Aku tersentak. Secara refleks pahaku menutup, tapi pria bugil ini membukanya lagi dan mencoba menusuk lagi. Oh, ini tak boleh terjadi! Aku mengatupkan pahaku lagi. Tapi, seberapalah kekuatanku melawan pria yang telah terbanjur nafsu ini? Kedua belah tangan kuatnya menahan katupan pahaku dan menekan lagi. Tangannya boleh menahan pahaku, tapi aku masih punya ruang untuk menggerakkan pinggulku dan membawa hasil, penisnya terpeleset!

Pak Anton jadi lebih ’buas’, dengan kuatnya dibukanya pahaku lagi lalu mengarahkan batang tegangnya langsung ke liangku, dan dengan kuat pula ditekannya, dan ohh... kurasakan benda hangat itu mulai menusuk. Rasanya ’kepala’nya telah masuk. Pegangan tangannya pada pahaku kurasakan mengendor, kugunakan kesempatan ini untuk menutupkan pahaku kembali. Tapi tekanan tusukannya tak berkurang, justru bertambah, sehingga penisnya tak lepas, malahan seolah aku menjepit ’kepala’ yang telah masuk itu. Dan edannya, aku mulai merasakan nikmat di bawah sana.

Rasanya aku mulai menyerah, tak ada gunanya melawan pria yang kesetanan ini. Disaksikan oleh anak bayinya, pria ini mencoba menyetubuhi pengasuhnya. Sialnya -atau untungnya?- Tubuhku di bawah sana mulai menikmatinya setelah seminggu lebih tak tersentuh. Oh, betapa lemahnya aku. Betapa mudahnya aku menyerah. Maafkan aku Mas Adi, aku tak kuasa menolaknya. Air mataku meleleh, aku menangis.

Tapi, terjadilah sesuatu yang tak disangka. Pak Anton tiba-tiba dengan cepat menarik penisnya lalu tubuhnya rebah di atas tubuhku. Detik berikutnya kurasakan cairan hangat membasahi perutku. Betapa leganya aku. Pak Anton telah ’selesai’ walaupun belum penetrasi. Belum? Tepatnya belum sempurna. Aku yakin baru kepala penisnya saja yang masuk. Dengan begitu aku coba meyakinkan diriku sendiri bahwa tadi memang 'belum terjadi sesuatu'. Pak Anton gagal memaksakan kehendaknya. Diam-diam aku bersyukur. Hanya sebentar dia menindih tubuhku, Pak Anton lalu bangkit membenahi pakaiannya. Kupandangi dia satu-persatu mengenakan pakaiannya. Matanya menunduk terus, tak berani menatap mataku. Tanpa berkata sepatahpun dia lalu keluar kamar. Mungkin dia malu. Rasain!

Sejak peristiwa percobaan perkosaan Pak Anton terhadapku, hidupku jadi tak tenang. Kerja diliputi perasaan was-was, jangan-jangan pas Bu Anton keluar rumah, Pak Anton datang siang hari seperti kemarin untuk mengulangi usahanya menyetubuhiku. Jelas aku tak berani lagi bermain-main dengan Putri untuk mengemoti putingku. Aku juga tak berani dekat-dekat dengan Pak Anton. Kalau dia ingin ngemong Putri, lebih baik aku menyingkir jauh-jauh. Untunglah Pak Anton memang jarang pulang siang.

Teringat kejadian kemarin itu sungguh membuatku ketakutan. Betapa tidak, aku nyaris saja diperkosa oleh majikanku. Untunglah dia keburu keluar, kalau tidak pasti hal itu akan terjadi sebab aku sendiri sudah tak berdaya menolaknya. Aku sempat menyerah karena bukan saja Pak Anton terlalu kuat memaksaku, tapi juga karena aku mulai ’merasakan enaknya’. Inilah yang aku sesali terus-menerus. Aku juga menyalahkan Mas Adi, kenapa dia lama tak mendatangiku. Sejak aku merasakan nikmatnya orgasme bersama Mas Adi, milikku yang di bawah sana itu terus-terusan minta diisi. Mauku setiap hari Mas Adi menyetubuhiku. Tapi sekarang dia jauh dan belum tentu setiap minggu bisa ke Jakarta. Wajar 'kan bila aku juga menyalahkan Mas Adi?

Sebenarnya sih aku juga salah, kenapa aku dulu minta Mas Adi untuk terus masuk sehingga aku kehilangan kegadisanku, lalu jadi ketagihan. Sudahlah. Aku tak menyesal mempersembahkan keperawananku kepada pria yang kucintai itu. Hanya kenapa dia tidak selalu ada bila selangkanganku berdenyut-denyut.

Sekarang, ada masalah baru. Pak Anton orang yang terhormat itu menginginkanku. Dan orang itu sehari-hari berada di sekelilingku. Tentu dia akan terus mencoba. Jelas aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menolaknya, tapi sampai kapan aku mampu terus menghindar? Mungkin satu-satunya jalan untuk mencegah terjadinya pemaksaan hanyalah bila aku berhenti kerja. Ini yang tak kuinginkan. Mungkin aku harus mulai mencari-cari pekerjaan baru. Sungguh suatu hal yang tak mudah mendapatkan pekerjaan di masa multikrisis begini. Nantilah aku akan minta tolong Mas Adi mencarikan lowongan di Semarang saja. Kalau Mas Adi tanya, aku punya alasan yang kuat, agar bisa selalu bersamanya.

Perkiraanku benar, Pak Anton tak berhenti mencoba, malah dia semakin kurang ajar. Kalau ada kesempatan dia berada dekat denganku sementara Bu Anton ada di lantai atas, pinggulku diremasnya. "Pantatmu bagus" katanya pelan.
Aku hanya bisa menepis tangannya, tak berteriak khawatir kedengaran isterinya.

Di lain kesempatan dia dengan diam-diam mendekatiku dari belakang lalu merapatkan tubuhnya. Aku hampir saja teriak. "Sstt, Ti." dia berbisik. Aku berusaha melepaskan dekapannya tapi dia makin ketat memelukku. Kurasakan miliknya yang tegang menekan-nekan pantatku.

"Cuman gini aja kok, bentar aja." bisiknya. Ketika aku berhasil lolos dari dekapannya, kulihat Pak Anton sengaja mengeluarkan penisnya sebelum mendekapku.
Orang ini sudah tak waras, pikirku. Oh Mas Adi, tolonglah aku, cepat datanglah. Aku tak tahan lagi!

***

Penantianku berujung juga, akhirnya. Mas Adi nelepon liburan besok mau ke Jakarta. Wah, betapa gembiranya aku, sampai-sampai mataku basah. Minggu pagi aku mau dijemput. Tiba saatnya pagi-pagi aku membereskan Putri dulu sebelum 'kuserahkan' pada ibunya. Lalu aku mandi sambil bernyanyi-nyanyi gembira. Rasanya ini mandi yang paling lama.

Sekitar pukul 8 pagi, Mas Adi udah nongol. Ingin rasanya aku memeluknya erat-erat, tapi mana bisa dilakukan disini. Kami duduk di ruang yang terletak belakang garasi, aku memang biasa menemuinya di situ.

"Ti, rasanya aku pengin nubruk kamu." katanya pelan.

"Tubruk aja, mas, Aku udah siap kok." tantangku.

Dicubitnya pipiku, lalu…

"Selamat pagi, Bu." Eh, Bu Anton nongol, jelas dia sempat melihat Mas Adi mencubit pipiku. Aku jadi malu.

"Pagi, Di. Kapan datang?" untung Bu Anton pur
a-pura tak tahu.

"Tadi pagi jam setengah lima."

"Naik apa?"

"Bus malam, Bu."

"Ya udah, silakan aja.
Ti, bikin minuman, dong."

"Oh iya, ... sampai lupa." Kubuatkan Mas Adi teh panas manis, kesukaannya.

"Jam lima udah nyampe?" tanyaku.

"Ya."

"Langsung ke rumah Oom?"

"Nggak."

"Lalu?"
"Udahlah. Sekarang aja yuk kita pergi?"

"Yuk. Habisin dulu tehnya."

Aku pamit ke Bu Anton.
Lalu sambil menggandeng tangan Mas Adi, aku keluar, rasanya bahagia benar aku pagi ini. Di teras ada Pak Anton lagi baca koran. Dia sempat melihat aku melepaskan tangan Mas Adi. Aku juga pamitan. Pak Anton bukannya langsung bilang 'Ya' tapi melongo melihatku. Matanya meneliti dari ujung rambut ke ujung jariku.

"Saya pergi, Pak." kuulangi pamitanku.

"Eh, ya-ya," sahutnya.

Ketika telah keluar pagar, Mas Adi menggamitku.
"Kenapa sih Pak Anton?" tanyanya.

"Dia emang biasa acuh," jawabku.

"Justru nggak. Jangan-jangan naksir kamu."

OH! sekejap aku tercekat. Lalu ingat bagaimana Pak Anton sempat menelanjangiku dan bahkan sempat menyusupkan kepala penisnya. "Mas!" kataku sambil mencubit lengannya.

"Auw! Cuma bercanda gitu aja kok marah..." untunglah Mas Adi hanya bergurau. Gurauan yang tepat sasaran!

Kami mencegat taksi dan Mas Adi menyebutkan tujuannya.
Kalau tak salah itu nama hotel kecil. Kutatap mata Mas Adi. "Aku tadi langsung ke hotel, habis masih gelap." bisiknya. Diam-diam aku senang. Berarti nanti aku bisa langsung meluapkan rasa rindu. "Sempet tidur dulu tadi sejam," lanjutnya.

Sampai di hotel, kami langsung menuju kamar. Petugas front office melihat kami cuma sekilas, lalu nunduk lagi. Begitu Mas Adi selesai mengunci kamar, aku dipeluknya kencang sekali sampai sesak.

"Oh, Ti, kangen banget!"

"Narti juga, mas."

Lalu bibirku dilumatnya habis-habisan, lidahnya menerobos masuk mulutku. Kami berciuman sambil saling memainkan lidah. Kurasakan milik Mas Adi mengeras. Mas Adi melepaskan pelukan dan langsung melepas kancing- kancing gaunku. Aku menunggu sambil dadaku naik-turun seirama alunan nafasku yang mulai memburu. Gaunku jatuh ke lantai. Mas Adi dengan cepat menelanjangi diri sampai bugil. Penisnya sudah tegang mengacung. Lalu perlahan dia mendorong tubuhku hingga rebah ke kasur, dan menindih tubuhku.
Tekanan tubuh telanjang Mas Adi di atas tubuhku makin kuat. Kedua belah tanganku dibentangnya untuk ditindih oleh kedua belah tangannya pula. Kesepuluh jari-jari tangan Mas Adi meremasi sepuluh jari-jari tanganku. Lalu sebelah tangannya menyusup dibalik punggungku. Aku tahu apa yang akan dilakukannya, melepas kaitan bra-ku. Mas Andi memang punya cara sendiri dalam proses persetubuhan. Sebelum menindih tubuhku dia lebih dulu bertelanjang bulat, sementara aku masih mengenakan bra dan CD-ku.

Aku menyukai cara dia 'memperlakukan' buah dadaku, aku sampai hafal tahapannya. Kali inipun prosesnya sepertinya akan berjalan sama. Perlahan dia membuka bra-ku, lalu sejenak dipandanginya kedua buah dadaku bergantian kanan-kiri. Dia memang selalu mengagumi bentuk dadaku.

"Bulatan yang sempurna" katanya suatu ketika. Kemudian telapak tangannya mengelusi bulatan bukit-bukit dadaku. Cara mengelusi permukaan bukitku yang 'mengambang', antara terasa dan tidak justru membuatku bergidik. Kemudian dilanjutkan dengan sentuhan-sentuhan lembut di kedua putingku yang semakin membuatku 'naik'. Aku memang paling tak tahan kalau dadaku disentuh. Bagiku daerah itu memang sensitif, selain daerah paha bagian dalam dan, tentu saja seluruh wilayah vaginaku. Lalu tahap-tahap perlakuan kepada buah dadaku diulangnya tapi proses yang kedua ini dilakukan dengan mulut dan lidahnya yang berujung kemotan nikmat di puting dadaku.

Lalu ketika ciuman Mas Adi bergeser makin ke bawah, dia langsung menyerbu selangkanganku yang masih tertutup CD. Digigitinya daerahku di situ dan tubuhku berkelojotan. Nafsuku makin naik. Tubuh Mas Adi lalu bangkit, perlahan dipelorotkannya CDku dan pahaku dibentangnya. Biasanya tahap berikut adalah Mas Adi membenamkan mukanya ke situ. Tapi aku sudah demikian 'matang' lembab. Kutahan kepalanya yang mulai menunduk. Mas Adi mengerti, penisnya yang tegak menegang gagah segera diarahkan ke kelaminku.

Inilah saat-saat indah yang menegangkan, saat penantian dimana miliknya yang berwarna kegelapan mulai memasuki tubuhku, saat memulai rasa nikmat. Adalah merupakan 'kesepakatan' kami berdua bahwa penetrasi harus dia lakukan dengan perlahan dan bertahap, tak boleh terburu-buru, apapun alasannya. Demikian pula saat memompanya, masuk perlahan sampai seluruh batang penisnya tenggelam, lalu menariknya secara perlahan pula.
Sehingga Aku bisa menikmati sensasi gesekan pada relung-relung liang senggamaku. Paling tidak untuk belasan kali 'pompaan'dulu, selanjutnya terserah Anda, eh... Mas Adi, untuk membuat variasi gerakan sampai akhirnya Mas Adi membiarkan aku menikmati detik-detik orgasmeku lebih dulu dengan melayang-layang ke awan kenikmatan. Setelah aku kembali 'mendarat' di bumi, barulah Mas Adi melanjutkan pompaannya sampai dia mencabutnya dan menumpahkan 'air kehidupan' di perutku.

Begitulah umumnya persetubuhan yang kami lakukan berjalan. Kami selalu mampu mencapai puncak kenikmatan dengan cara itu.
Tentu saja proses seperti itu tidak begitu saja kami temukan. Didahului dengan kegagalan- kegagalanku mencapai 'the big O' pada awal-awal persetubuhan kami, kami terus berusaha, berbicara terbuka tentang perlakuan-perlakuan Mas Adi apa saja yang membuatku nikmat, demikian pula sebaliknya. Aku bisa menemukan 3 daerah tubuhku yang sensitif ini juga berkat diskusi yang terbuka (dan juga ’percobaan-percobaan’) yang kami lakukan. Sementara bagi Mas Adi daerah sensitifnya terpusat pada hanya yang satu itu. Entahlah, apa semua lelaki memang begitu? Aku tak tahu. Oleh karena itulah, aku kini rela melakukan oral untuknya, meskipun pada awalnya aku begitu jengah melakukannya.

Bukan faktor keterbukaan itu saja yang membuat hubungan seks kami menjadi begitu nikmat.
Faktor lainnya adalah -dan ini yang terpenting- kami saling mencintai. Kami menjadi saling tergantung. Bagiku Mas Adi adalah segalanya, demikian pula sebaliknya. Jadi, seandainya aku bilang -dengan gaya menggurui- faktor penting yang membuat hubungan seks menjadi 'surga' adalah saling mencintai dan keterbukaan, bukanlah omong kosong, karena aku mengalaminya sendiri. (Bagaimana dengan anda?)

***

Liburan akhir minggu ini, keluarga Anton akan berlibur ke Bandung. Rencana berangkat Jumat pagi-pagi sekali karena Pak Anton ada urusan bisnis dulu pada hari Jumat dan pulangnya Minggu sore. Bu Anton memintaku untuk ikut pergi dan aku sudah menyatakan bersedia, sebab Mas Adi minggu ini tak bisa ke Jakarta. Ada perasaan senang yang bercampur khawatir. Senang karena selama berlibur toh tugasku sama saja kalau di rumah, mengasuh Putri. Aku bisa menikmati menginap di hotel mewah dan makan enak. Keluarga kaya ini selalu memilih hotel besar bila berlibur. Lagi pula aku belum pernah lihat kota Bandung. Khawatir karena Pak Anton memanfaatkan kesempatan ini untuk mencoba menyetubuhiku lagi.
Aku tak mau peristiwa itu terulang lagi. Cukuplah sekali saja penderitaan itu. Amat susah menghilangkan rasa bersalahku kepada Mas Adi yang sampai kini masih kurasakan.

Sekitar setengah enam pagi kami meninggalkan Jakarta menuju Bandung dengan mobil Pak Anton. Bang Hasan yang menyetir mobil mewah dan besar ini. Aku duduk di depan sambil menggendong Putri yang masih tidur. Pak dan Bu Anton di jok belakang bersama Si Ricky. Ketika baru masuk tol Jagorawi, Putri bangun. Bagiku lebih merepotkan, karena dia meloncat-loncat di pangkuanku dan terkadang merayap ke belakang minta ikut ibunya. Sampai masuk Bandung sekitar pukul sepuluh, Putri tak tidur lagi. Kami langsung menuju hotel H yang besar dan ramai di jalan yang kemudian aku tahu namanya jalan Juanda. Tak jauh dari hotel ini ada Mall yang lumayan besar. Keluarga Anton menempati dua kamar yang bersebelahan. Satu untuk suami isteri kaya itu dan satu lagi untuk aku dan dua anaknya. Bang Hasan rupanya tak ikut menginap di hotel, dia minta izin mengunjungi familinya di Bandung dan hari Minggu akan bergabung kembali.

Tak berapa lama masuk kamar, Putri ketiduran lagi. Kugunakan kesempatan ini untuk berberes-beres peralatan Putri. Setelah itu aku berniat mau mandi. Si Ricky tadi hanya menaruh tasnya terus langsung keluar lagi, mau ke lobby katanya. Selesai aku mandi, Si Ricky sudah kembali, Putri masih tidur. Ricky langsung masuk kamar mandi. Aku masih belum terbiasa tinggal di hotel, jadi waktu masuk kamar mandi tadi, aku tak membawa pakaian dalam, seperti kebiasaan di kamarku. Jadi aku keluar kamar mandi hanya mengenakan daster saja tanpa daleman. Aku bermaksud mau mengenakan bra dan CD khawatir nanti tiba-tiba Ricky keluar dari kamar mandi. Aku duduk di ranjang dengan tangan menggenggam pakaian dalam menunggu keluarnya Ricky.

Begitu keluar dari kamar mandi, aku belum sempat bangkit, Ricky langsung duduk di pangkuanku, menyandarkan punggungnya ke dadaku. "Entar dong, mas, mbak mau mandi dulu." kataku.

"Lho, tadi mbak kan udah mandi?"

Aku salah omong, maksudnya mau ke kamar mandi. "Mau ke kamar mandi, ganti baju."

"Bentar aja, mbak, capek nih." tanpa kuduga, Ricky memutar punggungnya dan lalu tangannya mengusap buah dadaku.

"Mas, nggak boleh nakal gitu." aku kaget.

"Pantesan empuk. Mbak gak pakai beha, ya?"

"Ini mau dipakai. Makanya Mas bangun dong." kataku sambil menunjukkan isi genggaman tanganku.

"Pakai di sini aja, mbak."

"Nggak ah!"

Lagi-lagi Ricky membuat gerakan tak terduga, belahan dasterku dikuaknya.
"Lihat ya, mbak..." ia berkata.

Dengan cepat aku mencegah tangannya dan lalu mendororng tubuhnya dari pangkuanku. "Kalo mas nakal gitu, ntar gak boleh pangku lagi, lho." Aku mengancam.

"Ya deh, mbak, sorry."

***

Selesai sarapan, rencananya semua keluar pakai mobil, Pak Anton yang nyetir. Pak Anton ke kantor sedangkan Bu Anton, Ricky, aku dan Putri nanti turun di Mall untuk jalan-jalan. Tapi karena Si Putri masih pulas tidurnya, aku tak jadi ikut, nungguin Putri. Tinggalah aku di kamar sendiri, Putri begitu pulasnya. Aku rebahan di sebelahnya sambil baca majalah, tapi tak bisa konsentrasi. Ingatanku ke Mas Adi melulu. Aku bayangkan bila saja Mas Adi sekarang ada di sini... ooh, bisa dua atau tiga ronde kita 'selesaikan' sementara menunggu mereka pulang. Bisa dilakukan di kasur ini, atau di atas karpet yang cukup tebal, atau di kamar mandi. Ya, di kamar mandi aku duduk di tepian meja dekat wastafel dengan kaki membuka, lalu Mas Adi masuk sambil berdiri. Membayangkan itu semua, aku jadi basah.

Khalayanku berlanjut. Kubayangkan Mas Adi telanjang bulat menindih tubuhku, lalu membuka dasterku dan menciumi buah dadaku. Pada kenyataannya tangan kiriku sendiri yang membuka kancing daster dan mengeluarkan buah dadaku dari bra, lalu jempol dan telunjukku memelintir putingnya. Ciuman Mas Adi bergeser ke bawah menciumi perutku. Pahaku kubentangkan lebar seolah menampung kepala Mas Adi yang sedang menjilati clit-ku yang membasah (kenyataannya : tangan kananku telah menyusup ke cd dan mulai menggosok-gosok). Nafasku makin memburu. Gelisah. Tubuhku berkelejotan dan serasa mulai melayang.

Tiba-tiba kudengar pintu diketuk. Aku kembali mendarat ke bumi dan dengan gugup merapikan bra dan dasterku. Sambil menyeka keringat di wajahku, aku berjalan menuju pintu.

"Oh, Pak..." aku kaget bukan main, ternyata Pak Anton. Tanpa bersuara laki-laki itu langsung masuk dan menutup pintu kembali.
Tiba-tiba aku sadar akan bahaya yang bakal mengancamku. Celaka!

"Bapak nggak ke kantor?" tanyaku untuk mengatasi rasa gugup.

"Sstt..." jawabnya sambil memberi tanda menyilangkan jari di bibirnya dan mendekatiku. Kedua tangannya ke bahu kanan kiriku. Lalu sebelah tangannya membelai pipiku.

"Narti..." panggilnya dengan suara serak. Lidahku kelu. "Kuminta kamu rela..." jarinya merabai bibirku.

"Tidak, Pak. Jangan..." bibirnya menutup bibirku dan lalu melumatnya. Kedua belah tangannya merangkul tubuhku. Aku dipeluknya erat sekali. Kurasakan benda keras itu menghunjam perutku. Uh... keras banget.

Aku melepas ciuman, tapi tak mampu melepaskan rangkulannya. "Kumohon, Pak. Jangan!" kataku menghiba.

Dadaku diremasnya. Aku menepis. Tangannya pindah ke pantatku, diremasnya pula. Lagi-lagi aku menepis. Masih sambil memeluk tubuhku, di dorongnya hingga aku rebah di ranjang Ricky. Disingkapnya rok dasterku dan dipelorotkannya cd-ku. Gerakan yang tiba-tiba dan tak terduga ini gagal kucegah. Lalu Pak Anton membenamkan wajahnya di selangkanganku. Kututup pahaku hingga menjepit kepalanya. Pak Anton bangkit melepaskan jepitan pahaku.

"Narti, tolonglah... sebentar saja."

"Jangan, Pak..." kataku setengah menangis.

"Sekali ini saja, udah itu saya tak akan ganggu lagi, Ti."

Tangan kuat Pak Anton membuka pahaku. Percuma. Sia-sia saja melawan gerakan Pak Anton yang kuat. Kubiarkan dia menjilati kewanitaanku. Aku malu, Pak Anton tahu aku telah basah. Akhirnya aku pasrah.
Semoga dia benar-benar menepati janjinya, hanya sekali ini saja. Toh seperti dulu, dia hanya sebentar saja.

Oh... lidahnya sungguh amat berpengalaman, membuatku secara perlahan mulai ’naik’. Aku muak dengan kelakuan majikanku ini, tapi aku tak berdaya melawannya. Aku benci! Aku membenci diriku sendiri yang tak berdaya melawan, malah terrangsang.
Dalam keadaan frustasi begini apa yang bisa kulakukan selain menangis. Apalagi kini Pak Anton telah telanjang bulat dengan penis keras mendongak. Penis yang membuat Bu Anton merintih- rintih keenakan. Penis yang pernah sebentar memasuki tubuhku dan kini akan memasukinya lagi.

Tangisanku yang sesenggukan menghentikan gerak Pak Anton yang telah membentangkan pahaku dan siap menusuk. Pak Anton merangkak mendekati mukaku. "Ti, kumohon kamu rela. Sekali ini saja..." bisiknya.
Aku masih sesenggukan.

"Sekali ini saja... melayaniku, Ti." dia kembali berkata.

"Kenapa nggak sama Ibu saja, pak?"

Lalu mulailah Pak Anton ngoceh nerocos tentang perlunya variasi bagi pria yang sudah belasan tahun menikah.
Tentang dia tak berani meniduri perempuan sembarangan bila butuh variasi. Dia bisa saja 'membeli' perempuan yang paling mahal sekalipun, tapi dia tak mau melakukan. Seks dengan membeli itu sama sekali tak nikmat dan penuh resiko kena penyakit. Cerita berlanjut bagaimana dia telah mengamatiku dari sejak aku mulai bekerja. Mengamati pergaulanku. Sehingga sampai pada kesimpulan bahwa aku ’bersih’. Dan dia makin yakin setelah menikmati 'aroma' kewanitaanku.

"Si Adi sungguh beruntung." katanya lagi. "Punyamu sungguh berbeda." sambungnya. "Enak banget, legit." katanya lagi makin ngaco merayuku. "Itulah kenapa saya tak kuat lama..." akunya. "Okay, sekarang jangan nangis lagi ya, saya minta kamu ikhlas memberikan..."

Pak Anton me
nggeser tubuhnya ke atas lagi sampai penisnya mendekati mukaku. Kulihat penis itu tak setegang tadi. Agak menurun. Lalu penis itu disentuhkan ke mulutku. Tiba-tiba terlintas dalam benakku. Lebih baik aku oral saja dia sampai keluar lalu kumuntahkan maninya, daripada dia menyetubuhiku. Mendapatkan ide itu, aku tak menolak ketika penis itu mulai menerobos mulutku. Pak Anton mendesah. Aku tinggal membayangkan sedang mengulum penis Mas Adi. Benda itu dengan segera membengkak dan mengeras. Aku makin intensif menguluminya. Tapi Pak Anton mencabutnya. Aku kira dia akan muntah, tapi tidak.

Pak Anton bangkit. Dibukanya pahaku lebar-lebar, lalu mengambil posisi siap tusuk. Dia menekan dan 'kepala'nya masuk. Dipompanya sambil membentang pahaku lebih lebar lagi. Perlahan penisnya marasuk lebih dalam. Pompa lagi dan secara perlahan tapi pasti terus masuk. Sampai akhirnya seluruh batang telah tenggelam. Tubuhnya rebah menindihku, kedua belah tangannya menyusup ke punggungku dan memeluk kuat tubuhku. Perlahan pinggulnya mulai memompa. Naik-turun dan kanan-kiri. Kadang diputar.

"Ooh, kamu benar-benar sedap..." bisiknya dekat telingaku. Oh, dia benar-benar telah menyetubuhiku. Pak Anton meniduri pengasuh anaknya dengan ’disaksikan’ oleh anaknya sendiri. Pak Anton asyik berhubungan seks dengan wanita bukan isterinya sementara anaknya tidur di ranjang yang hanya semeter jaraknya!

Kuharapkan setelah beberapa kali pompaan Pak Anton segera mencabut dan menumpahkannya di perutku seperti waktu lalu. Harapanku meleset. Sudah belasan pompaan tak ada tanda-tanda 'sampai'. Justru timbul kekhawatiranku, aku mulai menikmati pompaannya! Sungguh lihai dia membuat variasi gerak pompaan. Tusukan 'setengah' dikombinasi dengan tusukan full. Tusukan 'arah' atas bervariasi dengan arah bawah. Hunjaman dari kiri bergantian dengan dari kanan. Pak Anton yang sekarang sedang memompaku berbeda dengan Pak Anton beberapa hari lalu. Entah kenapa dia jadi kuat sekarang. Hampir menyamai Mas Adi. Terus terang, tubuhku mulai terangkat dan melayang.

Suatu saat di tengah pompaan Pak Anton tiba-tiba mencabut. (dan... ah, sialan! Aku jadi merasa 'kehilangan'). Tiba saatnya juga akhirnya. Detik berikutnya akan kurasakan tumpahan hangat di perutku. Oh... tapi tidak! Penis itu masih men
gacung gagah.

"Gantian, Ti, aku di bawah." pintanya.

Aku mau saja bangkit dan memberi kesempatan Pak Anton rebah terlentang. Lalu tanpa diminta, aku melangkah mengangkangi tubuhnya. Dengan Mas Adi, aku memang biasa berganti posisi aku diatas. Jadi aku tahu maksud Pak Anton. Aku jadi tak malu-malu lagi menuntun penis Pak Anton agar tepat arahnya sebelum aku menduduki tubuhnya. Aku juga tak malu menggoyang pinggulku di atas tubuh Pak Anton. Bahkan ikut 'membantu' kedua belah telapak Pak Anton meremasi buah dadaku. Lalu dia mengangkat punggungnya dan memeluk tubuhku.

"Ohh... sedapnya kamu, Ti." pelukannya makin erat sehingga tak memungkinkan kami bergoyang lagi. Tubuhnya diam memeluk. Celaka, jangan-jangan dia keluar. Dalam posisi begini jadi susah mencabutnya. Ternyata tidak.

"Ganti posisi lagi ya, sayang..." Uh, dia memanggilku dengan 'sayang'. Kulepaskan penisnya lalu aku turun dari pangkuannya dan ambil posisi terlentang. Kulihat penisnya masih perkasa begitu. Sungguh mengherankan, berbeda jauh dibanding beberapa hari lalu.

"Telungkup, Ti." perintahnya. Ohoi, aku nurut saja. Begitu juga ketika dia mengatur posisiku seperti merangkak. Gaya apa pula ini? Mas Adi belum pernah begini. Punggungku dimintanya lebih merendah lagi. Pinggul bertumpu pada lutut. Dan... ahh... penis Pak Anton memasuki tubuhku dari arah belakang (belakangan aku tahu ini adalah gaya 'doggie'). Persetubuhan gaya anjing. Enak juga.

Gila nih lelaki, masih belum nyampe juga. Padahal beberapa hari lalu dia 'peltu', menempel langsung 'metu' (keluar). Setelah banyak tusukan gaya doggie, Pak Anton minta mengubah lagi dengan gaya 'biasa', aku di bawah. Rasanya gaya ini yang paling mendatangkan kenikmatan. Kembali Pak Anton mempraktekkan berbagai variasi tusukan.
Dan... Oh... Aku juga tak kalah seru merintih dan melenguh. Merambat naik pelan dan pasti. Serasa tubuh mulai terangkat dan melayang-layang. Makin tinggi dan tinggi... dan... tubuhku bergetar. Tepatnya 'kedutan' tubuh yang teratur dan di luar kontrolku. Kesadaranku sejenak hilang. Hawa nikmat yang terpusat di selangkanganku kini menyebar ke seluruh tubuh, sampai ke ujung-ujung jari sekalipun. Sampai- sampai tubuh Pak Anton ikut berkedut, karena selama proses ’The big-O’-ku ini dia menghentikan tusukannya dan mendekap tubuhku kuat-kuat.

Ketika beberapa saat kemudian kedutan tubuhku makin melemah, Pak Anton melepas dekapannya dan bangkit lalu mulai menusuki lagi. Ampuun... rasanya... ngilu! Untunglah penderitaanku ini tak lama. Suatu saat dia mempercepat pompaannya, lalu penisnya dicabut dan tumpah di perutku. Maninya membasahi perutku yang telah basah oleh keringat. Keringat kami berdua.

"Uuhh... uuhhh..." lenguhnya di sela-sela tarikan nafasnya yang memburu. Lalu tubuh itu rebah di atas tubuhku. Kurasakan berat tubuhnya bertambah. Mungkin karena dia lemas sehingga membebankan seluruh berat tubuhnya pada tubuhku.

"Ooh, Ti... kamu sedap banget..." bisiknya di dekat telingaku sambil masih terengah.
Aku diam. Pipiku diciumnya, lalu, "Punyamu itu... nikmat banget." Aku masih diam. "Sempit dan legit."

Tiba-tiba aku tersadar. Aku yang sedang dalam proses mendarat kembali ke bumi serasa dibangunkan dari mimpi. Ucapan Pak Anton yang terakhir itulah yang menyadarkanku. Sadar betapa bodohnya aku. Bagi Pak Anton, aku adalah bukan siapa-siapa. Aku hanyalah seonggok daging yang dipilihnya karena 'sempit dan legit'. Memang baru saja dia memberiku kepuasan sama seperti yang dilakukan Mas Adi, tapi itu hanyalah 'efek samping' dalam rangka usaha dia mencapai kenikmatan. Aku hanyalah sebongkah tubuh alat pemuas nafsu. Celakanya Aku membiarkan saja semuanya terjadi. Membiarkan tubuhku ini sebagai alat dia mencari kenikmatan. Posisiku sebagai pekerja tak mampu menolak umbaran nafsunya. Posisiku memang lemah.

Dalam diriku tiba-tiba muncul rasa benci. Benci kepada diriku sendiri kenapa jatuh pada posisi yang lemah begini. Juga benci kepada tubuh yang menindihku, majikanku ini, yang telah memanfaatkan posisi di atas anginnya untuk mendapatkan kenikmatan. Aku marah. Darahku mendidih. Aku berontak. Dengan mudah aku lepas dari dekapan Pak Anton dan tubuh itu terguling dari badanku, bahkan dia hampir terjerembab ke karpet.

"Ti..." teriaknya.

Aku tak peduli. Aku bangkit dan masuk ke kamar mandi. Seharusnya aku tadi mendorong tubuhnya biar sampai jatuh. Seharusnya aku tadi memakinya ketika dia teriak. Tapi aku tak berbuat apa-apa. Rasa benci dan marah hanya bisa membuatku menangis.

Pak Anton masuk. "Kenapa nangis, Ti?"

Kenapa kepalamu!

Bahuku disentuh. Langsung tangannya kutepiskan. "Bapak lebih baik keluar sekarang!" teriakku.

"Ya-ya... tapi kenapa?"

"Atau saya telepon Ibu?"

"Okay... okay..." dengan cepat dia keluar. Kukunci pintu kamar mandi. Kulanjutkan tangisku. Aku benar-benar membencinya.

Sejurus kemudian pintu kamar mandi diketuk. Pak Anton memanggil-manggil namaku. "Bapak belum juga keluar!" teriakku.

"Putri bangun, Ti."

"Pokoknya keluar dulu!"

Kubersihkan tubuhku dari ceceran mani Si Maniak itu. Setelah aku yakin Pak Anton telah keluar kamar, aku baru keluar kamar mandi. Kudapati Putri nangis di pinggir ranjang, hampir jatuh, kubiarkan saja. Aku jadi malas mengurusnya. Tapi lama-lama aku kasian juga, anak ini tak bersalah. Yang jahat adalah bapaknya, kenapa dia yang jadi korban? Kuambil Putri dan kupangku, langsung saja dia menyergap buah dadaku. Oh... Aku baru sadar belum berpakaian. Ah biar saja, Putri begitu asyik mengemoti putingku. Biar saja kalau tiba-tiba Bu Anton masuk melihat aku 'menyusui' anaknya. Sekalian saja aku akan bilang tingkah suaminya yang telah meniduriku. Biar mereka bertengkar. Biar. Begitu bencinya aku pada Pak Anton, diam-diam tumbuh rasa dendam di hatiku. Ingin membalas kelakuannya. Tapi bagaimana cara membalasnya? Sekarang memang belum terpikirkan. Pokoknya nanti begitu ada kesempatan, aku akan melakukannya.

***

Aku tak tahu apa yang harus kukerjakan siang ini. Bu Anton dan Ricky belum pulang dari Mall, Si Putri sudah tertidur. Ah, lebih baik aku tidur saja, lelah juga tubuhku dikerjain oleh Si Munafik itu.
Dia benar-benar munafik. Sering sekali dia menunjukkan keluarga yang harmonis, sangat sayang kepada isterinya. Tapi dibelakang isterinya diam-diam dia meniduri pengasuh anaknya, sambil menceritakan kekurangan isterinya.

Kurapikan tempat tidur kembali. Kutata sprei yang berantakan dan kubetulkan letak bantal. Tiba-tiba mataku menangkap ada sampul tertutup di bawah bantal. Sampul surat berlogo perusahaan Pak Anton dan tak ada tulisan tangan di atasnya. Milik siapa ini? Karena rasa penasaranku, kubuka sampul itu. Ternyata isinya setumpuk uang dan selembar kertas bertulisan tangan: "Narti, Bapak puas banget. Terima kasih ya. Besok Bapak hubungi lagi..."

Mandadak darahku mendidih. Kurobek kertas itu dan kulempar amplopnya. Isinya berantakan di lantai. Kurang ajar! Dianggapnya aku ini apa, perempuan bayaran? Benar-benar suatu penghinaan dan pelecehan! Tak pernah sedikitpun terlintas di kepalaku untuk menerima banyak uang tanpa bekerja. Untuk apa aku bersusah payah kerja sebagai perawat di rumah sakit? Untuk apa aku kerja sebagai baby sitter?

Niatku makin bulat untuk membalas dendam.
Hati boleh panas tapi kepala harus tetap dingin, begitulah ajaran ibuku. Mana bisa menyusun rencana pembalasan dengan kepala panas? Aku coba untuk mendinginkan diri. Kukumpulkan kembali uang yang berserakan itu, aku masukkan ke dalam sampulnya bersama secarik kertas tulisannya. Rencana uang itu akan kusimpan saja, tak akan kugunakan. Jumlahnya hampir sama dengan dua bulan gajiku.

***

Ketika keluarga Anton makan malam bersama di restoran hotel, aku ikut untuk menyuapi Putri. Sesekali ekor mataku menangkap mata Pak Anton mencuri-curi pandang ke arahku. Suatu saat dengan memasang muka marah, kutatap mata Pak Anton, aha... dia cepat menunduk dan jadi salah tingkah.

Selesai makan, kami jalan-jalan menyusuri jalan depan hotel menikmati udara malam Bandung yang sejuk, lalu masuk ke (lagi-lagi) Mall. Beginilah model orang kaya berlibur. Kalau tidak ke luar negeri, ke Bali, atau jalan-jalan ke Mall membeli apa saja. Suatu saat di sebuah butik di lantai 1, Bu Anton sedang sibuk memilih-milih pakaian, Pak Anton mendekatiku.

"Awas, saya akan teriak." bisikku ketika tangannya mulai menjamah pipi Putri yang kugendong. Aku mengantisipasi gerakan tangan dia selanjutnya. Pak Anton langsung menjauh. Ciut juga nyalinya. Mungkin saja dia memang hanya ingin menyentuh anaknya, bukan menjamahku, aku tak peduli.

Pulang dari jalan-jalan, aku yang sudah demikian lelahnya ingin cepat-cepat merebahkan tubuh. Untunglah Putri sudah lelap. Ricky menonton TV.
"Kecilin suaranya ya, mas. Mbak mau tidur." pintaku. Ricky mematuhi. Lalu aku terlelap. Aku memimpikan Mas Adi tiba-tiba menyusul ke Bandung dan marah-marah kenapa aku mau saja ditiduri Pak Anton. Sambil menangis aku menjelaskan situasinya yang menyudutkanku. Aku juga menyalahkannya. Lalu tiba-tiba Mas Adi telah menindih tubuhku. Dibukanya kancing dasterku dan kemudian bra-ku. Diusapnya bulatan buah dadaku, usapan seperti biasa, mengambang antara sentuhan dan tidak. Lalu puting dadaku dikemotnya.

Aku terbangun dan kaget bukan main, begitu membuka mata, kurasakan sesosok tubuh menindihku. Ah, ini mimpi. Ketika kesadaranku berangsur pulih, hei! ini bukan mimpi. Samar-samar kulihat tubuh itu benar-benar ada. Kepalanya menyusup di dadaku. Mulut itu benar-benar mengulumi. Kemotannya terasa di putingku. Aku berusaha bangkit, ah tubuhku lemah, kesadaranku belum pulih benar. Tubuhku hanya sedikit terangkat. Kuluman itu terlepas. Ketika aku benar-benar telah sadar sepenuhnya, kuangkat kepala yang menindih dadaku. Ricky!

"Kurang ajar!" tanganku melayang menampar pipinya, kanan dan kiri, cukup keras. Aku marah benar. Kucengkeram kedua belah bahunya dan kuguncang- guncang sementara mulutku memuntahkan bermacam makian. Ricky pasif saja, tak melawan. Mukanya menunduk. Aku sadar, tak ada gunanya menyiksa anak ini.
Cengkeraman kulepaskan. Meskipun aku jengkel bukan main, tapi aku masih mampu menahan diri. Baru kusadari anak majikanku ini telanjang bulat. Pakaiannya berserakan di karpet.

Aku membetulkan letak bra-ku yang tersingkap ke atas dan memasang kancing dasterku kembali. Kulihat Ricky sesenggukan, tubuhnya berguncang. Ricky menangis. Kubiarkan dia. Menangis karena kupukuli tadi atau karena apa, aku tak peduli. Entah sudah berapa lama tangisnya tak berhenti juga. Lama-lama timbul rasa iba. Anak ini sebenarnya anak baik, penurut, tidak nakal, punya tenggang rasa kepada pembantu sekalipun. Aku sungguh tak menyangka dan shock mendapati dia menjamahi tubuhku. Selama ini aku menganggap dia masih anak-anak. Tingkahnya memang manja kekanakan. Tapi kelakuannya tadi adalah kelakuan lelaki dewasa. Anak sekarang memang cepat matang dalam hal seksual, padahal Ricky baru kelas 2 SMP.

"Kenapa kamu, Rick?" aku bertanya.

Mendadak Ricky bangkit dan kepalanya rebah di pahaku, tangisnya makin keras. "Maafkan saya, mbak..." katanya terbata-bata. "Saya emang jahat kepada mbak." lanjutnya. "Saya nggak bisa menahan... saya tak tahan, mbak."

Tak tahan? Apanya? Tapi aku malas bicara malam ini, masih ngantuk. Begitu nyenyaknya tadi aku tidur sampai tak merasakan Ricky telah membuka kancing dasterku dan menyingkap bra-ku bahkan menciumi buah dadaku.

"Udah, tidur sana. Udah setengah satu." ujarku.

"Tapi mbak mau memaafkan saya, kan?"

"Ya. Asal jangan kamu ulangi lagi."

"Ya, mbak."

"Kalau kamu nakal lagi, mbak akan seret kamu keluar kamar, mbak kasih tahu papa mama."

"Saya janji, mbak."

"Pakai baju kamu terus tidur."

Ricky menurut. Kuperhatikan dia mengenakan pakaiannya. Tubuhnya memang telah menjadi tubuh lelaki dewasa. Bahkan kelaminnyapun tak beda dengan kelamin lelaki dewasa. Anak ini memang sedang tumbuh. Aku harus lebih berhati-hati. Setelah Ricky merebahkan tubuhnya hendak tidur, aku berniat keluar kamar sekedar menghirup udara segar. Kulihat dibawah pintu ada secarik kertas tergeletak. Kurang ajar! Tulisan Pak Anton. Kulirik Ricky sudah terlelap, aku mendekat ke lampu baca di dekat bed.

"Besok pagi jam 10 Bapak tunggu di kamar 509 lantai 5..."

Lelaki ini benar-benar ular! Berlibur ke luar kota membawa keluarganya, menginap di hotel mengambil 2 kamar di lantai 4, sementara diam-diam dia mengambil kamar lagi di lantai berbeda dan dengan penuh percaya diri mengajak pengasuh anaknya untuk disetubuhi! Benar-benar keterlaluan. Tunggu saja besok! Hampir saja aku merobek-robek kertas itu. Rencanakulah yang mencegah aku merobeknya. Kulipat kertas itu baik-baik lalu kusimpan dalam sampul uang tadi.

***

Esok harinya, Sabtu, Ricky jadi murung dan pendiam, tak seperti biasanya yang lincah dan aktif. Dia menghindar setiap kutatap matanya. Tak lagi bermanja- manja ke pangkuanku. Bahkan kalau tak dipaksa ibunya untuk sarapan, dia tak mau makan. Tak heran pula ketika diajak bapak-ibunya jalan-jalan, dia pilih tinggal saja di hotel.

"Kamu sakit, Nak?" tanya ibunya.

"Nggak, Ma."

"Trus kenapa nggak mau jalan?"

"Males aja. Capek.
Lagian Ricky pengin main play-station."

Setelah ayahnya pergi, Ricky memang terus memasang perangkat play-station ke TV kamar dan lalu tenggelam dengan mainan yang populer di kalangan anak-anak dan remaja itu.
Aku tahu, Pak Anton tidak benar-benar pergi keluar hotel. Paling-paling hanya naik satu lantai.

Aku sebenarnya ingin meng'interogasi' anak ini dan ingin tahu kenapa dia tadi malam sampai senekat itu. Kubiarkan dia main sampai satu jam dan akhirnya dia matikan TV dan beranjak keluar kamar.

"Ricky," panggilku. Dia menoleh sekejap terus menunduk. Tapi dia mengurungkan niatnya keluar kamar dan berjalan mendekatiku. "Duduk, mbak mau bicara." kataku.

Ricky duduk di tempat tidur Putri dan Aku duduk di tempat tidur lainnya. Dia diam menunggu. "Kenapa kamu tadi malem?" Ricky diam, kepalanya makin menunduk.

"Bicaralah, mbak nggak marah lagi kok." sambungku.

"Bener, mbak nggak marah lagi?"

"Asal kamu mau terus terang,"

Lama dia diam terus belum mau membuka mulut. Aku harus bersabar menunggu.

"Saya... saya memang udah lama pengen..." katanya terbata-bata.

"Pengen? Pengen apa?"

"Ya... begituan..."

Sementara aku masih terkejut betapa cepatnya anak ini jadi 'matang', Ricky nyerocos melanjutkan. "Temen-temen Ricky sering cerita begituan sama pacarnya, kaya'nya enak banget. Ada juga yang sama cewek bayaran. Ricky pengin juga, tapi nggak punya pacar."

Oh, anak ini masuk dalam lingkungan pergaulan yang salah. Berani bertaruh, ibunya pasti pingsan mendengar anaknya sudah sejauh ini. "Papa mama udah tahu Ricky pengin begituan?" tanyaku.

"Jelas nggak dong, mbak."

"Kenapa kamu ngga cerita ke papa atau mama?"

"Nggak berani, Ricky takut."

"Kenapa kamu berani sama mbak?"

"Maaf, mbak..." wajahnya sudah mau menangis.

"Maksud mbak... kenapa kamu pengin ke mbak?"

"Mbak kan baik banget sama Ricky... minta pangku... nyender ke mbak..."

"Tapi..." belum selesai aku bicara, Ricky memotong.

"Sebenarnya Ricky naksir cewek temen sekelas. Anaknya manis. Ricky suka kalo lihat dia senyum, manis banget. Badannya tinggi hampir sama ama Ricky... trus... teteknya gede."

"Trus, kamu pacari dia?"

"Iya, tapi... belum. Gini, Ricky udah deketin dia. Kayanya dia nerima, tapi kadang-kadang dia juga acuh. Paling makan ke kantin berdua.
Kalo deketan ama dia, Ricky suka nggak tahan.”

"Nggak tahan apa?"

"Ngliat dadanya.... pengin Ricky remes atau ciumin, kaya temen-temen ama pacarnya."

"Trus?"
"Tapi... tapi..."

"Tapi apa?"

"Dadanya lebih bagus... punya mbak..."

"Bagus apanya?"

"Mbak nggak marah kan?"

"Nggak."

"Punya mbak bulat, dan... lebih gede."

Tentu saja, bandingannya sama anak SMP yang baru tumbuh.

"Pernah suatu ketika Ricky udah nggak tahan... trus Ricky pegang dadanya... wah, dia marah banget, ampe sekarang dia nggak mau ngomong lagi ama Ricky." lanjutnya.

"Trus kenapa berani ganggu mbak?"

Ricky diam.

"Kenapa, Ricky?"

"Habisnya... habisnya Ricky pengin banget. Lagian mbak tidurnya pules banget sih. Coba kalo mbak waktu itu bangun, nggak sampai begitu."

Pengakuan polos anak-anak. Aku bisa menerima penjelasannya, bisa memaklumi perbuatannya. Kelakuan seorang anak yang baru mulai tumbuh, yang selalu ingin tahu segalanya, termasuk soal seks. Yang tidak bisa kuterima adalah kenapa bapak dan anaknya sama-sama nakal terhadapku. Seolah menganggapku hanyalah obyek belaka. Cuma obyek seksual. Aku memang memendam dendam kepada bapaknya. Tiba-tiba terlintas pikiran jahat di kepalaku. Ah... tapi tidaklah.

Pintu kamar di ketuk, Bu Anton masuk.
"Ti, Ibu mau keluar dulu ya."

Kulihat arlojiku, pukul 9.25. "Saya ikut ya, Bu." kataku.

"Kan Putri lagi tidur."

"Ntar saya gendong aja."

Tatapan mata Bu Anton rada aneh. "Ayolah," tapi tetap menyetujui.

Di perjalanan, Bu Anton menanyaiku. "Kenapa kamu pengin banget ikut?"

"Mengganggu Ibu, gitu?"

"Nggak, cuman nggak biasanya kamu begitu."

"Gak ada pa-pa kok, Bu. Bosan di kamar terus." alasanku yang sebenarnya sih menghindari ajakan Pak Anton untuk 'ngamar'. Rasain dia menunggu terus.

***

Tingkah Pak Anton sewaktu makan malam di restoran tadi benar-benar membuatku ingin melaksanakan pikiran jahatku. Kami makan malam hanya berempat, Ricky tak mau turun, hanya minta dibelikan makanan. Padahal Bu Anton hanya ke toilet sekitar 5 menit, masih sempatnya dia merabaku sambil berbisik, "Kenapa tadi nggak dateng? Saya pengen lagi."

Dengan kasar kutepis tangannya, lalu kubawa Putri menghindar. Aku benar-benar marah. Marah karena dia tahu persis aku tak bakalan lapor kepada isterinya. Dia tahu persis posisiku yang lemah dan lalu memanfaatkannya.

"Gimana, Ti?"

"Pokoknya, begitu Bapak mulai macem-macem lagi, saya langsung bilang ke Ibu!" ancamku. Mendadak dia jadi diam seribu bahasa, lalu kembali ke tempat duduknya dan minum. Wajahnya sungguh sulit dibaca. Tegang mungkin.

"Cuman segitu..." pikirku. Lelaki gagah itu langsung surut begitu mendengar ancamanku. Begitu takutnya dia kalau isterinya tahu. Padahal aku cuma mengancam, belum tentu berani melaksanakan ancamanku. Karena aku belum berniat berhenti kerja, aku masih punya 'hidden agenda', yaitu rencana untuk membalas dendam!

Malam ini keluarga Anton tak punya acara, setelah makan malam suami isteri itu langsung menuju kamar dan mengurung diri. Mungkin karena besok harus bangun pagi untuk kembali ke Jakarta. Atau mungkin Pak Anton sudah tak tahan ingin segera melampiaskan hasrat seksualnya yang tadi tertahan.
Melampiaskan ke 'jalan yang benar', yaitu kepada isterinya.

Aku pun segera ke kamarku menidurkan putri. Si Ricky masih takut-takut kepadaku. Dia masih asyik bermain game. Tak seperti biasanya ikut bermanja-manja ketika aku menidurkan adiknya.

"Udah malam, kamu besok harus bangun pagi-pagi. Tidurlah." kataku.

"Ya, mbak." Ricky langsung mematikan mainannya dan merebahkan diri ke kasur. Anak ini memang jadi pendiam. Aku memejamkan mata mencoba tidur.

"Mbak..." suara Ricky mengejutkanku ketika aku hampir terlelap.

"Ada apa?"

"Mbak udah tidur?"

"Hampir."

"Ricky mau nanya-nanya, boleh nggak?" tampaknya Ricky sudah pulih, tak takut-takut lagi bicara kepadaku.

"Nanya apa?"

"Kalau begituan, bisa hamil ya, mbak?"

"Kamu udah begituan?" agak kaget juga aku. Pertanyaan yang tak kuduga.

"Nggak lah, mbak. Temen Ricky yang bilang."

"Apa katanya?"

"Dia nggak berani 'gituin' pacarnya. Takut pacarnya hamil."

"Kamu memangnya belum tahu?"

"Belum."

"Nggak diajarin di sekolah?"

"Nggak dong, masa pelajaran gituan."

"Di Biologi kan ada pelajaran tentang terjadinya bayi,"

"Nggak ada tuh, mbak. Gimana dong, mbak, Ricky pengin tahu."

Aku lalu cerita tentang terjadinya pembuahan sel mani dan sel telur melalui proses hubungan kelamin, tentang janin sampai menjadi bayi.

"Hmm... pantesan." komentarnya.

"Apanya?"

"Si Rudy sering gituan tapi pacarnya tapi nggak hamil. Kata dia cabut duluan sebelum keluar."

"Temen sekolah kamu udah ada yang pintar begitu."

"Dia udah SMU kok, mbak. Kalau begituan kayanya enak banget ya, mbak?"

"Iya. kalau nggak enak, nanti gak ada manusia yang mau punya anak. Trus akibatnya manusia bisa punah." Tiba-tiba terlintas pikiran burukku. Inilah saatnya! Telah tiba waktuku untuk bertindak! Ah, tapi aku tak tega. Lain kali saja dipertimbangkan lagi.

"Udah, tidur aja." kataku selanjutnya.

Aku mencoba tidur lagi. Si Ricky tampaknya belum tidur juga. Badannya bolak balik. "Ricky nggak bisa tidur." keluhnya setelah setengah jam tak bersuara.

Aku diam saja.

"Mbak, Ricky gak bisa tidur." ulangnya.

"Ya udah, jangan ganggu mbak dong."

Lalu hening. Tapi sejurus kemudian. "Mbak..."

"Apa lagi sih, Rick?" aku mulai jengkel.

"Ricky mau pindah kesitu, boleh?"

Di bed besar ukuran King ini, aku biasa di sisi kiri, Putri di tengah, lalu Ricky di sebelah kanan.

"Ya udah sini." aku mempersilakan. Pikirku, supaya dia cepat tertidur dan tak menggangguku lagi.

Ricky dengan perlahan menggeser adiknya sedikit ke kanan, lalu dia tidur di tengah. "Hati-hati, ntar adikmu jatuh lho." aku memperingatkan.

"Iya, mbak." dia mengganjal tubuh Putri dengan guling. "Peluk Ricky dong, mbak, supaya cepet tidur."

Aku diam. Malas. Bahkan memiringkan tubuhku membelakanginya.

"Ya udah, Ricky aja yang peluk mbak." Kubiarkan saja Ricky memeluk tubuhku dari belakang. Lalu ketika aku mulai terlelap, kurasakan sesuatu menekan pinggangku. Anak ini memang sedang mendekati puber, menjadi gampang terangsang. Hari-hari sebelumnya dia sering memeluk tubuhku seperti ini, tapi tak kurasakan apa-apa. Mungkin sejak dia berani menjamahku kemarin, ’penghayatan’ atas sikap memeluk tubuhku menjadi berbeda. Sekarang ini bukannya seorang anak memeluk tubuh pengasuhnya, tapi sesosok tubuh lelaki menjelang puber yang sedang memeluk tubuh seorang wanita dewasa.

Kenyataan ini telah membuatku mengambil keputusan: sekaranglah saatnya. Telah tiba waktunya untuk membalas dendam kelakuan Pak Anton terhadapku. Telah datang saatnya untuk membuat seorang anak 12 tahun menjadi ’dewasa’ secara mendadak. Ya, inilah waktu yang tepat!

Aku lalu melepaskan diri dari pelukan Ricky dan turun dari tempat tidur.
"Mau kemana, mbak?" dia bertanya, tampak tidak rela.

"Pipis." jawabku pendek.

Di dalam kamar mandi yang terkunci, aku melepaskan dasterku. Bra dan celana dalam kulepas juga. Aku telanjang bulat berdiri di depan cermin mengamati tubuhku sendiri. Sepasang buah dada yang bentuknya tak berubah sejak mereka tumbuh, masih bulat kencang ke depan. Perut bak landasan rata dengan dihiasi pusar yang begitu melesak ke dalam. Lalu dibawahnya, tumbuh bulu-bulu halus menutupi permukaan lubang kelamin yang katanya 'legit', begitu pria beristeri di kamar sebelah pernah mengatakannya. Inilah bedanya antara lelaki nakal yang sudah berpengalaman itu dengan lelaki seperti Mas Adi. Mas Adi hanya berkomentar 'susah masuknya' atau 'enak banget', bukannya legit. Emangnya kue lapis!

Kukenakan dasterku kembali lalu aku keluar dengan meninggalkan bra dan celana dalamku di gantungan kamar mandi. Inilah saatnya! Kurebahkan tubuhku di kasur, kali ini ku terlentang dan memejamkan mata, pura-pura hendak tidur. Ricky yang tadinya terlentang memiringkan tubuhnya ke arahku, lalu kurasakan sebelah tangannya memeluk perutku dan sebelah kakinya menyilang di atas pahaku. Aku dipeluknya seperti kebiasaannya memeluk guling. Segera saja kurasakan kelamin tegang itu mendesak sisi pinggulku.

Persis seperti dugaanku, telapak tangannya mulai merabai dadaku setelah setengah jam dia diam saja. Dia berani memulai setelah aku disangkanya telah tertidur. Kubiarkan tangannya membukai kancing atas dasterku satu persatu, lalu tangannya menyusup ke balik dasterku. Mungkin dia kaget melihat aku tak memakai bra. Diciuminya bukit dadaku lalu mulutnya pun sampai ke putingnya, dikemotnya pelan benda mungil lemerahan itu.

Saatnya beraksi. Tanganku lalu membelai-belai rambut dan punggungnya. Ricky tersentak mengetahui ternyata aku tak tidur. Kulumannya terlepas dan kepalanya terangkat memandangiku. Aku tersenyum.

"Mbak..."

"Kamu mau ngapain lagi, Rick?"

"Ricky pengen, mbak. Pengen banget.
Boleh ya, mbak?"

"Pengin apa?"

"Pengen main sama mbak."

"Main apa?"

"Ah, mbak ini. Boleh ya, mbak?"

"Ntar kalo mbak hamil gimana?"

"Kaya Si Rudy aja, dicabut."

"Bener kamu pengen?"

"Bener, mbak, pengen banget!"

"Kenapa nggak sama temen sekolah kamu, yang sebaya?"

"Temen sekolah nyebelin. Pengennya sama mbak aja."

"Kenapa pengen sama mbak?"

"Habisnya mbak baik..."

"Nggak nyesel kamu?"

"Nyesel kenapa?"

"Ya udah, lepas dulu baju kamu."

Kontan Ricky bangkit dan secepat kilat melepas pakaiannya hingga telanjang bulat. Penisnya sudah begitu tegang mengacung, tak beda dengan penis orang dewasa. Lalu tanpa diminta dia melepas kancing dasterku terus ke bawah. Ketika sampai di kancing bagian bawah perut, dia tertegun melihat aku tak memakai celana dalam lagi.

Ketika dasterku telah lepas seluruhnya, Ricky langsung menindih tubuhku. Penisnya menekan-nekan selangkanganku, tapi salah sasaran.

"Bukan begitu caranya, sini..." tanganku meraih batang penisnya, kusuruh dia menempatkan kedua lututnya di antara pahaku yang kubuka lebar. Kutuntun penisnya menuju arah yang benar, liang senggamaku. Tusukan dia tadi mengarah di atas clit-ku. Lalu kuberi isyarat agar dia mulai menekan. Aku belum basah benar sehingga dengan susah payah akhirnya Ricky berhasil membenamkan seluruh batang penisnya ke dalam tubuhku. Lalu dari berlutut dia mengubah posisi tubuhnya menjadi menindih tubuhku. Kupeluk erat tubuhnya, tapi sesaat kemudian mendadak dia mengangkat tubuhnya kembali dan lalu dengan cepat mencabut penisnya. Dan... air maninya berhamburan di perut dan buah dadaku.

"Hmm, kok udahan?" komentarku mulai menyerang.

"Habis... nggak tahan lagi, mbak." katanya terengah-engah.

"Bentar banget." kataku menusuk. Ricky diam. "Cuman bikin kotor badan mbak doang. Apa enaknya kalo begini?!." aku terus menyerangnya. Menghancurkan harga dirinya.

"Berhubungan seks tak boleh egois, asal dirinya udah puas lalu selesai. Lihat juga gimana pasangan kita, apa dia juga puas?" lanjutku. Ricky masih diam. Sebenarnya aku juga tahu kenapa dia begitu cepat ejakulasi. Ini merupakan pengalaman pertama bagi Ricky dalam bersetubuh. Letak lubangnya pun dia belum tahu persis. Cepat selesai bagi lelaki yang pertama kali melakukan adalah hal wajar. Mas Adi juga begitu. Sudah bagus Ricky mampu sampai penetrasi.

Seranganku ini merupakan langkah pertama dari agenda balas dendam. Langkah kedua atau langkah terakhir sudah tersusun di kepalaku. Hanya pelaksanaannya membutuhkan persiapanku, baik mental atau fisik, serta waktu yang tepat. Yang jelas langkah pertama ini aku nilai berhasil. Ricky sama sekali berubah, menjadi pendiam. Tak pernah lagi bicara denganku. Jangankan bicara, melihat mukaku pun seperti ketakutan.

***

Waktu yang kutunggu pun hampir tiba, setelah Mas Adi menyetujui rencanaku pindah ke Semarang menyusul dia. Sebelum dia setuju memang terjadi 'diskusi' yang cukup seru.

"Kenapa sih kamu tinggalin kerja yang udah enak ini?" tanyanya.

"Habis, Mas belum tentu bisa ke sini tiap minggu." jawabku. Baru kali ini aku menyembunyikan sesuatu dari Mas Adi. Aku terpaksa tidak berterus terang mengatakan alasanku yang sebenarnya. Yaitu menghindar dari Pak Anton sekaligus membalas dendam.

"Itu kan awalnya aja, mulai Maret nanti Mas bisa kok tiap minggu ke Jakarta."

"Maret masih lama, pengennya sekarang ini tiap minggu ketemu ama Mas."

"Kenapa, kangen ya ama mas?" pipiku diciumnya.

"Nggak, cuman kangen sama ini..." kuelus penisnya.
Lalu Mas Adi menubrukku hingga aku terlentang. Saat berikutnya dia menelanjangiku. 'Diskusi'nya break dulu. Ada selingan nikmat : persetubuhan.

"Kamu nggak ada masalah dengan keluarga Anton, kan?" tanyanya. Tubuh Mas Adi masih menelingkupi tubuhku, bahkan kelamin kami pun masih 'berhubungan'. Tadi kami sepakat untuk melakukan hubungan seks 'dengan sebenar-benarnya'. Artinya, Mas Adi tak perlu mencabut menjelang puncak. Mas Adi berejakulasi di dalam tubuhku. Sungguh suatu sensasi baru. Merasakan pengalaman baru bagaimana benda hangat itu berdenyut-denyut di dalam sana. Kalau ternyata benih itu 'jadi', ya urusan nanti lah.

"Nggak ada masalah apa-apa kok."

"Trus kamu nanti kerja di mana?"

"Kerja di rumah sakit ajalah. Lebih enak kaya'nya."

"Katanya dulu lebih enak jadi baby sitter."

"Iya, dulu. Sekarang lain. Ntar bantuin Narti bikin surat-surat lamaran ya, mas."

"Okelah, kalau mau kamu begitu."

"Bener nih, mas setuju?"

"Iya."

"Nggak nyesel?"

"Nyesel apa?"

"Ntar ketahuan punya simpenan di Semarang." candaku.

Digigitnya buah dadaku. "Rupanya itu ya alasanmu."

***

Minggu pagi itu, aku sudah siap. Semua pakaianku sudah kumasukkan ke dalam koper kecil, dan barang-barang lainnya telah masuk ke tas jinjing. Rasanya seluruh benda milikku telah aku kemas, kecuali sampul berisi uang dan selembar kertas dari Pak Anton dulu, sengaja aku rekatkan ke cermin hias dengan selotape.
Kukunci pintu kamarku dan kuncinya aku bawa. Mas Adi dan temannya sudah siap mengantarku ke stasiun Gambir dengan mobil kakaknya. Dia sekarang parkir di depan rumah. Sengaja tak kuminta dia masuk, alasanku agar tak berlama-lama pamitnya. Pagi ini, aku dan Mas Adi akan ke Semarang dengan KA. Kubawa 2 tas itu ke depan, di mana Pak dan Bu Anton duduk-duduk minum teh.

"Ibu boleh check isi tas-tas ini." kataku sambil membuka koper dan tasku lebar-lebar. Supaya dia yakin aku tak membawa benda-benda bukan milikku.

"Tak perlu, Ti, aku percaya kamu. Kamu sudah pikirkan benar?" tanya Bu Anton.

"Sudah, Bu."

"Terus terang, Ibu menyayangkan keputusanmu. Ibu inginnya kamu tetap di sini."

"Saya sudah putuskan, Bu."

"Jujur saja Ti ya.
Ada apa sebenarnya?"

"Nggak ada apa-apa, Bu. Ini hanya demi masa depan saya bersama Mas Adi." Ekor mataku menangkap Pak Anton sedang menatapiku.

"Toh dengan kerja di sini tak ada masalah dengan pacarmu, kan?"

"Lebih baik kalau saya tinggal satu kota dengan tunangan saya, Bu."

"Atau ada masalah lain, gaji misalnya?"

"Nggak ada masalah dengan gaji."

"Anak-anak, Bi Ijah atau Bang Hasan?"

"Sama sekali tidak."

"Lalu apa?"

"Ibu benar-benar ingin tahu?"

"Iya dong."

Saatnya mulai serangan. "Ibu bisa tanya ke Bapak!" kataku dengan nada rada tinggi dan menatap mata Pak Anton.

Mata Bu Anton terbelalak. Ditatapnya suaminya, lalu pindah memandangku. Ke suaminya lagi. Berganti-ganti. "Kalian... berdua...?!" katanya kemudian. "A-aku... tak percaya..." kata Bu Anton terbata-bata.

Saatnya melancarkan serangan terakhir. "Sudah saya duga Ibu tak akan percaya. Ibu ingat waktu di Bandung saya ngotot ingin ikut Ibu ke Mall?"

Bu Anton hanya melongo.

"Silakan Ibu ke kamar saya, lihat di cermin.
Ini kuncinya." kuserahkan kunci kamarku ke Bu Anton.

"Kalian tunggu di sini." Bu Anton mengambil kunci dari tanganku dan bergegas ke belakang, menuju kamarku.

Aku juga bergegas mengangkut tas-tasku dan melangkah keluar rumah. Sebelum keluar pintu, aku sempat 'menghadiahkan' senyuman kepada wajah pucat Pak Anton. Senyum kemenangan. Aku menuju mobil, Mas Adi membantuku mengangkat koper. Lalu kami berangkat meninggalkan rumah keluarga Anton menuju stasiun Gambir.

Sebentar lagi akan terjadi 'perang baratayuda' antara suami-isteri Anton. Setumpuk uang yang tak berkurang sesenpun dan secarik kertas tulisan tangan Pak Anton yang berisi ajakan ke kamar 509, serta 'alibi'ku ikut Bu Anton pada hari dan jam itu, telah menjelaskan semuanya.